Jakarta, IDN Times - Milisi Yaman, Houthi, melarang semua kapal Israel berlayar di Laut Merah. Larangan ini diumumkan langsung oleh Houthi pada Senin (8/6/2026) dan sudah resmi berlaku. Larangan ini praktis membuat kapal-kapal Israel tidak bisa berlayar dari dan ke Laut Merah.
Houthi Larang Kapal Israel Berlayar di Laut Merah, Kenapa?

- Houthi resmi melarang kapal Israel berlayar di Laut Merah sebagai balasan atas serangan rudal Israel ke Iran, serta meningkatkan pengawasan di wilayah tersebut.
- Milisi Houthi kini terlibat langsung membantu Iran dengan meluncurkan serangan rudal ke Jaffa, menunjukkan solidaritas terhadap sekutu lamanya itu.
- Iran telah mendapat dukungan militer dari Hizbullah asal Lebanon yang juga menyerang Israel sejak Maret, sebagai respons atas keterlibatan AS dalam konflik.
Untuk menindak lanjuti larangan ini, Houthi sudah meningkatkan pengawasan di sekitar Laut Merah. "Eskalasi akan dibalas dengan eskalasi. Operasi kami akan diintensifkan sesuai dengan perkembangan," kata Juru Bicara Houthi, Yahya Saree, seperti dilansir Jerusalem Post.
1. Larangan ditujukan untuk membalas serangan Israel ke Iran

Houthi menjelaskan, larangan ini ditetapkan sebagai balasan atas serangan Israel ke Iran. Sebab, Israel telah menyerang wilayah Iran bagian barat dan tengah pada Senin pagi waktu setempat. Menurut keterangan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Israel melakukan serangan menggunakan rudal balistik.
Untuk membalas serangan Israel ke Iran, Houthi juga telah meluncurkan serangan ke Jaffa. Jaffa atau yang juga dikenal dengan nama Yafo adalah salah satu kota di Israel. Houthi menegaskan tidak akan segan untuk mengangkat senjata kepada siapa pun yang menganggu sekutunya, termasuk Lebanon, Iran, dan Palestina.
“Berdasarkan prinsip Persatuan Front dan sebagai tanggapan atas agresi Israel terhadap Lebanon, Iran, dan Gaza, pasukan kami melancarkan serangan rudal ke target-target sensitif di Jaffa, Israel,” lanjut Saree.
2. Houthi mulai terlibat membantu Iran secara langsung

Serangan yang dilakukan Houthi terhadap Israel tadi menunjukkan bahwa milisi itu kini mulai terlibat langsung membantu Iran untuk berperang. Sebelumnya, Houthi hanya membantu Iran berperang melawan AS dan Israel di balik layar saja. Sebab, mereka menilai kemampuan militer Iran untuk melawan kedua negara tersebut sudah sangat mumpuni sehingga tidak butuh bantuan lagi.
Kendati demikian, Houthi selalu menyatakan siap membantu Iran secara langsung jika memang dibutuhkan. Menurut Houthi, ini merupakan wujud solidaritas terhadap Iran yang telah menjadi sekutu mereka sejak lama.
“Sampai saat ini, Iran telah berkinerja baik dan mengalahkan musuh setiap hari. Pertempuran juga berjalan sesuai dengan keinginan mereka. Jika terjadi sesuatu yang bertentangan dengan ini, maka kita dapat menilainya," ujar petinggi Houthi yang tidak disebut namanya pada Maret lalu.
3. Iran sudah dibantu Hizbullah untuk melawan AS dan Israel

Untuk berperang melawan AS dan Israel, Iran sebetulnya sudah dibantu Hizbullah. Sebab, milisi asal Lebanon tersebut juga menjadi salah satu sekutu Iran sejak lama. Mereka kerap membantu secara militer jika Iran mendapat ancaman eksternal.
Hizbullah sendiri mulai membantu Iran sejak awal Maret. Sejak saat itu, mereka mulai melancarkan serangan terhadap Israel. Serangan itu dilakukan sebagai balasan karena Israel telah membantu AS untuk menyerang Iran pada 28 Februari lalu.

















