Iran Bantah Ada Dialog dengan Trump, Sebut Klaim AS Hoaks

- Pemerintah Iran membantah klaim Presiden AS Donald Trump soal adanya pembicaraan damai, menegaskan tidak ada negosiasi langsung dan posisi Teheran tetap konsisten terhadap konflik yang berlangsung.
- Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut klaim negosiasi sebagai hoaks yang digunakan untuk memanipulasi pasar global serta menegaskan tuntutan Iran terhadap pihak agresor.
- Iran memperingatkan akan memberikan respons keras terhadap setiap serangan dan menunjukkan sikap solid di bawah kepemimpinan tertinggi, menandakan belum ada tanda pelunakan di tengah ketegangan kawasan.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut, adanya pembicaraan antara kedua negara terkait konflik yang sedang berlangsung. Teheran menegaskan, tidak ada negosiasi yang dilakukan, sekaligus menegaskan sikapnya tidak berubah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan, posisi Iran terkait Selat Hormuz dan syarat penghentian perang tetap konsisten. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Penegasan serupa juga datang dari Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia bahkan menyebut klaim adanya negosiasi sebagai informasi yang tidak benar alias hoaks.
Perbedaan pernyataan antara Washington dan Teheran ini semakin memperlihatkan ketidakpastian arah konflik, sekaligus mempersempit peluang de-eskalasi dalam waktu dekat.
1. Iran bantah klaim negosiasi dari AS

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan tidak ada pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat. Ia menyebut posisi Iran tetap tidak berubah terkait konflik yang berlangsung.
Dalam pernyataannya, Baghaei mengatakan, “Pesan-pesan telah diterima dari beberapa negara sahabat terkait permintaan AS untuk negosiasi guna mengakhiri perang”.
Namun, ia menegaskan Iran tidak menanggapi permintaan tersebut dengan membuka dialog langsung. Sebaliknya, Teheran menyampaikan peringatan keras, demikian dikutip dari Al Jazeera, Senin (23/3/2026).
Iran, kata Baghaei, telah memberikan peringatan mengenai konsekuensi serius dari setiap serangan terhadap infrastruktur vital Iran.
2. Parlemen Iran sebut klaim AS hoaks

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperkuat bantahan tersebut. Ia secara tegas menyatakan tidak ada negosiasi yang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat.
“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta keluar dari situasi sulit yang dihadapi AS dan Israel,” tulis Ghalibaf.
Pernyataan ini menyoroti ketegangan informasi di tengah konflik, di mana narasi yang berbeda muncul dari kedua pihak.
Ghalibaf juga menegaskan bahwa Iran memiliki tuntutan yang jelas dalam konflik ini, yaitu penegakan hukuman terhadap pihak yang dianggap sebagai agresor.
3. Iran ancam respons keras

Dalam pernyataan lanjutan, Ghalibaf menegaskan, Iran menuntut hukuman yang lengkap dan penuh penyesalan bagi para agresor. Ia juga menekankan para pejabat Iran tetap solid dalam menghadapi situasi ini.
“Para pejabat Iran berdiri teguh di belakang pemimpin tertinggi dan rakyat hingga tujuan ini tercapai,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan, Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan melunak, meski tekanan internasional terus meningkat.
Dengan perbedaan klaim yang tajam antara AS dan Iran, serta sikap keras dari kedua belah pihak, situasi di kawasan masih berada dalam ketidakpastian tinggi.
















