"Contohnya dengan PBB, tata upacara militer, dan penghormatan militer. Itu dilakukan untuk melatih kekompakan dan kedisiplinan mereka," katanya.
TNI Ungkap Alasan Akses Ponsel Peserta Latsar Kopdes Dibatasi

- TNI menjelaskan pembatasan akses ponsel peserta Latsar Kopdes dilakukan agar fokus belajar terjaga, terutama bagi generasi muda yang mudah terdistraksi oleh media sosial.
- Peserta kini diizinkan menghubungi keluarga satu jam setiap hari Minggu, sementara permintaan komunikasi khusus seperti ulang tahun dapat dipertimbangkan oleh pihak satuan pendidikan.
- Kemhan menyesuaikan latihan dengan menghapus kegiatan fisik siang hari dan aktivitas militer taktis, menggantinya dengan latihan baris berbaris pagi-sore untuk menjaga disiplin tanpa risiko panas ekstrem.
Jakarta, IDN Times - Salah satu yang dikeluhkan para peserta pendidikan bela negara dan manajerial Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih (KDKMP), yakni akses terhadap telepon seluler dibatasi.
Usai lima peserta SPPI meninggal saat mengikuti latihan dasar militer, akun media sosial Kementerian Pertahanan (Kemhan) pun digeruduk oleh warganet. Mereka meminta agar akses ke telepon seluler diberikan lebih sering agar bisa mengetahui kabar anggota keluarganya.
"Kemhan, dimohon dengan sangat untuk alat komunikasi para peserta mungkin diberikan kelonggaran. Agar kami para keluarga yang menunggu di rumah dengan jarak cukup jauh bisa merasa aman dan tenang. Karena berita yang telah tersebar di media membuat saya sangat khawatir dengan kondisi istri di sana. Begitu pun keluarga yang lain mungkin memiliki kekhawatiran yang sama," ungkap warganet yang dilihat dari kolom komentar akun medsos Kemhan, dikutip Selasa (30/6/2026).
"Kepada para pengambil kebijakan, dengan sangat hormat agar HP para peserta didik dibagikan. Dengan adanya informasi para peserta latsarmil KDKMP dan KNMP yang meninggal dunia, kami keluarga peserta menjadi sangat khawatir dengan keadaan anggota keluarga kami," tutur warganet lainnya.
Keluhan itu direspons oleh Kementerian Pertahanan. Di dalam perubahan format latihan dasar militer, peserta dibolehkan mengakses telepon seluler.
Komandan Satuan Pendidikan Kesehatan Pusat Kesehatan TNI AD, Kolonel Ckm Said Jauhari membenarkan adanya pembatasan akses komunikasi peserta ke keluarga. Namun, usai dilakukan evaluasi, peserta kini boleh menghubungi keluarga satu kali dalam satu pekan.
"Ada memang (pembatasan akses ke telepon). Itu memang ada aturannya, tidak boleh pakai ponsel dan kini diberikan setiap hari minggu. Pada saat mereka istirahat tiap minggu (ponsel diberikan). Kalau yang lain kan ada kegiatan pesiar. Sementara, mereka kan tidak ada kegiatan pesiar karena lokasinya jauh. Pesiar pun juga mau ke mana? Jadi, kami beri kebijakan untuk berkomunikasi dengan keluarga, pacar atau suaminya," tutur Said di Kramat Jati, Jakarta Timur.
1. Akses ke ponsel dibatasi agar tidak mengganggu konsentrasi pendidikan

Said menjelaskan, alasan di balik pembatasan akses ke telepon seluler agar peserta bisa lebih fokus ke materi pendidikan. Apalagi para peserta masuk ke dalam generasi Z yang familiar dengan media sosial.
"Jadi, kalau pegang handphone, konsentrasi belajarnya jadi berkurang. Nanti, dia main handphone aja kerjanya," tutur Said.
Meski begitu, peserta akan mendapatkan akses lebih luas ke dunia maya ketika sudah masuk ke pembelajaran dengan tema manajerial koperasi. Pendidikan manajerial koperasi berlangsung selama 15 hari dan dimulai pada 17 Juli 2026.
"Nanti, pada saat manajerial mereka harus mengakses internet tuh. Nah, itu akan diberikan, tapi selama latihan awal ini ya mereka dibatasi komunikasinya," kata perwira menengah di TNI AD itu.
2. Akses komunikasi hanya satu jam di hari Minggu

Said mengatakan, meski diberi akses telepon seluler, tetapi waktu komunikasi hanya bisa 1 jam. Ia tak menampik ada permintaan dari keluarga yang masuk ke nomornya untuk berkomunikasi di momen khusus seperti ulang tahun. Permintaan itu juga akan diakomodir oleh satuan pendidikan.
"Seperti kemarin ada anaknya ulang tahun, gitu kan. Boleh gak dikirimkan kue. Saya sampaikan ya boleh," ujar dia.
Selain itu, ia juga sering merespons pertanyaan dari keluarga yang menanyakan kondisi anggota keluarganya di satuan pendidikan. Hal itu bisa terjadi karena peserta menyerahkan nomor pelatih dan komandan satuan kepada keluarga.
"Kalau hanya sekedar bertanya, gimana kondisi anaknya di satuan pendidikan ya kami sampaikan anaknya dalam keadaan sehat. Nanti, hari Minggu bisa berkomunikasi (dengan ponsel)," tutur dia.
3. Kemhan menghapus latihan di lapangan pada siang hari

Penyesuaian lain yang dilakukan, yakni menghapus latihan fisik lapangan di siang hari. Latihan fisik yang tersisa untuk dilakukan hanya berupa latihan baris berbaris atau PBB.
Komandan Satuan Pendidikan Kesehatan Pusat Kesehatan TNI AD, Letnan Kolonel Ckm Said Jauhari mengatakan penghapusan latihan fisik lapangan di siang hari untuk menghindari cuaca panas bagi peserta.
"PBB (latihan baris berbaris) ada teori dan praktik. Karena perubahan ini, praktiknya dilakukan pada pagi dan sore hari sehingga menghindari sengatan panas," kata Said.
Lantaran hal itu, penjelasan teori mengenai aktivitas baris berbaris disampaikan di dalam kelas. Dengan begitu, baris berbaris bisa dilakukan dengan lebih kompak. Hal lain yang dilakukan sebagai bentuk penyesuaian yakni menghapus segala aktivitas mengenai militer taktis. Kegiatan yang dilakukan di lapangan hanya ditujukan untuk membina disiplin.
Perubahan format latihan itu dilakukan sesuai dengan perubahan nama kegiatan yakni pembekalan bela negara dan manajerial. Berdasarkan keterangan Said, ada 229 peserta yang digembleng di Pusdikkes Pusat Kesehatan AD.
Semua peserta itu merupakan perempuan. Sebanyak 48 peserta di antaranya sudah menikah. Pendidikan yang berjalan di Pusdikkas Pusat Kesehatan TNI AD sudah berlangsung selama tiga pekan.
















