Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

AS Ancam Serang Pembangkit Listrik Iran Jika Terus Tutup Selat Hormuz

AS Ancam Serang Pembangkit Listrik Iran Jika Terus Tutup Selat Hormuz
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)
Intinya Sih
  • Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika negara itu tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
  • Iran menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS dan Israel, menyebabkan pasokan minyak global terganggu dan harga minyak melonjak tajam.
  • Meski Iran mulai mengizinkan kapal dari beberapa negara melintas, Selat Hormuz tetap ditutup bagi AS dan Israel karena situasi keamanan masih tegang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika mereka terus menutup Selat Hormuz. Ancaman tersebut disampaikan langsung oleh Presiden AS, Donald Trump, lewat laman media sosialnya pada Sabtu (21/3/2026).

“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz tanpa ancaman dalam waktu 48 jam dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PLTU mereka. Dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu!” kata Trump.

Ancaman serangan terhadap pembangkit listrik ini bertujuan untuk mengganggu aktivitas warga Iran. Sebab, Trump ingin warga Iran ikut merasakan penderitaan warga-warga di negara Timur Tengah lainnya yang terkena serangan mereka.

1. Iran menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS dan Israel

Selat Hormuz.
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

Iran sendiri menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu. Sejak saat itu, Iran mulai meningkatkan pengamanan dan melarang kapal-kapal dagang, termasuk kapal minyak, untuk berlayar di sana. 

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran ini membuat pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global terhambat. Sebab, kapal-kapal jadi tidak bisa mengekspor minyak dari kawasan tersebut ke pasar global. 

Hambatan ini praktis membuat harga minyak global melambung tinggi. Beberapa waktu lalu, harga minyak global sempat mencapai 120 dolar AS atau sekitar Rp2 juta per barel. Itu merupakan kenaikan harga tertinggi yang pernah terjadi dalam sejarah.

2. Dunia mengecam penutupan Selat Hormuz oleh Iran

Bendera Iran sedang berkibar.
potret bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati)

Aksi penutupan Selat Hormuz oleh Iran ini telah dikecam oleh berbagai negara di dunia. Pada Kamis (19/3/2026) lalu, misalnya, sebanyak tujuh negara di dunia yang terdiri dari Inggris, Jerman, Belanda, Italia, Prancis, Jepang, dan Kanada merilis pernyataan yang mengecam penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Ketujuh negara tersebut juga mengecam serangan Iran yang menargetkan fasilitas-fasilitas minyak di Timur Tengah. Sebab, Iran pada Kamis juga kembali menyerang fasilitas minyak Ras Laffan yang ada di Qatar sebagai balasan atas serangan Israel ke ladang minyak South Pars milik mereka. 

“Kami mengutuk keras serangan baru-baru ini yang dilakukan Iran terhadap kapal-kapal dagang tak bersenjata di Teluk, serangan terhadap infrastruktur sipil termasuk instalasi minyak dan gas, dan penutupan Selat Hormuz secara de facto oleh pasukan Iran,” demikian bunyi pernyataan bersama tersebut, seperti dilansir The Strait Times.

3. Iran sudah mengizinkan kapal dari negara-negara tertentu untuk berlayar di Selat Hormuz

Kapal sedang berlayar di laut.
ilustrasi kapal dagang (pexels.com/Oleksiy Konstantinidi)

Meski begitu, Iran sebetulnya kini sudah mengizinkan kapal dari negara-negara tertentu untuk berlayar di Selat Hormuz. Namun, Iran tetap menutup selat tersebut untuk AS dan Israel karena mereka merupakan negara yang memicu terjadinya perang.

Dilansir Jerusalem Post, agar bisa berlayar di Selat Hormuz, kapal-kapal harus meminta izin kepada militer Iran terlebih dahulu. Ini dilakukan karena Iran masih memperketat pengamanan di sana.

Meski sudah diizinkan Iran, banyak kapal-kapal dagang, termasuk kapal minyak, yang hingga kini masih enggan berlayar di Selat Hormuz. Sebab, situasi di selat tersebut masih belum aman karena perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlanjut.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More