Donald Trump Sebut Iran Minta Gencatan Senjata, Benarkah?

- Donald Trump mengklaim Iran meminta gencatan senjata, namun ia menegaskan hal itu baru dipertimbangkan jika Selat Hormuz kembali terbuka dan bebas dilalui kapal dagang.
- Iran telah mengizinkan kapal dari beberapa negara seperti Indonesia, China, dan Jepang melewati Selat Hormuz, tetapi tetap menutup akses bagi Amerika Serikat dan Israel.
- Iran menuntut pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat menolak keras karena dianggap melanggar hukum internasional dan membahayakan stabilitas global.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut Iran telah memintanya untuk melakukan gencatan senjata. Klaim tersebut termuat dalam sebuah unggahan di Truth Social pribadi Trump yang dirilis pada Rabu (1/4/2026). Unggahan tersebut dikutip oleh Jerusalem Post.
"Kami akan mempertimbangkannya ketika Selat Hormuz terbuka, bebas, dan tanpa hambatan. Sampai saat itu, kami akan menghancurkan Iran hingga musnah (dan) mengembalikannya ke Zaman Batu," ujar Trump merespons permintaan gencatan senjata dari Iran.
Dalam pernyataannya, Trump menjelaskan, permintaan tersebut datang dari seorang pemimpin Iran. Namun, ia tidak memberi tahu siapa pemimpin Iran yang memintanya untuk melakukan gencatan senjata. Apakah itu Presiden Iran, Masoud Pezeshkian atau Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
1. Trump bersedia mengakhiri perang dengan Iran meski Selat Hormuz ditutup

Pernyataan Trump dalam unggahan di Truth Social tadi bertentangan dengan pernyataan sebelumnya. Sebab, beberapa waktu lalu, Trump mengatakan ia bersedia mengakhiri perang dengan Iran meski Selat Hormuz masih ditutup.
Kabar tersebut termuat dalam laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Senin (30/3/2026) yang dikutip oleh Jerusalem Post, Selasa (31/3/2026). WSJ sendiri mendapatkan informasi tersebut dari seorang pejabat AS.
Meski begitu, Trump disebut tetap ingin membuka Selat Hormuz yang ditutup oleh Iran. Sebab, Trump ingin membuat kapal-kapal dagang, terutama kapal minyak, dari seluruh dunia dan dari AS bisa berlayar di selat tersebut dengan bebas. Selain itu, Trump juga disebut masih ingin bernegosiasi dengan Iran agar mereka mau mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
2. Iran sudah mengizinkan kapal dari sejumlah negara untuk melewati Selat Hormuz

Saat ini, Iran sebetulnya sudah mengizinkan kapal dari sejumlah negara untuk berlayar di Selat Hormuz. Namun, Iran tetap menutup selat tersebut untuk AS dan Israel karena mereka merupakan negara yang memicu terjadinya perang.
Ada sejumlah negara yang kini sudah mengantongi izin dari Iran agar kapalnya bisa berlayar di Selat Hormuz. Beberapa di antaranya, seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, China, Jepang, Irak, dan Rusia.
Awalnya, kapal dari negara-negara di atas sempat tertahan di Selat Hormuz. Namun, usai melobi pemerintah Iran beberapa waktu lalu, kapal mereka kini sudah diizinkan Iran untuk berlayar dari dan ke Selat Hormuz dengan aman.
3. Iran ingin kedaulatan di Selat Hormuz

Meski sudah mengizinkan sejumlah kapal berlayar, Iran tetap bersikukuh untuk menguasai Selat Hormuz. Bahkan, Iran meminta AS dan Israel untuk mengakui kedaulatan mereka di selat tersebut.
Namun, Negeri Paman Sam menolak mentah-mentah permintaan Iran untuk menguasai Selat Hormuz. Sebab, menurut AS, tindakan tersebut ilegal dan melanggar hukum internasional.
“Ini bukan hanya ilegal, tetapi juga tidak dapat diterima, berbahaya bagi dunia, dan penting bagi dunia untuk memiliki rencana untuk menghadapinya,” kata Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, seperti dilansir CNN.


















