Mendikdasmen: Mudik Jadi Ajang Fixing, Bukan Flexing

- Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan mudik seharusnya dimaknai sebagai momen memperbaiki hubungan sosial dengan keluarga, bukan ajang pamer atau flexing.
- Ia menyebut konsep 'fixing' dalam mudik penting untuk memperkuat relasi sosial dan menumbuhkan semangat baru setelah kembali ke kampung halaman.
- Mu'ti menilai penguatan relasi sosial lewat mudik berperan besar menjaga kerukunan dan persatuan bangsa di tengah tantangan yang dihadapi masyarakat.
Jakarta, IDN Times – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengatakan, tradisi mudik Lebaran seharusnya dimaknai sebagai momentum untuk memperbaiki hubungan sosial dengan keluarga, bukan sekadar ajang pamer atau flexing.
“Saya sering menyebut mudik itu dengan social refreshing. Social refreshing itu pengertiannya dua. Pertama kita memperbaiki relasi sosial kita dengan keluarga, kemudian yang kedua kita juga memiliki spirit, ide-ide baru, semangat baru,” kata Mu'ti di Stasiun Pasar Senen, Senin (16/2/2026).
1. Mudik tidak sekadar menjadi sarana flexing

Menurut dia, mudik tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai kegiatan pulang kampung semata, tetapi juga sebagai momentum memperkuat hubungan dengan keluarga dan lingkungan sosial.
“Jadi mudik tidak sekadar menjadi sarana flexing. Karena sebagian justru mudik itu penginnya flexing saja,” kata dia.
2. Fixing yang penting memperbaiki relasi

Mu'ti menilai, mudik seharusnya menjadi sarana fixing, yakni memperbaiki hubungan sosial agar menjadi lebih baik.
“Tapi sarana fixing. Nah, flexing itu gak boleh. Tapi kalau fixing itu yang penting karena memperbaiki relasi sosial kita supaya lebih baik lagi,” kata dia.
3. Butuhkan kerukunan dan persatuan

Dia mengatakan, penguatan relasi sosial melalui mudik menjadi penting di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini.
“Dalam situasi sekarang kita sangat memerlukan kerukunan, memerlukan persatuan sehingga bangsa kita ini dapat terus maju membangun di tengah berbagai tantangan yang kita hadapi,” kata Mu'ti.
















