Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Infeksi Virus Nipah Kembali Merebak, Asia Perketat Pengawasan Perbatasan

ilustrasi virus
ilustrasi virus (pexels.com/Daniel Dan)
Intinya sih...
  • Negara-negara Asia perketat pengawasan perbatasan
  • Cara penularan dan tingkat risiko Virus Nipah
  • Dampak klinis dan upaya penanganan medis
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Kemunculan kembali infeksi virus Nipah di wilayah Bengal Barat, India bagian timur, memicu kewaspadaan sejumlah negara Asia sejak Desember 2025. Dua petugas medis dinyatakan terpapar dan kini sedang menjalani penanganan intensif di fasilitas kesehatan setempat.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan India telah melakukan penelusuran terhadap 196 orang yang memiliki riwayat kontak dekat dengan pasien. Seluruh individu tersebut dipastikan negatif dan sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda terinfeksi.

Pihak berwenang India menegaskan kondisi terkini tetap berada di bawah kendali. “Situasi ini berada dalam pemantauan terus-menerus, dan semua langkah kesehatan masyarakat yang diperlukan telah diterapkan,” katanya pada Rabu (28/1/2026), dikutip dari Al Jazeera.

1. Negara-negara Asia perketat pengawasan perbatasan

ilustrasi peta Thailand-Kamboja
ilustrasi peta Thailand-Kamboja (pexels.com/Anthony Beck)

Beberapa negara di Asia bergerak cepat meningkatkan langkah antisipasi dengan memperkuat pemeriksaan di gerbang kedatangan internasional. Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Nepal memperketat skrining di bandara melalui pengisian formulir kesehatan, pengecekan suhu tubuh, serta observasi langsung terhadap penumpang. Thailand juga menyiapkan area parkir khusus bagi pesawat yang datang dari daerah terdampak serta memasang alat pemindai panas di Bandara Suvarnabhumi.

Myanmar mengambil langkah dengan meminta warganya menunda perjalanan nonmendesak menuju Bengal Barat. Vietnam dan China turut menambah kewaspadaan di pos perbatasan dan pusat layanan kesehatan. Di sisi lain, otoritas menepis kabar yang beredar tentang dugaan peningkatan kasus secara drastis dan menyebut informasi tersebut bersifat spekulatif serta tidak benar.

2. Cara penularan dan tingkat risiko Virus Nipah

ilustrasi virus
ilustrasi virus (pexels.com/CDC)

Dilansir Science Alert, Virus Nipah (NiV) merupakan patogen zoonotik yang berasal dari kelompok henipavirus dan umumnya berpindah dari kelelawar buah ke manusia. Penyebarannya dapat terjadi melalui tiga jalur utama, yakni kontak langsung dengan cairan tubuh kelelawar terinfeksi atau hewan perantara seperti babi dan kuda, konsumsi makanan maupun minuman yang terkontaminasi terutama nira kurma mentah atau buah yang telah tergigit kelelawar, serta penularan dari manusia ke manusia lewat kontak dekat dengan cairan tubuh pasien, meski jalur terakhir termasuk paling jarang terjadi.

Nilai reproduksi dasar virus ini biasanya berada di bawah angka 1 sehingga transmisi luas antarmanusia sulit berlangsung dan potensi menjadi pandemi tergolong sangat rendah.

3. Dampak klinis dan upaya penanganan medis

ilustrasi penelitian tentang virus
ilustrasi penelitian tentang virus (pexels.com/Martin Lopez)

Periode inkubasi penyakit Nipah berkisar antara 4-21 hari dengan durasi paling umum 5-14 hari. Gejala sering muncul secara tiba-tiba dan dapat berkembang menjadi berat karena virus menyerang sistem pernapasan dan saraf pusat yang kerap memicu peradangan otak akut.

Tanda-tanda yang umum ditemukan meliputi demam tinggi, nyeri kepala hebat, gangguan napas, kejang, gerakan tubuh tidak terkontrol, kelemahan atau kelumpuhan anggota gerak, kebingungan, perubahan perilaku, hingga penurunan kesadaran yang dapat berujung koma dalam waktu singkat 24-48 jam. Infeksi paru-paru juga sering menyertai kondisi tersebut.

Angka kematian akibat infeksi Nipah diperkirakan berada pada kisaran 40-75 persen dan jauh lebih tinggi dibandingkan banyak penyakit virus lain. Sebagian kecil pasien yang berhasil sembuh dilaporkan dapat mengalami radang otak kambuhan bertahun-tahun kemudian, bahkan lebih dari sepuluh tahun setelah terinfeksi pertama kali.

Catatan wabah pertama kali terjadi di Malaysia dan Singapura pada 1998 dengan lebih dari 250 orang terinfeksi, mayoritas pekerja peternakan babi dan rumah potong hewan, serta menelan korban jiwa lebih dari 100 orang. Sejak 2001, kasus kembali bermunculan di Bangladesh dan India, termasuk di Siliguri pada 2001, Bengal Barat pada 2007, serta berulang kali di Kerala mulai 2018 yang kini dinilai sebagai kawasan berisiko tinggi, dilansir dari NBC News.

Hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus yang telah disetujui untuk mengobati penyakit tersebut. Terapi yang diberikan masih sebatas penanganan suportif. Obat ribavirin pernah digunakan pada wabah 1999 di Malaysia, namun manfaatnya belum dapat dipastikan. Remdesivir memperlihatkan hasil menjanjikan sebagai langkah pencegahan pada primata dan membantu menekan angka kematian dalam wabah di Kerala 2023.

Sejumlah riset lain juga terus berjalan, termasuk pengembangan antibodi monoklonal m102.4 dari Australia yang telah lulus uji fase pertama pada 2020 dan menunjukkan keamanan pada sukarelawan sehat. Uji klinis fase kedua vaksin Nipah buatan Universitas Oxford telah dimulai di Bangladesh sejak Desember 2025.

Walaupun penyakit ini tergolong serius dan belum memiliki vaksin maupun terapi khusus yang tersedia luas, keterbatasan penularan dari manusia ke manusia membuat ancaman bagi masyarakat di luar wilayah terdampak tetap rendah. Negara-negara terkait terus melaksanakan pemantauan ketat dan menerapkan langkah pengendalian sesuai kebutuhan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More

Sidang Noel Ebenezer: 4 Orang Kejagung Minta Masing-Masing Rp1,5 M

02 Feb 2026, 20:51 WIBNews