Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Prancis Buka Relasi dengan Afrika Tengah usai Tegang 7 Tahun

Prancis Buka Relasi dengan Afrika Tengah usai Tegang 7 Tahun
ilustrasi bendera Prancis (unsplash.com/alicetricky)
Intinya Sih
  • Menlu Prancis Jean-Noel Barrot melakukan kunjungan pertama ke Republik Afrika Tengah setelah tujuh tahun, menandai upaya pemulihan hubungan diplomatik yang sempat tegang sejak 2018.
  • Dalam pertemuan dengan Kepala Misi PBB MINUSCA, Barrot menegaskan dukungan Prancis terhadap perdamaian dan stabilitas Afrika Tengah dengan menghormati kedaulatan negara tersebut.
  • Kunjungan ini juga mencerminkan langkah Prancis mempertahankan pengaruhnya di Afrika di tengah meningkatnya keterlibatan Rusia, AS, dan China melalui diplomasi serta kerja sama ekonomi dan keamanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis, Jean-Noel Barrot mengadakan kunjungan ke Bangui, Republik Afrika Tengah (CAR). Lawatan Prancis ini menjadi yang pertama dalam tujuh tahun terakhir. 

“Ini pertama kalinya dari 7 tahun Menlu Prancis berkunjung ke Bangui. Kunjungan saya ini untuk mengembalikan relasi antara kedua negara usai periode tensi selama bertahun-tahun,” terangnya, dikutip dari Africa News, Minggu (15/3/2026).

Lawatan terakhir Menlu Prancis ke Bangui berlangsung pada 2018. Kunjungan mantan Menlu Prancis, Jean-Yves Le Drian dilakukan di tengah perang saudara di Afrika Tengah. 

1. Prancis dan PBB diskusikan soal perdamaian di Afrika Tengah

Peta Negara Republik Afrika Tengah.
potret peta Republik Afrika Tengah (unsplash.com/Phil Hearing)

Dalam kunjungan ini, Barrot bertemu dengan Kepala Misi PBB Perdamaian di Afrika Tengah (MINUSCA), Valentine Rugwabiza. Menurutnya, Prancis mendukung stabilitas dan perdamaian di Afrika Tengah. 

“Prancis mendukung Republik Afrika Tengah saat ini, ketika perdamaian dan proses stabilisasi negara terus berlanjut. Paris ingin menjadi rekan yang menghormati kedaulatan Republik Afrika Tengah,” katanya. 

2. Afrika Tengah terlalu bergantung pada Rusia

Bendera Republik Afrika Tengah sedang berkibar.
potret bendera Republik Afrika Tengah (pexels.com/aboodi vesakaran)

Kedatangan Barrot ke Bangui ini dilakukan setelah Presiden Afrika Tengah, Faustin-Archange Touadera berkunjung ke Moskow, Rusia. Selama ini, Afrika Tengah bergantung pada pasukan bayaran dari Rusia untuk melawan kelompok pemberontak. 

Dilansir RFI, Touadera yang baru saja terpilih kembali untuk periode ketiga mengutamakan tujuan stabilitasi negara dari dampak perang sipil. Menurutnya, situasi keamanan di Afrika Tengah sudah mulai kondusif. 

3. Prancis berusaha mempertahankan pengaruh di Afrika

bendera Prancis
bendera Prancis (unsplash.com/Rafael Garcin)

Lawatan di Afrika Tengah ini menunjukkan keinginan Prancis untuk mempertahankan pengaruhnya di Afrika. Sebab, sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat (AS), Rusia, dan China mencoba untuk meningkatkan pengaruhnya di Afrika. 

Dilansir Business Insider Africa, Afrika Tengah memiliki posisi strategis dengan sumber daya alam melimpah. Bagi Prancis, perbaikan relasi dengan Afrika Tengah ini penting untuk mengembalikan pengaruh sejarah dan menjadi rekan keamanan yang bisa diandalkan. 

Belakangan ini, Prancis sudah memperbarui strateginya di Afrika. Paris mengutamakan diplomasi, investasi ekonomi, dan kerja sama keamanan untuk mempertahankan pengaruhnya. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More