Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perahu Migran Karam di Libya, 53 Orang Tewas

ilustrasi tenggelam (pexels.com/Senanur Ceylan)
ilustrasi tenggelam (pexels.com/Senanur Ceylan)
Intinya sih...
  • Perahu karet tenggelam di laut utara Zuwara, Libya
  • Kapal berangkat dari Al-Zawiya dan menewaskan 53 migran, meningkatkan jumlah korban di Laut Tengah
  • IOM mendesak perlindungan lebih kuat terhadap migran untuk membongkar jaringan kriminal penyelundupan dan perdagangan manusia
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Sebuah perahu karet yang membawa 55 penumpang tenggelam di laut utara Zuwara, wilayah barat laut Libya, pada Jumat (6/2/2026). Insiden tersebut menyebabkan sedikitnya 53 orang, termasuk dua bayi, dinyatakan tewas atau hilang. Dari seluruh penumpang, hanya dua perempuan berkewarganegaraan Nigeria yang ditemukan hidup dan segera diamankan otoritas Libya melalui operasi pencarian serta penyelamatan.

Dilansir dari Sky News, seorang penyintas mengungkapkan bahwa suaminya turut menjadi korban dalam peristiwa itu. Penyintas lainnya harus menerima kenyataan pahit kehilangan dua bayinya di tengah laut. Setelah berhasil dievakuasi ke darat, kedua perempuan tersebut memperoleh penanganan medis mendesak dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melalui kerja sama dengan aparat setempat.

1. Kapal berangkat dari kota Al-Zawiya

ilustrasi kapal tenggelam (pexels.com/Randall Edholm)
ilustrasi kapal tenggelam (pexels.com/Randall Edholm)

Perahu naas tersebut bertolak dari Al-Zawiya, yang juga dikenal dengan nama Zawia, sekitar 27 mil atau 44 kilometer di sebelah barat Tripoli, pada Kamis (5/2/2026) pukul 23.00 waktu setempat. Setelah berlayar kurang lebih enam jam, air mulai masuk ke dalam kapal hingga akhirnya membuatnya tenggelam.

Seluruh penumpang merupakan migran dan pengungsi yang berasal dari sejumlah negara di Afrika dan mencoba menyeberang secara ilegal. Peristiwa tragis ini terjadi di kawasan Laut Tengah bagian tengah, jalur yang selama ini dikenal sebagai salah satu rute paling berbahaya bagi mereka yang melakukan perjalanan tanpa dokumen resmi.

2. Korban di jalur tengah Laut Tengah bertambah

ilustrasi laut (pexels.com/Sebastian Voortman)
ilustrasi laut (pexels.com/Sebastian Voortman)

Bencana terbaru tersebut menambah jumlah migran yang tercatat meninggal atau hilang di jalur Laut Tengah bagian tengah sepanjang tahun ini menjadi sedikitnya 484 orang. Data itu menunjukkan bahwa ancaman keselamatan masih sangat besar bagi para pelintas meskipun tahun baru saja berjalan.

Menurut catatan Proyek Migran Hilang IOM, lebih dari 1.300 orang dilaporkan hilang di rute yang sama sepanjang tahun sebelumnya. Angka tersebut memperlihatkan bahwa tragedi serupa terus berulang dan belum menunjukkan tanda mereda.

“Data IOM menunjukkan bahwa hanya pada bulan Januari saja, setidaknya 375 migran dilaporkan meninggal atau hilang akibat beberapa kecelakaan kapal ‘tak terlihat’ di Laut Tengah bagian tengah di tengah cuaca ekstrem, dengan ratusan kematian lainnya diyakini tidak tercatat,” demikian pernyataan IOM, dikutip dari Al Jazeera.

3. IOM desak perlindungan lebih kuat

ilustrasi kapal (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi kapal (pexels.com/Pixabay)

Rangkaian insiden yang terus berulang semakin menegaskan besarnya bahaya mematikan yang dihadapi para migran dan pengungsi saat mencoba menyeberangi laut.

IOM menekankan bahwa kelompok penyelundup dan jaringan perdagangan manusia masih aktif mengeksploitasi para migran di sepanjang jalur Laut Tengah bagian tengah. Mereka memperoleh keuntungan besar dari perjalanan berisiko tinggi dengan memanfaatkan perahu yang tak layak pakai, sekaligus memicu berbagai bentuk kekerasan dan ancaman serius terhadap keselamatan para korban.

Lembaga tersebut menyerukan peningkatan kerja sama internasional serta kebijakan yang lebih mengutamakan perlindungan manusia untuk membongkar jaringan kriminal penyelundupan dan perdagangan manusia, sekaligus menyediakan jalur migrasi yang aman dan legal agar bahaya dapat dikurangi dan lebih banyak nyawa terlindungi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Sebut Keracunan MBG 50 Kasus di Januari, Kepala BGN: Alhamdulilah Kecil

10 Feb 2026, 09:21 WIBNews