Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Trump Tunda Serang Iran, PM Israel Netanyahu Disebut Ketar-Ketir

Trump Tunda Serang Iran, PM Israel Netanyahu Disebut Ketar-Ketir
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Intinya Sih
  • Donald Trump menunda serangan ke Iran dan membuka ruang negosiasi, langkah yang memicu kekhawatiran di Israel karena dianggap menghambat tujuan strategis terhadap Teheran.
  • Benjamin Netanyahu menghadapi dilema politik antara menjaga hubungan erat dengan Amerika Serikat dan mempertahankan narasi ancaman nuklir Iran sebagai pilar legitimasi politiknya.
  • Analis Akiva Eldar memprediksi jika ketegangan dengan Iran mereda, Israel kemungkinan akan mengalihkan fokus militernya ke Lebanon untuk menghadapi kelompok Hezbollah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membuka ruang negosiasi dengan Iran memicu kekhawatiran di Israel. Bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan lingkaran kabinetnya, langkah tersebut dinilai berpotensi menghambat tujuan utama mereka dalam konflik saat ini.

Dikutip dari Al Jazeera, analis politik Israel, Akiva Eldar menyebutkan, bagi pemerintah Israel, satu-satunya hasil yang dianggap berhasil adalah eskalasi hingga perubahan rezim di Iran. Di luar itu, dianggap sebagai kegagalan strategis.

Pernyataan ini muncul setelah Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap fasilitas energi Iran dan mengklaim adanya pembicaraan produktif dengan Teheran.

Situasi ini menempatkan Israel dalam posisi sulit—di satu sisi bergantung pada dukungan Amerika Serikat, di sisi lain menghadapi kemungkinan perubahan arah kebijakan Washington.

1. Israel khawatir negosiasi hambat target utama

Benjamin Netanyahu sedang berbicara kepada orang banyak.
potret Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (commons.wikimedia.org/DedaSasha)

Akiva Eldar menilai, langkah Trump kembali ke meja perundingan bukan kabar baik bagi Israel. Ia menegaskan, strategi Netanyahu selama ini sangat bergantung pada ancaman nuklir Iran sebagai isu utama.

“Trump kembali ke negosiasi berarti Israel tidak akan mampu menghilangkan ancaman nuklir Iran, yang telah menjadi bendera Netanyahu, klaim utamanya,” ujar Eldar, Senin (23/3/2026).

Menurutnya, isu Iran bukan sekadar kebijakan luar negeri, tetapi juga bagian dari legitimasi politik Netanyahu di dalam negeri. Karena itu, perubahan pendekatan dari Washington bisa berdampak langsung pada posisi politiknya.

Meski demikian, Eldar menilai Netanyahu tidak akan secara terbuka menentang Trump. Dukungan kuat terhadap Trump di kalangan pemilih Partai Likud membuat konfrontasi politik menjadi langkah yang berisiko.

2. Dilema Netanyahu di tengah tekanan politik

Benjamin Netanyahu
Benjamin Netanyahu (commons.wikimedia.org/www.kremlin.ru)

Di tengah dinamika ini, Netanyahu menghadapi dilema yang tidak mudah. Ia harus menjaga hubungan strategis dengan Amerika Serikat, sekaligus mempertahankan narasi politik yang telah dibangun selama ini.

Eldar menyebut, Netanyahu kemungkinan besar akan tetap mengikuti arah kebijakan Trump, meskipun tidak sepenuhnya sejalan dengan kepentingan Israel.

Ketergantungan Israel pada dukungan militer dan politik AS membuat ruang manuver pemerintah menjadi terbatas. Terlebih, Trump masih memiliki pengaruh besar di basis pendukung Netanyahu.

Situasi ini mencerminkan bagaimana keputusan di Washington dapat langsung memengaruhi strategi keamanan dan politik domestik Israel.

3. Jika perang reda, fokus bergeser ke Lebanon

dampak serangan Israel di Lebanon
dampak serangan Israel di Lebanon (User Mema435 on en.wikipedia, CC BY-SA 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0>, via Wikimedia Commons)

Eldar juga memprediksi jika konflik dengan Iran mereda, Israel kemungkinan akan mengalihkan fokus militernya ke Lebanon. Target utamanya adalah kelompok Hizbullah.

“Israel akan kembali ke kotak suara, dan Netanyahu harus mengompensasi kegagalan mendeklarasikan kemenangan di Gaza. Kita tahu Hamas kembali muncul dan bersama Iran, jadi tentara muda kita harus bertempur di perbatasan Lebanon,” ujarnya.

Pernyataan ini menunjukkan, konflik regional berpotensi bergeser, bukan berakhir. Ketegangan dengan kelompok lain yang didukung Iran tetap menjadi faktor utama dalam perhitungan keamanan Israel.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More