Iran Desak Pemerintah RI Kutuk Serangan AS

- Kedubes Iran di Jakarta mendesak Pemerintah Indonesia mengutuk agresi militer Amerika Serikat dan Israel yang dianggap melanggar hukum internasional serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
- Iran menilai serangan tersebut bagian dari sejarah panjang permusuhan AS sejak kudeta 1953, mencakup sanksi ekonomi, dukungan terhadap Saddam Hussein, hingga pembunuhan tokoh militer senior pada 2020.
- Ribuan warga Iran berkumpul di Teheran untuk berkabung atas wafatnya Khamenei, sementara IRGC berjanji membalas dengan operasi besar terhadap Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk.
Jakarta, IDN Times - Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia mendesak Pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas dalam mengutuk agresi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Melalui pernyataan resminya, pihak Kedubes Iran menekankan pentingnya respons nyata dari pejabat Indonesia terhadap tindakan yang dianggap sebagai pelanggaran berat hukum internasional dan kedaulatan Iran tersebut.
"Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia, dengan menyampaikan apresiasi atas dukungan konsisten Pemerintah dan rakyat Indonesia serta menyambut kesiapan Presiden Republik Indonesia untuk melakukan mediasi dalam konflik ini, menegaskan pentingnya pengambilan sikap yang tegas oleh para pejabat Indonesia dalam mengutuk agresi dan kejahatan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel," tulis keterangan resmi Kedubes Iran dikutip Sabtu (1/3/2026).
Table of Content
1. Iran kutuk serangan AS dan Israel

Pihak Kedubes mengungkapkan agresi AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) pagi telah menargetkan sejumlah lokasi sipil di tengah suasana bulan suci Ramadan. Serangan tersebut menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, gugur di kantornya.
Selain fasilitas pemerintah, rudal-rudal tersebut turut menghancurkan sebuah sekolah dasar di Kabupaten Minab. Insiden ini mengakibatkan hampir 200 anak perempuan tak berdosa kehilangan nyawa.
Pihak Iran menuding klaim "bantuan" dari AS dan Israel hanyalah dalih menutupi aksi kekerasan, termasuk tuduhan keterlibatan kedua negara dalam membajak protes damai menjadi kerusuhan berdarah pada Januari 2026 lalu.
Narasi bantuan tersebut disamakan dengan jejak intervensi AS di Irak pada 2003, serta krisis di Libya dan Afghanistan yang dinilai hanya menyisakan kehancuran.
"Kini terlihat bagaimana mereka "membantu" rakyat Iran: dengan serangan rudal terhadap perempuan dan anak-anak tak berdosa di sekolah dasar, klub olahraga, rumah-rumah penduduk, dan lainnya, terlebih lagi di bulan suci Ramadan," tulis Kedubes Iran.
2. Rekam jejak permusuhan AS terhadap Iran

Kedubes Iran memaparkan agresi kali ini merupakan kelanjutan dari sejarah panjang permusuhan AS yang dimulai sejak kudeta terhadap PM Mohammad Mossadegh pada 1953.
"Permusuhan Amerika terhadap Iran bukanlah hal baru dan berakar dalam tujuh dekade sejarah Iran. Intervensi, agresi, dan permusuhan Amerika terhadap Iran dimulai dari kudeta 19 Agustus 1953 (28 Mordad 1332) yang menggulingkan pemerintahan Dr. Mohammad Mossadegh, Perdana Menteri Iran saat itu," tulis Kedubes Iran.
Rentetan tindakan tersebut mencakup sanksi ekonomi pasca-revolusi 1979 hingga dukungan penuh terhadap rezim Saddam Hussein selama delapan tahun perang yang menewaskan ratusan ribu orang.
Daftar kelam tersebut juga mencakup penembakan pesawat komersial Airbus pada 1988 oleh USS Vincennes, dukungan terhadap kelompok teror MKO, hingga pembunuhan komandan militer senior atas perintah Presiden Trump di Baghdad pada 2020.
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran mencatat peningkatan serangan yang melibatkan Israel dengan dukungan terbuka dari AS, termasuk penyerangan konsulat di Damaskus pada 2024, serangan fasilitas nuklir pada Juni 2025, hingga eskalasi kerusuhan awal tahun 2026 yang menelan ribuan korban jiwa dari warga sipil maupun aparat keamanan.
3. Ribuan orang Iran berkabung

Ribuan orang berkumpul di pusat ibu kota Iran untuk berkabung, setelah kematian Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei pada Minggu (1/3/2026). Khamenei dipastikan dalam serangan besar-besaran pertama oleh Amerika Serikat dan Israel sejak Sabtu.
Para pelayat, yang berkumpul pada Minggu di Lapangan Enghelab (Revolusi), sebagian besar mengenakan pakaian hitam dan beberapa di antara mereka menangis, dilansir Al Jazeera. Sejumlah orang tampak mengibarkan bendera Iran dan memegang foto Khamenei, saat serangan AS-Israel berlanjut hingga hari kedua.
Khamenei, pemimpin tertinggi Iran sejak 1989, tewas ketika kedua kekuatan tersebut berupaya menggulingkan pemerintah Iran. Televisi pemerintah Iran mengkonfirmasi kematian Khamenei pada Minggu pagi, beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pembunuhan ulama berusia 86 tahun itu yang ia gambarkan sebagai "salah satu orang paling jahat dalam sejarah".
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berjanji akan memberikan hukuman "berat dan tegas" kepada "para pembunuh" Khamenei dalam sebuah pernyataan. IRGC menambahkan bahwa mereka akan melancarkan operasi "paling ganas" dalam sejarah terhadap Israel dan pangkalan-pangkalan AS, yang terletak di negara-negara Teluk yang sudah menanggung akibat dari serangkaian serangan mematikan Iran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sementara itu, Irak mengumumkan masa berkabung selama tiga hari setelah kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia mengatakan pemerintah telah mengumumkan tiga hari masa berkabung.
"Dengan kesedihan mendalam, kami menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Iran yang mulia dan seluruh dunia Muslim" ujar juru bicara pemerintah Irak, Bassem al-Awadi.
















