Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Empat Orang di California AS Tewas akibat Keracunan Jamur

ilustrasi jamur (unsplash.com/Hans Veth)
ilustrasi jamur (unsplash.com/Hans Veth)
Intinya sih...
  • Lonjakan kasus keracunan jamur liar di California
  • Racun amatoxin pada jamur Death Cap menyebabkan kegagalan organ dan kematian
  • Otoritas peringatkan kemiripan jamur beracun dengan varietas konsumsi luar negeri
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Otoritas kesehatan negara bagian California secara resmi menerbitkan peringatan darurat pada Senin(9/2/2026). Langkah medis ini diambil menyusul peningkatan drastis kasus keracunan jamur liar, yang saat ini telah mencapai tingkat mengkhawatirkan bagi keselamatan publik.

Pemerintah setempat memberikan instruksi tegas agar warga segera menghentikan aktivitas memetik maupun mengonsumsi jamur yang tumbuh di alam bebas. Hal tersebut dikarenakan adanya risiko fatalitas yang sangat tinggi bagi siapa pun yang terpapar racun tersebut. Berdasarkan data resmi, setidaknya empat orang dilaporkan meninggal dunia akibat paparan racun jamur mematikan sejak akhir tahun lalu.

1. Warga diduga memetik dan mengonsumsi jamur liar

Departemen Kesehatan Publik California (CDPH) melaporkan lonjakan drastis kasus keracunan jamur liar yang mencapai 39 kasus serius dalam periode November 2025 hingga Januari 2026. Angka ini mencatatkan sejarah baru dalam catatan kesehatan modern negara bagian tersebut, mengingat biasanya California hanya menangani kurang dari lima kasus serupa per tahun. Penyebaran kasus ini terkonsentrasi di wilayah California Utara dan sepanjang pesisir tengah, meliputi beberapa wilayah seperti Alameda, San Francisco, Santa Clara, hingga Sacramento.

Peningkatan jumlah jamur beracun ini dipicu oleh fenomena super bloom akibat curah hujan tinggi yang diikuti suhu musim gugur yang hangat. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan jamur Death Cap (Amanita phalloides) secara masif, baik di hutan maupun di taman kota. Pusat Racun Amerika Serikat mencatat adanya kenaikan paparan jamur sebesar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan korban yang berasal dari berbagai latar belakang usia, mulai dari balita hingga warga lanjut usia.

Dr. Craig Smollin, direktur medis untuk Divisi San Francisco dari Sistem Kontrol Racun California, menyoroti skala insiden yang sangat luar biasa pada tahun ini.

"Hal utama tahun ini adalah besarnya magnitudo, yaitu jumlah orang yang mengonsumsi jamur ini," katanya, dilansir PBS News.

Investigasi menunjukkan bahwa banyak korban mengonsumsi jamur yang mereka kumpulkan dari lahan pemerintah, taman kota, hingga area sub-urban yang padat penduduk.

Sebagai langkah penanganan, CDPH terus memperketat pengawasan epidemiologi dan menginstruksikan pengelola taman untuk memasang tanda peringatan dalam berbagai bahasa. Jamur Death Cap sendiri merupakan spesies invasif asal Eropa yang telah beradaptasi di tanah California sejak tahun 1930-an dan kini semakin mendominasi ekosistem lokal. Mengingat risiko fatal yang mengintai, otoritas kesehatan mendesak masyarakat untuk sepenuhnya menghindari konsumsi jamur liar demi keselamatan nyawa.

2. Bahaya racun amatoxin pada jamur liar sebabkan kegagalan organ hingga kematian

Racun amatoxin yang terkandung dalam jamur Death Cap dikenal sangat mematikan karena sifatnya yang stabil dan agresif dalam merusak sel tubuh. Senyawa berbahaya ini tidak dapat dihancurkan melalui proses memasak, merebus, membekukan, maupun mengeringkan, sehingga metode persiapan apa pun tidak akan mengurangi risiko keracunannya. Secara medis, satu buah jamur Death Cap saja sudah mengandung cukup amatoxin untuk menyebabkan kematian pada orang dewasa sehat jika tidak segera mendapatkan penanganan medis secara intensif.

Mekanisme kerja racun ini melibatkan penghentian sintesis protein dalam sel, terutama pada organ hati, yang memicu kematian sel secara luas. Terkait ancaman serius tersebut, Direktur CDPH, Dr. Erica Pan, memberikan peringatan tegas bahwa jamur Death Cap mengandung racun yang berpotensi mematikan dan dapat menyebabkan kegagalan hati. Kandungan utamanya, yaitu alpha-amanitin, diserap dengan sangat cepat oleh sistem pencernaan dan langsung menyerang organ vital setelah dikonsumsi.

