Israel Bantah Pernah Serang Gedung Gaza yang Runtuh pada 16 September

- Militer Israel membantah pernah menyerang Gedung Al-Saada di Kota Gaza, yang runtuh pada 16 September 2026, menewaskan 21 warga Palestina termasuk 12 anak-anak dan melukai 45 orang.
- Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan serangan Israel pada 9 Oktober 2023 merusak fondasi serta beberapa lantai gedung, dan menyebut bantahan Israel sebagai upaya menghindari tanggung jawab.
- Gaza menyiapkan evakuasi dan pembongkaran 255 bangunan rusak berat; sekitar 3.000 bangunan dinilai berbahaya, sementara penanganan terkendala dana, alat berat, dan lokasi penampungan.
Jakarta, IDN Times - Militer Israel membantah pernah menyerang Gedung Al-Saada di Kota Gaza yang runtuh dan menewaskan 21 warga Palestina, termasuk 12 anak-anak. Sebanyak 45 orang lainnya terluka dalam insiden pada Rabu (16/9/2026) dini hari tersebut.
Kantor Media Pemerintah Gaza menolak pernyataan Israel dan menyebut serangan pada Oktober 2023 telah merusak fondasi serta lantai bawah gedung hingga menjadi penyebab langsung bangunan itu runtuh.
1. Israel bantah pernah menyerang Gedung Al-Saada

Kepulan asap besar membubung di antara bangunan-bangunan sipil di Gaza selama serangan udara Israel pada 17 Oktober 2023. (commons.wikimedia.org/Jaber Jehad Badwan) Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan dalam unggahan di X pada Rabu bahwa pihaknya tidak pernah menyerang Gedung Al-Saada. Pernyataan itu kemudian dibantah oleh Kantor Media Pemerintah Gaza.
"Bertentangan dengan klaim tersebut, IDF tidak menyerang gedung yang dimaksud selama perang," demikian pernyataan tersebut sebagaimana dikutip Anadolu Agency.
Pernyataan itu kemudian dibantah oleh Kantor Media Pemerintah Gaza. Pihak Gaza mengatakan bahwa gedung tersebut diserang Israel pada 9 Oktober 2023. Menurut kantor itu, serangan mengenai fondasi serta lantai pertama dan kedua hingga menyebabkan kerusakan struktural pada bangunan.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut pemeriksaan teknis, laporan lapangan yang terdokumentasi, dan kesaksian warga menunjukkan bahwa keterangan Israel tersebut tidak benar. Pihaknya menyatakan serangan sebelumnya menjadi menjadi penyebab langsung runtuhnya Gedung Al-Saada.
2. Gaza sebut Israel berupaya menghindari tanggung jawab

Kerusakan dan reruntuhan bangunan di Kota Gaza akibat serangan udara Israel pada 9 Oktober 2023. (commons.wikimedia.org/WAFA via APAimages) Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan bantahan Israel sebagai upaya menghindari tanggung jawab atas runtuhnya bangunan tersebut. Pihak Gaza juga memperingatkan masih ada puluhan gedung hunian lainnya yang berisiko runtuh setelah struktur dan fondasinya rusak selama genosida.
Kantor tersebut menyerukan kepada komunitas internasional, badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan organisasi hak asasi manusia untuk mendokumentasikan insiden tersebut serta kasus-kasus serupa, menuntut akuntabilitas melalui pengadilan internasional, dan memenuhi tanggung jawab mereka untuk melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil di Gaza.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan bahwa insiden Al-Saada menambah jumlah warga Palestina yang tewas akibat runtuhnya bangunan rusak selama perlawanan terhadap Israel menjadi 61 orang.
3. Gaza siapkan evakuasi dan pembongkaran 255 gedung

Tim penyelamat menggali puing-puing untuk mengevakuasi jenazah dari sebuah bangunan yang runtuh di kawasan Tal al-Hawa, Kota Gaza, pada 16 September 2026 (AFP/OMAR AL-QATTAA) Dilansir TRT World, Kantor Media Pemerintah Gaza mengumumkan rencana darurat untuk mengevakuasi dan membongkar 255 bangunan yang rusak berat dan dinilai berisiko runtuh. Program tersebut dipimpin Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan bersama lembaga lokal serta badan-badan PBB.
Tim lapangan diperintahkan memasang barikade peringatan di sekitar bangunan berbahaya dan mengoordinasikan tempat tinggal sementara. Komite teknik juga melakukan pemeriksaan untuk mendata bangunan rentan serta keluarga yang masih tinggal di dalamnya.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Palestina menyebut sekitar 3.000 bangunan telah dikategorikan berbahaya atau berisiko runtuh. Penanganannya menghadapi kekurangan pendanaan kemanusiaan, alat berat dan peralatan pembongkaran, serta lahan untuk menampung kembali warga yang mengungsi.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















