Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

PM Inggris Murka Trump Remehkan Peran Pasukan NATO di Afghanistan

Perdana Menteri Keir Starmer (©UK Parliament/Jessica Taylor, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons)
Perdana Menteri Keir Starmer (©UK Parliament/Jessica Taylor, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Starmer menyinggung korban prajurit Inggris dalam konflik Afghanistan
  • Starmer menyampaikan pesan melalui video untuk menghormati prajurit Inggris yang tewas atau terluka di Afghanistan.
  • Inggris adalah kontributor terbesar kedua dalam koalisi pimpinan AS setelah serangan 11 September 2001.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Jumat (23/1/2026) melontarkan kecaman terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang meremehkan kontribusi pasukan sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Afghanistan. Ucapan Trump dinilai menghina dan memicu keterkejutan di kalangan pemerintah Inggris.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat wawancara dengan Fox News pada Kamis (22/1/2026).

“Mereka akan bilang mereka mengirim beberapa pasukan ke Afghanistan. Dan mereka memang melakukannya, mereka tinggal sedikit di belakang, sedikit menjauh dari garis depan,” kata Trump.

“Kami tidak pernah membutuhkan mereka, kami tidak pernah benar-benar meminta apa pun dari mereka,” tambahnya.

1. Starmer menyinggung korban prajurit Inggris dalam konflik Afghanistan

ilustrasi makam (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi makam (pexels.com/RDNE Stock project)

Merespons hal tersebut, Starmer menyampaikan pesan melalui sebuah video. Ia lebih dulu memberikan penghormatan kepada 457 prajurit angkatan bersenjata Inggris yang tewas selama penugasan di Afghanistan serta mereka yang kembali dengan luka fisik dan dampak permanen.

Dalam pesan yang sama, Starmer menilai pernyataan Trump telah melukai perasaan keluarga korban dan para veteran.

“Dan karena itu saya menganggap pernyataan Presiden Trump sebagai menghina dan benar-benar mengejutkan, dan saya tidak terkejut bahwa hal itu telah menyebabkan luka yang begitu dalam bagi orang-orang terkasih dari mereka yang tewas atau terluka,” ujar Starmer, dikutip dari NDTV.

Starmer juga menyatakan bahwa ia akan segera meminta maaf apabila pernah mengucapkan pernyataan serupa. Inggris tercatat sebagai kontributor terbesar kedua dalam koalisi pimpinan AS setelah serangan 11 September 2001, dengan lebih dari 150 ribu personel dikerahkan sepanjang 2001-2021, serta 405 dari 457 kematian prajurit terjadi akibat aksi permusuhan.

2. Negara NATO lain menanggung korban besar selama perang

ilustrasi anggota NATO (unsplash.com/Marek Studzinski)
ilustrasi anggota NATO (unsplash.com/Marek Studzinski)

Selain Inggris, sejumlah negara anggota NATO lainnya juga kehilangan banyak personel selama konflik berlangsung. Kanada mencatat lebih dari 150 prajurit gugur, disusul Prancis dengan 90 korban, Denmark 44 prajurit, Polandia 43 prajurit, serta puluhan personel dari Jerman, Italia, dan negara lain.

Di sisi lain, AS kehilangan lebih dari 2.400 anggota militernya dalam perang tersebut. Proyek Costs of War Universitas Brown yang dirilis pada 2021 mencatat sedikitnya 46.319 warga sipil Afghanistan tewas secara langsung akibat invasi sejak 2001, tanpa memasukkan korban tidak langsung, dilansir dari Al Jazeera.

3. Gedung Putih menolak kritik dan kecaman meluas di Eropa

Gedung Putih (pexels.com/Chris)
Gedung Putih (pexels.com/Chris)

Gedung Putih kemudian menepis kritik yang disampaikan Starmer. Juru bicara Taylor Rogers menyatakan bahwa Trump benar, dengan menegaskan AS telah berkontribusi lebih besar bagi NATO dibandingkan negara mana pun dalam aliansi itu.

Pernyataan Trump muncul tak lama setelah ancaman pengenaan tarif terhadap negara-negara Eropa yang menolak kendali AS atas Greenland, wilayah semi-otonom Denmark, sebelum ancaman tersebut ditarik usai pembicaraan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengenai keamanan Arktik.

Seiring itu, kecaman datang dari berbagai kalangan di Eropa dan Inggris lintas partai. Menteri Luar Negeri Belanda David van Weel menyebut pernyataan tersebut tak benar dan tak hormat, sementara Menteri Pertahanan Polandia Wladyslaw Kosiniak-Kamysz menegaskan Polandia adalah sekutu yang dapat diandalkan dan menuntut penghormatan bagi veteran negaranya.

Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin menekankan bahwa 90 prajurit Prancis yang gugur serta mereka yang terluka layak dihormati. Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyebut prajurit yang tewas sebagai pahlawan yang mengorbankan nyawa demi bangsa.

Sikap serupa juga disampaikan Menteri Angkatan Bersenjata Al Carns yang pernah lima kali bertugas di Afghanistan dan menyebut komentar Trump konyol. Pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch menilainya sebagai omong kosong yang berpotensi melemahkan NATO.

Pemimpin Reform UK Nigel Farage turut menyampaikan pernyataan melalui X.

“Donald Trump salah. Selama 20 tahun angkatan bersenjata kami berjuang dengan gagah berani bersama Amerika di Afghanistan,” katanya.

Pangeran Harry, yang dua kali bertugas di garis depan Afghanistan, juga angkat bicara.

“Saya bertugas di sana. Saya membuat teman seumur hidup di sana. Dan saya kehilangan teman di sana. Ribuan kehidupan berubah selamanya. Ibu dan ayah mengubur anak laki-laki dan perempuan. Anak-anak ditinggalkan tanpa orang tua. Keluarga ditinggalkan menanggung biayanya. Pengorbanan-pengorbanan tersebut pantas dibicarakan dengan jujur dan penuh hormat,” ujarnya.

Sejumlah keluarga prajurit gugur, termasuk Lucy Aldridge yang kehilangan putranya William pada usia 18 tahun, menyebut pernyataan tersebut sangat menyedihkan. Direktur Jenderal Royal British Legion Mark Atkinson menegaskan pengabdian dan pengorbanan pasukan Inggris tak dapat diragukan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Era Baru Penyelenggaraan Haji Indonesia

25 Jan 2026, 00:31 WIBNews