Eks Menlu Iran Alami Luka Parah akibat Serangan AS-Israel

- Mantan Menlu Iran Kamal Kharrazi terluka parah dan istrinya tewas akibat serangan udara AS-Israel yang menghantam rumahnya di Teheran pada 1 April 2026.
- Lebih dari dua ribu warga Iran tewas selama serangan AS-Israel sejak akhir Februari, termasuk sejumlah pejabat tinggi militer dan intelijen negara tersebut.
- IRGC mengancam akan menyerang 18 perusahaan teknologi besar asal AS di Timur Tengah mulai 1 April sebagai balasan atas pembunuhan para pemimpin Iran.
Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Luar Negeri Iran, Kamal Kharrazi, mengalami luka parah setelah serangan Amerika Serikat (AS)-Israel menghantam rumahnya di Teheran pada Rabu (1/4/2026). Istrinya tewas dalam serangan tersebut.
Kharrazi, yang dikenal sebagai kepala Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri dan mantan penasihat mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Belum diketahui motif di balik upaya pembunuhan tersebut.
“Kami telah melihat apa yang tampak seperti percobaan pembunuhan terhadap mantan menteri luar negeri, Kamal Kharazi. Kami tidak tahu mengapa dia menjadi sasaran. Dia terluka parah, dan istrinya tewas,” kata Mohamed Vall dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Teheran.
1. Kharrazi diduga disasar untuk mencegah kemungkinan diplomasi

Kharrazi, mantan akademisi yang sebagian pendidikannya ditempuh di AS sebelum Revolusi Islam 1979, memegang peran penting dalam diplomasi Iran. Ia pernah menjabat sebagai duta besar dan perwakilan tetap Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1989–1997, sebelum menjadi menteri luar negeri pada 1997–2005.
Sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026, Kharrazi muncul sebagai tokoh penting dalam upaya diplomatik yang berpotensi mengakhiri perang. Hal ini memunculkan spekulasi bahwa ia mungkin sengaja ditargetkan untuk melemahkan jalur-jalur diplomasi tersebut, dilansir dari MEE.
Namun, dalam wawancaranya dengan CNN pada Maret 2026, Kharrazi menegaskan bahwa ia tidak melihat ruang bagi diplomasi dengan AS.
‘Saya tidak melihat ada ruang untuk diplomasi lagi. Karena (Presiden AS) Donald Trump telah menipu pihak lain dan tidak menepati janjinya, dan kami mengalami hal ini dalam dua kali negosiasi — saat kami terlibat dalam pembicaraan, mereka justru menyerang kami," ujarnya.
2. Lebih dari dua ribu orang di Iran tewas akibat serangan AS-Israel

Kharrazi menjadi tokoh penting terbaru dari pemerintah Iran yang menjadi sasaran serangan udara AS-Israel. Sebelumnya, Khamenei, penasihat keamanan utama Ali Shamkhani, komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammad Pakpour, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Abdolrahim Mousavi, dan Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh dibunuh pada hari pertama perang.
Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, tewas bersama putranya dan salah satu wakilnya dalam serangan pada 17 Maret. Sehari kemudian, Menteri Intelijen sekaligus kepala pemantauan sipil, Esmail Khatib, juga tewas dibunuh.
Sejauh ini, lebih dari 2 ribu orang telah tewas di Iran akibat serangan AS-Israel selama lebih dari sebulan terakhir. Sedikitnya 24 orang juga tewas di Israel dan 13 tentara AS tewas di kawasan Timur Tengah.
3. Iran ancam serang perusahaan teknologi AS mulai 1 April

Sebelumnya, pada Selasa (31/3/2026), IRGC memperingatkan bahwa mereka akan menargetkan 18 perusahaan teknologi terkemuka AS di Timur Tengah, termasuk Apple, Google dan Meta, jika pemimpin-pemimpin Iran terus dibunuh. Serangan akan dimulai pada Rabu.
"Perusahaan‑perusahaan ini, mulai pukul 20.00 waktu Teheran pada Rabu, 1 April, harus mengharapkan penghancuran unit terkait mereka sebagai balasan atas setiap pembunuhan di Iran," kata IRGC dalam pernyataannya, dengan mencantumkan nama 18 perusahaan yang diduga terlibat dalam pembunuhan pejabat Iran.
IRGC mengimbau para karyawan perusahaan untuk meninggalkan lokasi-lokasi tersebut demi keselamatan mereka.
Dilansir dari Euro News, dua pusat data Amazon di Uni Emirat Arab (UEA), yang juga menjadi sasaran dalam daftar tersebut, sebelumnya telah dihantam serangan Iran pada 1 Maret 2026. Pusat data lainnya di Bahrain juga mengalami kerusakan akibat terkena puing-puing dari serangan di lokasi lainnya. IRGC saat itu mengatakan bahwa serangan tersebut bertujuan mengungkap peran fasilitas tersebut dalam mendukung kegiatan militer dan intelijen musuh.


















