Sindir Pakar, Prabowo: Dunia Itu Realitas Nyata, Bukan Keadaan Ideal

- Prabowo menekankan pentingnya memendam emosi demi melindungi rakyat sebagai pemimpin yang harus menjaga keselamatan bangsa di dunia nyata.
- Kekayaan alam Nusantara menjadi incaran bangsa lain, sehingga kewaspadaan adalah harga mati untuk menghindari penjajahan.
- Prabowo memuji keluhuran budi rakyat Indonesia yang tetap ramah meski dalam keadaan sulit, sebagai karakter asli bangsa yang tak tertandingi.
Bogor, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto memberikan pesan menohok yang mengingatkan para pejabat dan pakar agar tidak hanya terjebak dalam teori-teori ideal, melainkan harus melihat bagaimana kerasnya realitas dunia saat ini.
Prabowo secara terbuka memberikan "pesan cinta" kepada para akademisi dan pakar. Ia menegaskan, gelar tinggi juga perlu memahami hukum dasar dunia yang sering kali tidak adil.
"Dengan segala hormat kepada para pakar yang pintar dan bergelar, saya menghormati mereka. Namun, dunia ini adalah realitas nyata, bukan sekadar keadaan ideal. Hukum yang berlaku di dunia hari ini adalah yang kuat akan berbuat sekehendak mereka, dan yang lemah akan menderita," kata Prabowo.
1. Memendam emosi demi melindungi rakyat

Sebagai pemimpin, Prabowo mengaku sering kali harus menelan ego dan menahan emosi demi diplomasi. Menurutnya, menjadi idealis itu mudah, namun menjaga keselamatan bangsa di dunia nyata jauh lebih menantang.
"Tugas saya sebagai Presiden yang telah disumpah adalah menjaga bangsa dan rakyat ini. Terkadang, tidak mudah untuk melaksanakannya. Meskipun hati bergejolak, kita harus tetap tersenyum dan bersikap baik kepada semua demi melindungi rakyat. Kita tidak bisa emosional atau terlalu idealis karena kita hidup di dunia nyata," ujarnya.
2. Kekayaan alam Nusantara yang selalu jadi incaran

Prabowo mengingatkan sejarah kelam penjajahan yang menimpa Indonesia. Ia menegaskan bahwa kekayaan sumber daya alam kita adalah magnet bagi bangsa lain, sehingga kewaspadaan adalah harga mati.
"Mereka datang bukan untuk wisata; awalnya mereka datang untuk berdagang, lalu mereka menjajah karena melihat kekayaan kita. Kita tidak menginginkan perang, tetapi kita harus selalu siap untuk perang (Si vis pacem, para bellum). Kita tidak berniat mengancam siapa pun, tetapi sejarah membuktikan kita selalu diganggu," ungkap Prabowo.
3. Keluhuran budi rakyat Indonesia yang tak tertandingi

Di tengah kerasnya peta politik dunia, Prabowo memuji karakter asli bangsa Indonesia yang tetap ramah meski dalam keadaan sulit. Ia menceritakan kisah Presiden Singapura saat tersesat di Sulawesi Selatan sebagai bukti nyata.
"Keluarga itu sangat miskin, hanya makan nasi dengan lauk pisang. Namun, piring nasi dan pisang itu diberikan terlebih dahulu kepada tamu. Ini adalah sifat asli bangsa kita. Meskipun hidup sulit, kita tetap mendahulukan kepentingan tamu. Itulah keluhuran budi rakyat Indonesia," tutup Prabowo.















