Burkina Faso Gagalkan Rencana Pembunuhan Presiden Militer

- Mantan pemimpin junta militer menjadi otak rencana pembunuhan Traore
- Situasi di Burkina Faso sudah kondusif usai rencana kudeta
- Burkina Faso janji akan merebut kembali seluruh teritori dari teroris
Jakarta, IDN Times - Burkina Faso mengaku keberhasilan menggagalkan rencana pembunuhan kepada Presiden militer Burkina Faso, Kapten Ibrahim Traore. Rencana ini sebagai bagian dari kudeta untuk menggulingkan pemerintahan Traore.
“Intelijen kami berhasil menggagalkan operasi pada detik-detik terakhir. Mereka sudah merencanakan pembunuhan kepala negara dan menyerang institusi penting, termasuk warga sipil,” terang Menteri Keamanan Burkina Faso, Mahamadou Sana, dikutip dari Business Insider Africa, Jumat (9/1/2026).
Pada 2023, otoritas Burkina Faso sudah menangkap empat petinggi militer yang diduga merencanakan kudeta. Aksi itu dianggap untuk merusak stabilitas negara dan menimbulkan kekacauan.
1. Tuding mantan pemimpin junta militer sebagai otak rencana pembunuhan Traore
Sana mengungkapkan bahwa mantan pemimpin junta militer, Letnan Kolonel Paul-Henri Sandaogo Damiba sebagai salah satu otak rencana pembunuhan. Aksi tersebut hampir dilakukan di kediaman Traore pekan ini.
“Beberapa orang sudah ditangkap, termasuk beberapa warga sipil yang secara tidak sadar ikut diperdaya untuk menjadi kurir atau mata-mata di lokasi kejadian,” tuturnya, dikutip dari APA News.
Sementara itu, Damiba diketahui sudah melarikan diri ke Togo setelah dilengserkan oleh Traore pada September 2022. Ia diduga sudah mengoordinasi rekrutmen orang, menggalang dana, dan merencanakan taktik eksekusi kudeta.
2. Sebut situasi di Burkina Faso sudah kondusif usai rencana kudeta
Sana menekankan bahwa situasi di Burkina Faso sudah aman dan terkendali. Ia mengingatkan kepada warga untuk tidak mudah terpengaruh ke dalam rencana-rencana buruk untuk merusak stabilitas negara.
Dilansir BBC, Sana menyebut Damiba sudah mendapatkan dana sebesar 70 juta franc CFA (Rp2 miliar) dari Pantai Gading. Menurutnya, ada sebuah rencana besar untuk melumpuhkan pangkalan drone, sebelum tentara asing masuk ke Burkina Faso.
Insiden ini menambah panjang rencana kudeta di Burkina Faso dalam beberapa tahun terakhir. Pada akhir 2024, otoritas setempat memecat sejumlah perwira militer atas dugaan punya hubungan dengan teroris dan militer asing.
3. Burkina Faso janji akan merebut kembali seluruh teritori dari teroris
Pada Desember 2025, Menteri Pertahanan Burkina Faso, Jenderal Celestin Simpore mengatakan bahwa 2026 akan menjadi tahun intensifikasi aksi tentara. Aksi ini untuk merebut kembali seluruh teritori Burkina Faso dari teroris.
“Perang masih terus berlanjut. Kami tidak hanya menunggu hingga 2026 untuk melanjutkan perang. Saat ini kami sudah melanjutkan di lapangan dan semakin intensif dan kami mencapai hasil terbaik,” ungkapnya.
Simpore menyebut akan ada penambahan peralatan tempur milik tentara Burkina Faso. Selain itu, akan meningkatkan kerja sama pertahanan dan kolaborasi dengan negara anggota Alliance of Sahel State (AES).

















