Menhut: RI Siap Pemimpin Solusi Iklim Berbasis Hutan di Tingkat Global

- Indonesia siap memimpin solusi iklim berbasis hutan di tingkat global dengan fokus pada tata kelola kehutanan, pasar karbon berintegritas tinggi, dan inovasi pembiayaan konservasi.
- Pemerintah berhasil menurunkan luas kebakaran hutan secara signifikan serta memperluas akses perhutanan sosial, menjadikan sektor kehutanan kunci pencapaian target FOLU Net Sink 2030.
- Menhut memperkenalkan langkah inovatif pembiayaan konservasi melalui pembentukan Satgas Pembiayaan Inovatif Taman Nasional untuk mengembangkan instrumen seperti kredit karbon dan investasi restorasi ekosistem.
Jakarta, IDN Times - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni, mengatakan Indonesia siap untuk menjadi pemimpin solusi iklim berbasis hutan di tingkat global.
Ia menyebut, Indonesia berkomitmen memimpin transisi global dari ambisi iklim menuju implementasi nyata melalui penguatan tata kelola kehutanan, pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi, serta inovasi pembiayaan konservasi.
Hal itu ia sampaikan dalam forum Indonesia Climate Leadership Luncheon yang diselenggarakan di Houses of Parliament, Westminster, London, dalam rangkaian London Climate Action Week 2026.
“Indonesia tidak hanya ingin menjadi bagian dari transisi global menuju ekonomi rendah karbon, tetapi juga turut memimpin transformasi tersebut melalui solusi iklim berbasis alam yang kredibel, berintegritas, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Menhut dalam keterangan tertulis Kemenhut, Jumat (26/6/2026).
1. Hutan Indonesia pilar utama pencapaian target Indonesia FOLU Net Sink 2030

Menhut menjelaskan, Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam pengelolaan hutan dan aksi iklim. Salah satu capaian adalah keberhasilan menurunkan luas kebakaran hutan dan lahan dari 2,61 juta hektare pada tahun 2015 menjadi sekitar 359 ribu hektare pada tahun 2025 melalui penguatan pencegahan, pemantauan terpadu, pengelolaan gambut, operasi lapangan, dan penegakan hukum.
Selain itu, Program Perhutanan Sosial telah memberikan akses kelola lebih dari 8,3 juta hektare kepada masyarakat dengan manfaat bagi sekitar 1,4 juta kepala keluarga, sementara pengakuan hutan adat terus dipercepat sebagai bagian dari penguatan peran masyarakat dalam menjaga hutan.
“Hutan Indonesia merupakan pilar utama pencapaian target Indonesia FOLU Net Sink 2030, yang akan menjadikan sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya sebagai penyerap emisi bersih pada tahun 2030,” ujar Menhut.
2. Indonesia terus memperkuat tata kelola pasar karbon

Untuk mendukung tujuan tersebut, Pemerintah Indonesia terus memperkuat tata kelola pasar karbon melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 serta Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 dan Nomor 7 Tahun 2026 yang memberikan kepastian regulasi bagi kegiatan karbon di sektor kehutanan.
Pernyataan Menteri Kehutanan memperoleh sambutan sangat positif dan antusias dari para peserta forum, yang merupakan pengumuman langkah besar Indonesia dalam pengembangan pasar karbon kehutanan.
“Pada tanggal 6 Juli mendatang, Kementerian Kehutanan akan menerbitkan persetujuan dan memfasilitasi penerbitan kredit karbon kehutanan dengan volume melebihi 30 juta ton CO₂e. Ini merupakan salah satu tonggak paling signifikan dalam pengembangan pasar karbon hutan Indonesia dan menunjukkan komitmen kami untuk menerjemahkan ambisi kebijakan menjadi peluang pasar yang nyata,” ujar Menhut.
3. Menhut memperkenalkan inovatif Indonesia dalam pembiayaan konservasi

Dalam kesempatan itu, Menhut memperkenalkan berbagai langkah inovatif Pemerintah Indonesia dalam pembiayaan konservasi, termasuk pembentukan Satuan Tugas Pembiayaan Inovatif Taman Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026.
Gugus tugas tersebut sedang mengembangkan berbagai instrumen pembiayaan inovatif seperti pembiayaan karbon, kredit biodiversitas, investasi restorasi ekosistem, wisata alam berkelanjutan, dan blended finance untuk mendukung pengelolaan 57 taman nasional Indonesia.
“Indonesia dan Inggris memiliki peluang besar untuk memperkuat kemitraan dalam bidang keuangan berkelanjutan, infrastruktur pasar, tata kelola, dan inovasi pembiayaan iklim. Kemitraan tersebut diharapkan dapat mempercepat perlindungan alam, mobilisasi investasi hijau, serta penciptaan peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Menhut.








![[QUIZ] Tebak Nama Presiden Negara Peserta Piala Dunia 2026 Saat Ini, Bisa Jawab?](https://image.idntimes.com/post/20260626/upload_eb303502a2c25570fd881db56061c870_42c4a4ab-ef89-471a-80da-777dc3f4c599.jpg)









