Italia Desak Uni Eropa Tetapkan Garda Revolusi Iran sebagai Teroris

- IRGC terlibat dalam pembunuhan massal demonstran di Iran
- Laporan media menyebutkan jumlah korban tewas mencapai ribuan jiwa
- Protes di Iran dipicu oleh masalah ekonomi dan inflasi yang tinggi
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Italia telah mendesak Uni Eropa untuk menetapkan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris. Desakan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, pada Senin (26/1/2026).
"Pada Kamis dalam pertemuan menteri luar negeri Eropa di Brussels, Belgia, aku mengusulkan, berkoordinasi dengan mitra lainnya, untuk memasukkan Korps Garda Revolusi Iran ke dalam daftar organisasi teroris. Aku juga mengusulkan sanksi individual terhadap mereka yang bertanggung jawab atas tindakan keji ini," tulis Tajani di laman X.
1. IRGC telah membunuh banyak demonstran di Iran

Desakan ini muncul karena IRGC terlibat dalam pembunuhan massal para demonstran yang melakukan protes terhadap Pemerintah Iran. Menurut laporan media oposisi Iran, Iran Internasional, demonstran yang tewas dalam protes tersebut sudah mencapai 36.000 jiwa.
Jumlah ini diketahui dari dokumen rahasia, laporan lapangan, keterangan staf medis, keterangan saksi, dan keterangan keluarga korban. Sebagian besar korban yang tewas dilaporkan dibunuh oleh IRGC dan sekutunya, milisi Basij. IRGC ditengarai mendapat komando dari pemerintah tertinggi Iran untuk membasmi para demonstran.
“Pembunuhan terorganisir di seluruh Iran menunjukkan bahwa penindakan brutal tersebut dilakukan dengan persetujuan dan kerja sama lembaga-lembaga negara dan atas perintah otoritas tertinggi Republik Islam Iran,” bunyi laporan Iran International.
2. Laporan serupa juga disampaikan Times Magazine

Laporan serupa juga disampaikan Times Magazine beberapa waktu lalu. Dalam artikelnya, majalah asal Amerika Serikat itu melaporkan korban tewas dalam aksi protes di Iran sudah mencapai lebih dari 30.000 jiwa.
Namun, semua laporan media tersebut sudah ditepis mentah-mentah oleh Menteri Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei. Ia mengatakan semua data yang dirilis media soal jumlah korban tewas dalam aksi protes di Iran adalah data palsu.
Bahkan, Baqaei menyebut media-media tersebut telah melakukan kebohongan sadis seperti yang dilakukan Adolf Hitler pada masa Perang Dunia. Sebab ia menilai laporan semua media tersebut menyesatkan dan berpotensi menimbulkan perpecahan.
“Bukankah ini jumlah yang mereka rencanakan untuk dibunuh di jalanan Iran? Namun, mereka gagal. Sekarang, mereka mencoba memalsukannya di media. Sungguh kejam!” ujar Baqaei.
3. Protes di Iran disebabkan oleh masalah ekonomi

Sebagai informasi, aksi protes yang terjadi di Iran disebabkan oleh masalah ekonomi. Sebab, kondisi ekonomi di sana makin carut marut karena kegagalan pemerintah.
Harga bahan pokok naik dan inflasi di sana dilaporkan mencapai angka 42,5 persen. Oleh karena itu, para warga melakukan protes di 111 kota yang ada di Iran. Mereka turun ke jalan dan berteriak untuk menuntut pemerintah memperbaiki keadaan.
Sayangnya, Pemerintah Iran justru menanggapi protes ini dengan cara anarkis. Mereka malah menyiksa hingga membunuh para demonstran yang melakukan protes terhadap pemerintah.

















