Banjir Nepal, 100 Pekerja Terjebak di Terowongan PLTA

- Tim darurat Angkatan Darat Nepal berupaya mengevakuasi sekitar 100 pekerja yang terjebak di terowongan PLTA Trishuli 3A setelah banjir bandang melanda wilayah pegunungan.
- Akses darat putus dan pintu terowongan tertimbun lumpur, sehingga dua helikopter dikerahkan untuk rappelling, pencarian akses, serta penyaluran medis dan logistik di tengah cuaca memburuk.
- Sebelumnya 350 pekerja dan warga telah diselamatkan, tetapi banjir bermaterial batu dan tanah menghancurkan fasilitas proyek di permukaan, menewaskan serta menghilangkan sejumlah pekerja dan pejabat proyek.
Jakarta, IDN Times – Tim darurat Angkatan Darat Nepal terus berpacu mengevakuasi sekitar 100 pekerja yang terjebak di dalam terowongan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), pada Jumat (28/8/2026). Operasi Search and Rescue (SAR) ini difokuskan di kawasan terisolasi pascabanjir bandang dahsyat menerjang wilayah pegunungan tersebut.
Otoritas setempat mengerahkan armada udara guna mendistribusikan kebutuhan pokok sekaligus menjangkau titik bencana di tengah cuaca yang kian memburuk.
1. Akses evakuasi udara terkendala timbunan lumpur tebal

Personel Angkatan Darat Nepal membawa jenazah para korban tewas banjir bandang (Prabin Ranabhat / AFP Angkatan Darat Nepal mengerahkan dua helikopter khusus untuk menjangkau lokasi terowongan PLTA Trishuli 3A. Namun, tim SAR di lapangan kesulitan melacak titik akses masuk lantaran tertimbun material lumpur tebal sisa banjir.
Terputusnya akses darat secara total memaksa tim penyelamat turun menggunakan tali (rappelling) dari helikopter guna menyisir lereng bukit. Selain mencari lorong masuk, militer juga mendistribusikan pasokan medis dan logistik ke posko pengungsian sementara bagi warga terdampak.
"Kami menghadapi tantangan operasional yang sangat besar karena sulit menemukan titik masuk terowongan akibat medan yang rusak parah," jelas Juru Bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet, dilansir dari The Guardian.
2. Ratusan pekerja berhasil diselamatkan di tengah cuaca ekstrem

Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang di Devighat, Bidur Municipality, distrik Nuwakot, Nepal pada 27 August 2026 (AFP/ (AFP/PRABIN RANABHAT) Sebelumnya, tim militer gabungan telah berhasil menyelamatkan 350 pekerja dan warga lokal dari area proyek. Operasi penyelamatan awal tersebut berlangsung dramatis lantaran petugas harus menembus arus deras dan cuaca ekstrem yang mengancam keselamatan.
Saat ini, personel militer terus menyisir lorong-lorong gelap guna memastikan seluruh korban yang tertinggal dapat segera dievakuasi. Struktur beton terowongan tersebut rupanya menjadi tempat berlindung yang aman ketika gelombang air menyapu bersih permukaan proyek.
"Pasukan kami terus bekerja keras untuk mengevakuasi secara aman lebih dari 100 orang yang dipastikan masih terjebak di dalam terowongan," ungkap pernyataan tertulis Kantor Perdana Menteri Nepal.
3. Air bah meluluhlantakkan fasilitas

Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang dan longsor Nepal pada 27 Agustus 2026 (AFP/PRABIN RANABHAT) Para korban selamat menceritakan dahsyatnya terjangan banjir saat meluluhlantakkan area kerja di luar terowongan. Air bah bermaterial batu dan tanah menyapu habis bangunan permukaan proyek beserta fasilitas pendukungnya di Lembah Trishuli.
Terjangan yang begitu cepat membuat para pekerja tidak sempat menyelamatkan diri ke dataran yang lebih tinggi. Akibatnya, bencana mendadak ini merenggut banyak korban jiwa, sementara sejumlah staf senior dilaporkan hilang terseret arus.
"Lebih banyak pekerja dan pejabat proyek yang tewas tersapu banjir di luar, dibandingkan mereka yang berhasil diselamatkan dari dalam terowongan," ujar salah satu pekerja proyek, Dev Shrestha.
















