Banjir Tewaskan 30 Orang, Afrika Selatan Tetapkan Bencana Nasional

- Provinsi Limpopo alami kerugian infrastruktur hingga Rp4 triliun.
- Ratusan turis dievakuasi dari Taman Nasional Kruger.
- Cuaca ekstrem juga menghantam Mozambik dan Zimbabwe.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Afrika Selatan mengumumkan status bencana nasional pada Minggu (18/1/2026). Deklarasi dikeluarkan menyusul banjir bandang yang melanda wilayah utara negara itu akibat hujan deras selama berminggu-minggu.
Sedikitnya 30 orang tewas dan infrastruktur mengalami kerusakan parah di provinsi Limpopo dan Mpumalanga. Penetapan status darurat memungkinkan pemerintah pusat memobilisasi sumber daya nasional guna mengoordinasikan respons penyelamatan secara menyeluruh.
1. Provinsi Limpopo alami kerugian infrastruktur hingga Rp4 triliun

Tim penyelamat masih terus melakukan pencarian terhadap korban hilang di tengah puing-puing bangunan. Salah satu korban hilang adalah bocah lima tahun bernama Siyanda Baloyi, yang diduga tersapu arus deras saat rumahnya terendam banjir di Limpopo. Seluruh korban jiwa yang terkonfirmasi sejauh ini berasal dari provinsi Limpopo dan Mpumalanga.
Kerusakan fisik akibat terjangan air dilaporkan sangat parah di berbagai distrik. Lebih dari 1.000 rumah rusak atau hancur total di provinsi Limpopo. Presiden Cyril Ramaphosa telah meninjau langsung lokasi bencana dan mengonfirmasi kehancuran di wilayah itu.
"Ada 36 rumah yang baru saja lenyap dari muka bumi," kata Ramaphosa, dilansir Al Jazeera.
Pemerintah provinsi Limpopo menyebut estimasi kerusakan infrastruktur, termasuk jalan dan jembatan yang putus, bernilai sekitar 240 juta dolar AS (sekitar Rp4 triliun).
2. Ratusan turis dievakuasi dari Taman Nasional Kruger

Sektor pariwisata Afrika Selatan ikut lumpuh akibat cuaca buruk. Pengelola Taman Nasional Kruger yang terkenal di dunia terpaksa mengevakuasi antara 300 hingga 600 turis serta staf dari kamp-kamp yang terendam air.
Meskipun sempat ditutup total demi keselamatan pengunjung, pihak taman nasional mulai membuka kembali akses secara bertahap. Wisatawan tetap diminta waspada karena sejumlah besar area di dalam cagar alam itu masih belum bisa diakses akibat jalan yang rusak atau tergenang, dilansir The Straits Times.
Intensitas hujan yang tidak biasa di kawasan Afrika bagian selatan dikaitkan dengan fenomena iklim La Nina. Layanan cuaca setempat telah mengeluarkan peringatan bahwa kondisi ini kemungkinan akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Afrika Selatan menghadapi rangkaian cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Banjir kali ini mengingatkan publik pada bencana serupa di provinsi KwaZulu-Natal pada 2022 yang menewaskan lebih dari 400 orang.
3. Cuaca ekstrem juga menghantam Mozambik dan Zimbabwe

Cuaca ekstrem tidak hanya menghantam Afrika Selatan, tapi juga negara tetangga seperti Mozambik dan Zimbabwe. Total kematian di kawasan Afrika bagian selatan dilaporkan telah melampaui 100 orang sejak hujan intensif dimulai akhir tahun lalu.
Mozambik menjadi wilayah dengan dampak kemanusiaan paling parah di mana lebih dari 173 ribu warga terdampak secara langsung. Banyak warga terisolasi akibat meluapnya sungai-sungai besar dan terpaksa bertahan hidup di atas atap rumah atau pepohonan sambil menunggu evakuasi.
Sebuah kisah memilukan muncul dari provinsi Gaza, di mana seorang wanita harus melahirkan dalam kondisi darurat di atas atap rumah. Keluarga wanita itu terjebak banjir selama empat hari tanpa akses ke bantuan medis maupun logistik.
"Kami sudah di sini selama 4 hari. Keponakan saya lahir kemarin sekitar jam 11 malam, dan kami masih belum mendapatkan bantuan apa pun untuk bayi dan ibunya," tutur kerabat korban, Chauna Macuacua, dilansir France 24.
Bencana di Mozambik turut menimpa delegasi pejabat dari Afrika Selatan yang sedang berkunjung. Sebuah kendaraan yang membawa pejabat pemerintah kota Ekurhuleni, Andile Mngwevu, tersapu banjir bandang di wilayah Chokwe, sekitar 200 kilometer dari Maputo. Hingga kini, nasib Mngwevu dan penumpang lainnya belum diketahui.

