Gejala keracunan ini muncul dalam tiga fase yang sangat menipu bagi korban maupun tenaga medis. Fase pertama ditandai dengan gangguan pencernaan hebat seperti mual dan diare dalam kurun waktu 6 hingga 24 jam, yang kemudian diikuti oleh fase pemulihan semu di mana pasien merasa seolah telah sembuh.

Memasuki fase ketiga, yakni sekitar 48 hingga 96 jam setelah paparan, korban akan mengalami kegagalan organ yang bersifat permanen. Dalam wabah kali ini, beberapa pasien harus dirawat di Unit Perawatan Intensif (ICU), bahkan tiga di antaranya memerlukan transplantasi hati sebagai satu-satunya jalan untuk selamat. Laura Marcelino, salah satu korban yang keluarganya jatuh sakit setelah mengonsumsi sup jamur liar, memberikan kesaksian mengenai betapa cepatnya kondisi kesehatan menurun.

"Kami mengira itu aman," ungkapnya, menceritakan perjuangan suaminya yang akhirnya harus menjalani prosedur transplantasi hati untuk bertahan hidup.

Kecepatan diagnosis menjadi faktor kunci karena pengobatan akan jauh lebih sulit dilakukan setelah gejala fisik yang parah muncul. Pihak medis menyarankan masyarakat yang merasa telah mengonsumsi jamur beracun untuk segera mencari bantuan di rumah sakit tanpa harus menunggu munculnya gejala. Sangat disarankan bagi warga untuk membawa sisa jamur atau dokumentasi foto bagian tudung, batang, hingga bagian bawah jamur guna membantu ahli mikologi mengidentifikasi spesies dan menentukan rencana perawatan yang tepat.

3. Otoritas California peringatkan kemiripan jamur beracun dengan varietas konsumsi luar negeri

Otoritas kesehatan mengidentifikasi bahwa penyebab utama tingginya angka keracunan dalam wabah ini adalah kemiripan visual antara jamur beracun di California dengan jamur yang aman dikonsumsi di negara lain, seperti Meksiko dan wilayah Asia. Data menunjukkan bahwa sekitar 60 persen individu yang terdampak merupakan penutur bahasa Spanyol, selain penutur bahasa Mixteco dan Mandarin yang juga banyak melaporkan kasus serupa. Para pendatang baru sering kali tidak menyadari bahwa spesies lokal yang terlihat akrab sebenarnya memiliki profil toksisitas yang sangat berbeda dan mematikan.

Pejabat Kesehatan Masyarakat, Dr. Henning Ansorg, menekankan bahwa pengalaman dalam memetik jamur bukanlah jaminan keamanan di wilayah California. Para ahli memperingatkan bahwa mengandalkan warna, aplikasi ponsel, atau buku panduan visual sering kali berujung fatal.

"Bahkan pencari jamur yang berpengalaman pun dapat membuat kesalahan yang berbahaya," kata Ansorg, dilansir Bangor Daily News.

Selain intervensi medis, pemerintah kini memfokuskan strategi pada pencegahan melalui pengawasan ketat terhadap anak-anak dan hewan peliharaan di area luar ruangan. Sebagian besar kasus pada anak-anak melibatkan balita yang secara tidak sengaja mengonsumsi jamur liar saat bermain, sehingga orang tua diimbau untuk rutin membersihkan halaman rumah. Warga juga diingatkan untuk hanya mengonsumsi jamur dari sumber komersial yang jelas dan menghindari pembelian dari penjual jalanan yang menjajakan jamur hasil buruan liar.

Sebagai langkah darurat, otoritas kesehatan menyebarkan materi edukasi dalam sembilan bahasa berbeda, termasuk Tagalog, Vietnam, dan Ukraina, guna menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat yang membutuhkan bantuan darurat atau memiliki pertanyaan dapat menghubungi saluran bantuan yang beroperasi gratis selama 24 jam. Kolaborasi antara tim medis, ahli mikologi, dan pemerintah daerah terus diupayakan untuk menekan angka kematian serta memastikan instruksi larangan konsumsi jamur liar dipatuhi secara luas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Sebut Keracunan MBG 50 Kasus di Januari, Kepala BGN: Alhamdulilah Kecil

10 Feb 2026, 09:21 WIBNews