Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Erdogan Minta Turki Tak Lagi Disisihkan di Pertahanan Eropa

Erdogan Minta Turki Tak Lagi Disisihkan di Pertahanan Eropa
Erdogan menghadiri KTT internasional pada (9/11). (instagram.com/rterdogan)
Intinya Sih
  • Erdogan menegaskan Turki ingin peran lebih besar dalam pertahanan Eropa dan meminta penghapusan hambatan perdagangan industri militer antaranggota NATO menjelang KTT NATO di Istanbul.
  • Aturan Uni Eropa melalui skema SAFE membatasi akses industri pertahanan Turki, sementara ketegangan dengan Yunani dan belum adanya kesepakatan keamanan menghambat partisipasi Ankara.
  • Hubungan Turki-AS mulai membaik setelah sanksi terkait pembelian S-400, dengan sinyal dukungan baru dari Presiden Trump untuk proyek jet tempur generasi kelima KAAN.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) North Atlantic Treaty Organization (NATO), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meminta negaranya mendapat peran lebih besar dalam arsitektur pertahanan Eropa. Di hadapan delegasi parlemen dari 32 negara anggota NATO di Istanbul pada Senin (29/6/2026), Erdogan menyampaikan Ankara ingin dilibatkan dalam seluruh inisiatif keamanan di benua tersebut.

Erdogan mengatakan kontribusi pertahanan Turki masih kerap luput dari perhatian negara-negara sekutu.

“Kontribusi Turki yang tidak tergantikan terhadap keamanan Eropa kadang-kadang diabaikan,” kata Erdogan, dikutip Asharq Al-Awsat.

Erdogan juga meminta hambatan perdagangan industri pertahanan di antara negara anggota NATO dihapus agar pembagian beban antarsekutu berjalan lebih adil. Turki masih menghadapi sentimen negatif terkait kebijakan luar negerinya, meski letak geografis dan kekuatan militernya tetap menjadi faktor penting bagi keamanan Eropa dan Timur Tengah.

1. Aturan Uni Eropa batasi akses industri pertahanan Turki

Bendera Uni Eropa
ilustrasi bendera Uni Eropa (pexels.com/Dušan Cvetanović)

Keinginan Ankara itu terbentur aturan Uni Eropa (UE) melalui skema pinjaman pertahanan Security Action for Europe (SAFE) senilai 150 miliar euro (setara Rp2,94 kuadriliun). Skema tersebut membatasi pasokan komponen dari perusahaan di luar UE, termasuk Turki, hingga maksimal 35 persen dari total biaya proyek sehingga menjadi hambatan bagi industri manufaktur militer Ankara yang tengah berkembang dan ingin memasuki pasar Eropa.

Juru bicara Komisi Eropa Thomas Regnier menjelaskan akses yang lebih luas bagi Turki baru dapat diberikan apabila terdapat perjanjian kemitraan keamanan bilateral serta persetujuan bulat dari 27 negara anggota UE. Persyaratan tersebut masih belum terpenuhi.

Di sisi lain, Yunani menyatakan berpeluang memblokir keikutsertaan Turki dalam SAFE karena ketegangan geopolitik di Laut Aegea masih berlangsung.

2. Jalur kerja sama pertahanan Turki tetap menjadi sorotan

Bendera Turki
Bendera Turki (pexels.com/Engin Akyurt)

Peneliti European Policy Centre, Demir Murat Seyrek, menjelaskan keikutsertaan dalam SAFE merupakan salah satu jalur agar Turki diakui sebagai aktor strategis utama. Ia juga menyebut tujuan tersebut dapat dicapai melalui mekanisme kelembagaan baru yang menghubungkan UE, Turki, dan NATO.

Seyrek mengingatkan bahwa kerja sama pertahanan tetap harus sejalan dengan nilai-nilai yang dianut Eropa.

“Demokrasi, supremasi hukum, dan kebebasan mendasar tidak dapat dipisahkan dari kerja sama pertahanan. Mendukung kerja sama keamanan sambil mengabaikan kemunduran demokrasi akan merusak kredibilitas Uni Eropa dan nilai-nilai Eropa,” kata Seyrek, dikutip Euractiv.

Ketua Parlemen Turki Numan Kurtulmuş mengkritik embargo pertahanan sepihak yang diberlakukan sebagian anggota NATO karena dinilai bertentangan dengan prinsip aliansi. Sementara itu, Perwakilan Tinggi UE untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Kaja Kallas menyebut KTT di ibu kota Turki sebagai peristiwa bersejarah serta menilai Ankara memegang peran penting dalam isu migrasi dan stabilitas kawasan.

3. Hubungan Turki dan AS perlihatkan tanda pemulihan

Bendera Amerika Serikat
ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Turki merupakan negara dengan angkatan bersenjata terbesar kedua di NATO setelah Amerika Serikat (AS). Pengembangan industri militernya sempat terdampak sanksi Washington setelah Ankara membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia sehingga Turki dikeluarkan dari program jet tempur F-35 oleh pemerintah AS.

Menjelang KTT NATO, hubungan kedua negara mulai menunjukkan sinyal pemulihan. Presiden AS Donald Trump menyampaikan akan memberikan sesuatu yang membuat Erdogan sangat senang saat menghadiri pertemuan tersebut.

Sejumlah pengamat militer menilai janji Trump itu kemungkinan berupa persetujuan pengiriman mesin F110 buatan AS yang dibutuhkan Turki untuk pengembangan jet tempur generasi kelima KAAN.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More