Belarus Bebaskan 250 Tahanan Politik usai AS Cabut Sanksi

- Belarus membebaskan 250 tahanan politik setelah mencapai kesepakatan dengan AS, yang kemudian mencabut sanksi terhadap beberapa perusahaan Belarus.
- Uni Eropa menyambut positif langkah pembebasan tersebut dan menegaskan masih banyak tahanan politik lain di Belarus yang perlu dibebaskan.
- Presiden Lukashenko menegaskan AS tidak berupaya memisahkan Belarus dari Rusia serta menolak membeli gas alam dari AS karena harga Rusia lebih murah.
Jakarta, IDN Times - Belarus resmi membebaskan 250 tahanan politik menyusul negosiasi dengan Amerika Serikat (AS). Sesuai kesepakatan ini, Washington setuju untuk mengangkat sanksi kepada beberapa perusahaan Belarus.
“Hari ini, kami membebaskan 250 individu sebagai momentum kemanusiaan signifikan dan menunjukkan komitmen presiden dalam diplomasi secara langsung. Kebebasan adalah tujuan kami. Kami menghormati rekan Lithuania yang berperan penting dalam misi ini,” tutur Misi Khusus AS di Belarus, John Coale, dikutip dari Le Monde, Jumat (20/3/2026).
Sebelumnya, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) membuka investigasi kepada pejabat Belarus atas dakwaan dari Lithuania. Sebab, sejumlah pejabat Belarus diduga terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
1. Bebaskan sejumlah aktivis penegak HAM dan jurnalis

Pembebasan tahanan politik ini menjadi salah satu perkembangan baik di Belarus. Sejumlah aktivis penegak HAM ternama yang sudah dibebaskan adalah Valentin Stefanovich, Marfa Rabkova, dan Anastasiya Loika.
Dilansir RFE/RL, Jurnalis Belsat, Andreyeva sudah dibebaskan setelah ditahan lebih dari 5 tahun karena menayangkan secara langsung kekerasan polisi. Saat ini, ia sudah berada di Lithuania untuk menemui keluarganya.
Meskipun demikian, masih ada ratusan tahanan politik lain yang masih dipenjara di Belarus. Mayoritas dari mereka ditangkap setelah demonstrasi besar-besaran menolak dugaan kecurangan pemilihan presiden 2020.
2. Uni Eropa sambut baik pembebasan ratusan tahanan politik Belarus

Menanggapi pembebasan tahanan politik ini, Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa (UE), Kaja Kallas mengatakan bahwa pembebasan ini adalah langkah nyata. Ia menyambut baik keputusan Belarus membebaskan 250 tahanan politik.
“Kami tidak dapat memalingkan diri dari individu yang seharusnya tidak pernah dipenjara sejak awal. Masih banyak di antara mereka yang dipenjara secara tidak adil di Belarus dan harus dibebaskan,” terangnya.
3. Lukashenko sebut AS tidak berniat pisahkan Belarus dan Rusia

Pada saat yang sama, Presiden Belarus, Alexander Lukashenko menyebut, AS tidak berniat untuk memisahkan Rusia dan Belarus. Menurutnya, dalam diskusi, Washington tidak pernah menyuarakan niatnya untuk aksi tersebut.
Dilansir Belta, Belarus juga mengaku tidak berniat membeli gas alam dari AS. Ia menyebut, gas alam dari Rusia jauh lebih murah dibandingkan membeli dari AS seperti yang dilakukan negara-negara Eropa yang harganya lima kali lipat.


















