Pemerintah Yaman dan Houthi Sepakat Tukar 1.600 Tahanan

- Pemerintah Yaman dan kelompok Houthi sepakat menukar lebih dari 1.600 tahanan dengan dukungan PBB, menjadi pertukaran terbesar sejak konflik dimulai pada 2014.
- Negosiasi selama 14 pekan di Amman menghasilkan kesepakatan pembebasan tahanan, termasuk warga Arab Saudi dan Sudan, dengan koordinasi pemulangan oleh Komite Palang Merah Internasional.
- Meski kesepakatan belum mencakup 73 staf PBB yang masih ditahan, kedua pihak berkomitmen melanjutkan perundingan untuk gelombang pertukaran berikutnya dan membuka akses kunjungan ke fasilitas penahanan.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Yaman dan kelompok Houthi menyepakati perjanjian pertukaran lebih dari 1.600 tahanan pada Kamis (14/5/2026). Kesepakatan yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini menjadi pertukaran tahanan paling besar sejak perang pecah pada 2014.
Houthi akan membebaskan 580 tahanan yang selama ini mereka kurung. Sementara itu, pemerintah Yaman siap untuk melepas sekitar 1.100 tawanan dari kelompok Houthi.
1. Hasil negosiasi selama belasan pekan di Yordania

Pertukaran ini terwujud setelah kedua belah pihak menjalani negosiasi intensif selama 14 pekan di Amman, Yordania. Proses perundingan tersebut merupakan kelanjutan dari kesepakatan awal yang dicapai di Muscat, Oman, pada Desember 2025.
Tahanan yang dibebaskan Houthi mencakup tujuh warga negara Arab Saudi dan 20 warga Sudan. Selain itu, ada juga tawanan dari kalangan politisi, jurnalis, hingga personel pasukan koalisi yang telah lama dikurung.
Proses pemulangan tahanan akan dikoordinasikan oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC). Lembaga tersebut bertindak sebagai perantara netral untuk memastikan proses pembebasan berjalan lancar.
Kesepakatan di Amman merupakan fase pertama dari rencana pertukaran yang lebih besar. Rencana jangka panjang tersebut menargetkan pembebasan hingga hampir 3 ribu tawanan dari kedua belah pihak.
2. Staf PBB belum masuk daftar tahanan yang dibebaskan

Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg menyebut kesepakatan ini memberikan harapan bagi ribuan keluarga Yaman. Ia menilai hasil ini membuktikan bahwa perundingan yang tekun mampu mewujudkan prioritas utama rakyat.
"Ini adalah momen kelegaan yang luar biasa bagi ribuan warga Yaman yang telah menanti lama. Hasil ini adalah bukti nyata dari apa yang dapat dicapai oleh negosiasi yang berkelanjutan," ujar Grundberg, dilansir The National.
Namun, kesepakatan ini belum mencakup nasib puluhan staf PBB yang masih ditahan oleh kelompok Houthi. Kelompok tersebut masih menahan setidaknya 73 staf PBB dan pekerja kemanusiaan lainnya.
Grundberg berjanji bahwa pihaknya tidak akan pernah berhenti mendesak pembebasan para staf tersebut. Perwakilan pemerintah Yaman, Yahya Kazman, juga menekankan upaya organisasinya untuk perlahan mengosongkan seluruh penjara dari tawanan perang.
3. Yaman dan Houthi sepakat lanjutkan perundingan

Pemerintah Yaman dan Houthi setuju untuk segera menggelar pembicaraan lanjutan untuk gelombang pertukaran berikutnya. Kedua belah pihak juga telah memberikan izin untuk saling mengunjungi fasilitas penahanan milik satu sama lain.
"Isu tahanan tetap berada di garis depan prioritas utama kami. Kesepakatan ini merupakan sebuah pencapaian yang bersejarah," kata Kepala Dewan Politik Tertinggi Houthi Mahdi al-Mashat, dilansir Al Jazeera.
Sebelumnya, kedua pihak juga pernah melakukan pertukaran tahanan besar pada April 2023. Saat itu, hampir 900 tawanan berhasil dibebaskan dengan dukungan ICRC.
Sebagai informasi, konflik di Yaman pecah ketika kelompok Houthi mengambil alih ibu kota Sanaa pada 2014. Peristiwa itu langsung memicu intervensi militer koalisi pimpinan Arab Saudi pada tahun berikutnya demi membela pemerintah sah Yaman.


















