3 Pekan Dirawat di RS, Akhirnya Ismail Bertemu Keluarga di Tanah Suci

Madinah, IDN Times — Keramaian Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz (AMAA), Madinah, seolah tak terlihat oleh Ismail Uluo. Jemaah haji berusia 78 tahun asal Gorontalo itu duduk lesu di atas kursi rodanya, terpaku menatap pintu keberangkatan. Di sekelilingnya, ratusan jemaah dari Kloter UPG 28 berjalan teratur menuju area imigrasi untuk pulang ke Tanah Air pada Sabtu (20/6/2026).
Namun, Ismail tak kunjung beranjak. Bersama petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), matanya nanar mencari wajah yang paling ia rindukan: anak dan menantunya. Sambil berharap mereka juga mengenali wajahnya yang tak lagi sesegar saat menginjakkan kaki di Tanah Suci sekitar empat puluh hari yang lalu.
Terpisah karena dirawat di rumah sakit

Sudah sekitar tiga pekan ia terpisah dari keluarganya. Momen perpisahan itu bermula pada puncak haji di Mina. Ismail tiba-tiba jatuh sakit, mengalami sesak napas akut, dan kehilangan kemampuannya untuk berdiri—padahal ia masih bisa berjalan saat baru tiba dari Indonesia.
Ismail pun harus dievakuasi dan dirawat intensif di Rumah Sakit Mina. “Karena sebelumnya masuk di rumah sakit Mina, kemudian seminggu di sana dirujuk lagi ke Rumah Sakit Suadi Germany,” jelas putri Ismail, Lisnawati Uluo.
Selama masa perawatan itu, Lisnawati dan suaminya, Muh. Nursaliman, hanya bisa melihat Ismail sesekali pada jam besuk yang diizinkan. “Ketemunya nanti sudah setelah dari dua minggu di Mina baru dirujuk ke rumah sakit hospital (Saudi German) itu,” tambah Lisnawati. “Di rumah sakit itu dikirim jadwal jadwal kunjungan.”
Reuni kecil di terminal bandara

Setelah lima belas menit menunggu dalam kecemasan, senyum Ismail akhirnya merekah. Dari kejauhan, sosok Lisnawati dan Nursaliman muncul pelan-pelan menghampirinya. Keduanya langsung berkumpul di depan kursi roda Ismail, menanyakan kondisinya dengan penuh kelegaan.
Reuni keluarga di sudut bandara ini begitu mengharukan. Saat Ismail memberi isyarat bahwa tubuh rentanya kedinginan, sang anak dan menantu dengan sigap langsung membongkar koper di tengah keramaian. Mereka mencari selimut, kain ihram, atau apa pun yang bisa memberikan kehangatan bagi sang ayah.
“Alhamdulillah sudah ketemu sama keluarga setelah tiga minggu,” ucap Ismail perlahan. Saat ditanya bagaimana perasaannya setelah akhirnya bisa berkumpul kembali dan bersiap pulang ke Indonesia, ia hanya bisa bersyukur, “Alhamdulillah.”
Ibadah haji dibadalkan menantu

Tantangan bagi keluarga ini memang tidak mudah. Di tengah kewajiban menunaikan rukun haji, Lisnawati dan Nursaliman harus bolak-balik ke rumah sakit. “Kebetulan di situ ada dokter orang Indonesia, jadi dibikin grup (whatsApp). Kalau mau nelepon bisa video call,” tutur Lisnawati tentang bagaimana ia memantau kondisi ayahnya selama dirawat.
Karena Ismail tak mampu melanjutkan ibadahnya, sang menantulah yang kemudian mengambil alih kewajiban tersebut. “Kemarin di Mina sempat lontar jumrah, di(lontar) sendiri atau dibadalkan?” tanya petugas. “Dibadalkan,” jawab Ismail. Lisnawati kemudian membenarkan, “Iya, (dibadalkan oleh) Bapaknya (Nursaliman).”
Meski sempat melewati masa kritis hingga dipasangi selang di lambung, kondisi Ismail kini sudah jauh membaik dan siap untuk terbang ke Gorontalo. “Kondisi bapak ini alhamdulillah sudah lumayan membaik,” ujar Lisnawati penuh syukur.
Bagi keluarga Uluo, kepulangan kali ini bukan sekadar perjalanan pulang kampung biasa. Ini adalah momen perayaan kehidupan, sebuah reuni setelah ujian berat di Tanah Suci yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.


















