Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Keponakan Mendiang Panglima Militer Iran Qassem Soleimani Ditangkap AS

Keponakan Mendiang Panglima Militer Iran Qassem Soleimani Ditangkap AS
mantan komandan militer Iran Qasem Soleimani yang terbunuh akibat serangan AS pada 2020 (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Keponakan dan cucu keponakan Qassem Soleimani ditangkap di AS setelah izin tinggal mereka dicabut karena diduga menyebarkan propaganda pro-rezim Iran melalui media sosial.
  • Qassem Soleimani, mantan komandan Pasukan Quds dan tokoh militer paling berpengaruh di Iran, tewas akibat serangan drone AS di Baghdad pada 2020.
  • Pemerintah AS juga mencabut status hukum putri mendiang pejabat tinggi Iran Ali Larijani dan suaminya, serta melarang keduanya memasuki wilayah Amerika Serikat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengumumkan bahwa keponakan mendiang komandan militer Iran Qassem Soleimani telah ditangkap bersama putrinya usai izin tinggal mereka di AS dicabut.

“Semalam, keponakan dan cucu keponakan dari almarhum Mayor Jenderal Qassem Soleimani dari Korps Garda Revolusi Iran ditangkap oleh agen federal setelah Menteri Luar Negeri Marco Rubio mencabut status mereka sebagai penduduk tetap yang sah (LPR),” kata departemen tersebut dalam pernyataan pada Sabtu (4/4/2026), dikutip dari The Straits Times.

Dalam unggahannya di media sosial X, Rubio mengonfirmasi bahwa kedua perempuan tersebut kini ditahan di Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE), sembari menunggu proses deportasi.

1. Keponakan Soleimani dituding promosikan propaganda rezim Iran melalui media sosialnya

ilustrasi visa (unsplash.com/ConvertKit)
ilustrasi visa (unsplash.com/ConvertKit)

Departemen Luar Negeri AS menggambarkan keponakan Soleimani, yang diidentifikasi sebagai Hamideh Soleimani Afshar, sebagai pendukung vokal rezim totaliter dan teroris di Iran. Perempuan itu juga dituding mempromosikan propaganda rezim Iran di akun media sosialnya selama tinggal di AS.

"Ia memuji Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, mengecam Amerika sebagai 'Setan Besar,' dan menyatakan dukungan tanpa ragu terhadap Korps Garda Revolusi Islam, yang ditetapkan sebagai organisasi teroris," tambah pernyataan itu.

Selain pencabutan status LPR keduanya, suami Soleimani Afshar juga dilarang memasuki AS.

2. Soleimani merupakan orang nomor dua di Iran setelah Khamenei

mendiang komandan militer Iran Qasem Soleimani dan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei
mendiang komandan militer Iran Qasem Soleimani dan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Soleimani, yang memimpin faksi Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), tewas akibat serangan drone AS di ibu kota Irak, Baghdad, pada Januari 2020. Dilansir dari The Guardian, ia dianggap sebagai orang paling berkuasa kedua di Iran setelah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang tewas dibunuh dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026, dan tokoh militer paling berpengaruh di negara itu. 

Para pejabat senior dan komandan militer Iran telah berjanji untuk membalas kematiannya.

"Orang Amerika harus tahu bahwa balas dendam atas darah syuhada Soleimani pasti terjadi, dan para pembunuh serta pelaku tidak akan mendapat tidur yang nyenyak," kata mantan Presiden Iran, Ebrahim Raisi, pada 2023. Raisi meninggal dalam kecelakaan helikopter pada 2024.

3. Putri Larijani dan suaminya juga dilarang memasuki AS

sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani
sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani (Mostafameraji, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Awal bulan ini, AS juga mencabut status hukum putri mendiang sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani, dan suaminya. Larijani sendiri tewas akibat serangan Israel pada 17 Maret 2026.

"Keduanya tidak lagi berada di Amerika Serikat dan dilarang masuk di masa depan,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Rubio menambahkan bahwa pemerintahan Trump tidak akan membiarkan AS ditinggali oleh warga negara asing yang mendukung rezim teroris anti-Amerika.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More