Bioskop Inggris Batasi Kacamata Pintar Meta akibat Isu Pembajakan

- Pengelola bioskop Britania Raya sejak 20 Agustus 2026 mulai membatasi kacamata pintar berkamera, termasuk Meta, untuk mencegah pembajakan film dan menjaga kenyamanan penonton.
- UK Cinema Association menyerahkan penerapan aturan kepada masing-masing jaringan bioskop karena perekaman ilegal melalui kamera tersembunyi sulit dideteksi petugas studio.
- Pembatasan tetap mempertimbangkan manfaat aksesibilitas bagi penyandang disabilitas; pengelola dan Meta mengevaluasi penggunaan teknologi, termasuk lampu indikator otomatis saat kamera aktif.
Jakarta, IDN Times - Pengelola bioskop di Britania Raya mulai membatasi penggunaan kacamata pintar di dalam studio sejak Kamis (20/8/2026). Kebijakan ini diberlakukan untuk merespons kekhawatiran atas potensi pembajakan film dan ancaman privasi penonton.
Asosiasi Bioskop Inggris menyerahkan aturan pembatasan secara mandiri kepada masing-masing pengelola bioskop. Langkah preventif ini diambil demi menjaga integritas pemutaran film sekaligus kenyamanan pengunjung.
1. Kebijakan pembatasan kacamata pintar diserahkan ke pengelola

ilustrasi kacamata pintar yang memiliki kamera untuk mengambil foto dan merekam video (meta.com) Pembatasan ini menyasar kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan seperti Meta yang dilengkapi kamera tersembunyi. Pengelola bioskop menilai potensi perekaman ilegal semakin sulit terdeteksi secara kasat mata oleh petugas studio.
Aturan ini tidak berlaku seragam, melainkan memberikan kewenangan penuh bagi setiap jaringan bioskop untuk membatasi perangkat sesuai kebutuhan. Pembatasan serupa bahkan telah diterapkan di sektor seni pertunjukan seperti teater ATG di Inggris.
"Ini merupakan area yang berkembang dan kami terus berkoordinasi agar pendekatan anggota tetap relevan serta proporsional," kata perwakilan UK Cinema Association, dilansir The Guardian.
2. Perekaman tersembunyi kacamata pintar soroti masalah privasi

ilustrasi seseorang menggunakan kacamata pintar untuk merekam suasana jalan raya (unsplash.com/Matthew Fassnacht) Pengawasan kacamata pintar kian ketat setelah pengadilan di Inggris dan Wales melarang penggunaannya di ruang sidang pada Agustus 2026. Keputusan peradilan tersebut memicu kewaspadaan serupa di berbagai tempat umum dan tempat hiburan.
Isu privasi ini juga mendapat perhatian hukum di Jerman setelah kelompok advokasi setempat mengajukan pengaduan pidana terhadap Meta. Selain itu, para pemilik bisnis pub di Inggris turut menolak perekaman diam-diam demi melindungi kenyamanan pelanggan.
"Aturan di pub kami melarang perekaman tanpa izin, sehingga petugas pasti meminta kamera dimatikan," kata Chief Executive Wetherspoons, Tim Martin.
3. Pengelola bioskop dan Meta cari titik temu fitur aksesibilitas

ilustrasi logo Meta (unsplash.com/Mariia Shalabaieva) Di tengah isu pembajakan, kacamata pintar berteknologi AI diakui membawa manfaat aksesibilitas bagi penyandang disabilitas pendengaran maupun penglihatan. Pengelola bioskop pun berupaya memfasilitasi kebutuhan aksesibilitas tanpa mengorbankan keamanan hak cipta film.
Di sisi lain, pengembang menyertakan fitur lampu indikator otomatis saat kamera aktif untuk memberikan transparansi perekaman. Evaluasi berkala terus dilakukan agar pemanfaatan teknologi dapat berjalan selaras dengan perlindungan hak cipta.
"Masyarakat menggunakan kacamata kami karena menyediakan teknologi krusial bagi komunitas tunanetra dan penglihatan rendah," kata juru bicara Meta.

















