Beri Peringatan Keras ke Trump, Bentrokan Berdarah Terjadi di Iran

- Grand Bazaar Teheran lumpuh, gas air mata selimuti ibu kota.
- Korban jiwa berjatuhan, jumlah pasti masih simpang siur.
- Krisis ekonomi jadi pemicu utama, Iran peringatkan Trump: "Jangan lewati garis merah".
Jakarta, IDN Times - Awal 2026 menjadi periode kelam bagi stabilitas nasional Iran. Gelombang protes yang bermula dari krisis ekonomi, kini berubah menjadi bentrokan berdarah di jantung ibu kota Iran, Teheran.
Ketegangan mencapai puncaknya pekan ini ketika aparat keamanan terlibat konfrontasi fisik dengan ribuan demonstran di kawasan bersejarah Grand Bazaar. Situasi semakin rumit dengan adanya peringatan keras dari pejabat Iran kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait isu intervensi asing.
1. Grand Bazaar Teheran Lumpuh, Gas Air Mata Selimuti Ibu Kota

Dilansir dari The Guardian, pada Selasa (6/1/2026) waktu setempat, kawasan Grand Bazaar Teheran yang biasanya menjadi denyut nadi ekonomi negara tersebut, berubah menjadi medan pertempuran. Para pedagang yang biasanya loyal kepada pemerintah, kali ini ikut serta dalam aksi mogok massal sebagai bentuk solidaritas terhadap demonstran.
Saksi mata melaporkan bahwa pasukan keamanan menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah kerumunan yang meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah. Penutupan Grand Bazaar ini dianggap sebagai sinyal bahaya bagi rezim, mengingat peran historis pasar ini dalam berbagai revolusi Iran di masa lalu.
2. Korban jiwa berjatuhan, jumlah pasti masih simpang siur

Eskalasi kekerasan tidak terhindarkan. Laporan dari NBC News menyebutkan bahwa jumlah korban tewas terus bertambah seiring dengan tindakan represif aparat dalam membubarkan massa.
Bentrokan tidak hanya terjadi di Teheran, namun juga meletus ke provinsi-provinsi lain. Organisasi HAM memperingatkan bahwa angka kematian yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan secara resmi, mengingat adanya pembatasan akses internet dan informasi yang ketat di seluruh negeri.
3. Krisis ekonomi jadi pemicu utama

Apa yang sebenarnya terjadi? Akar permasalahan dari huru-hara ini adalah kondisi ekonomi yang mencekik. Pada awal 2026, nilai mata uang Rial Iran dilaporkan terjun bebas ke titik terendah baru, memicu terjadinya hiperinflasi yang membuat harga pokok tak lagi terjangkau oleh rakyat biasa.
Subsidi pemerintah yang dicabut serta tingginya angka pengangguran membuat frustrasi publik meledak menjadi kemarahan massal di jalanan.
4. Iran Peringatkan Trump: "Jangan Lewati Garis Merah"
Di tengah kekacauan domestik, dimensi internasional turut memanaskan situasi. Pejabat tinggi Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Trump pada Jumat (2/1/2026) pekan lalu waktu setempat.
Dikutip dari The Guardian, pemerintah Iran menuduh adanya upaya intervensi asing yang menunggangi protes warga. Pejabat Iran menegaskan bahwa setiap dukungan terbuka atau ancaman intervensi dari pihak Amerika Serikat akan dianggap sebagai tindakan yang melanggar "garis merah" yang dapat memicu konsekuensi serius bagi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Peringatan ini muncul setelah adanya retorika dari pihak Barat yang mendukung aksi protes tersebut, yang dianggap oleh pemerintah Iran sebagai upaya dalam mengganggu kedaulatan negara.

















