Banjir Terjang Kebun Binatang di China, 3 Singa Mati Tenggelam

- Banjir bandang akibat Topan Maysak merendam Kebun Binatang Guigang di Guangxi, menewaskan tiga singa yang tenggelam di kandang mereka.
- Lebih dari 100 satwa berbagai spesies hanyut terbawa arus setelah pagar pembatas rusak, sementara tim penyelamat dikerahkan mencari hewan yang hilang.
- Keputusan pengelola mengunci predator saat banjir menuai kritik PETA dan aktivis lingkungan yang mendesak aturan keselamatan serta jalur evakuasi satwa diperketat.
Jakarta, IDN Times - Banjir bandang akibat hantaman Topan Maysak merendam Kebun Binatang Guigang di Guangxi, wilayah barat daya China, pada Jumat (10/7/2026). Akibat peristiwa ini, tiga ekor singa ditemukan mati tenggelam di dalam kandang mereka.
Pihak pengelola mengambil langkah darurat dengan mengunci hewan predator di dalam kandang untuk mencegah mereka lepas ke permukiman warga. Keputusan ini memicu perdebatan luas terkait protokol perlindungan satwa saat terjadi bencana alam.
1. Alasan pengelola mengunci hewan predator di dalam kandang

Ketinggian air di Kebun Binatang Guigang melonjak hingga lebih dari dua meter dalam hitungan jam. Kondisi banjir yang cepat membuat seluruh staf harus segera mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman.
Petugas memutuskan tetap mengunci singa, beruang, dan serigala di kandang masing-masing demi menjaga keselamatan penduduk yang tinggal di sekitar kebun binatang.
"Kami tidak ingin memicu bahaya baru jika hewan-hewan ini lepas dan melukai warga saat banjir melanda," ujar Manajer Kebun Binatang Guigang, Yin Feifei, dilansir South China Morning Post.
Pilihan tersebut menyebabkan tiga ekor singa mati tenggelam. Sementara itu, beberapa beruang cokelat dan serigala dilaporkan selamat, meskipun mengalami stres akibat terendam air.
2. Ratusan satwa lepas dan hilang tersapu banjir

Selain menewaskan singa, banjir bandang juga merusak pagar pembatas kebun binatang. Akibatnya, lebih dari 100 ekor satwa dari berbagai spesies hanyut terbawa arus.
Satwa yang hilang antara lain rusa sika, alpaka, kuda poni mini, angsa, merak, babi mini, rakun, hingga coypu. Warga desa sempat menyelamatkan seekor rusa sika yang terapung di danau terdekat setelah badai mereda.
Otoritas setempat mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati satwa yang lepas secara mandiri. Beberapa hewan, seperti burung unta, berpotensi menyerang karena ketakutan.
Petugas kini telah mengerahkan tim khusus untuk menyisir kawasan hutan dan pemukiman guna mencari satwa yang hilang. Sebelumnya, seekor zebra jantan ditemukan mati di luar area kebun binatang.
3. Kritik organisasi perlindungan hewan terhadap kebijakan pengelola

Keputusan membiarkan satwa terperangkap di dalam kandang saat banjir melanda menuai kritik tajam dari organisasi hak asasi hewan internasional, PETA.
PETA menyatakan bahwa insiden di Guangxi ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pengelola fasilitas penangkaran satwa di wilayah rawan cuaca ekstrem.
"Tragedi ini harus menjadi peringatan bagi setiap kebun binatang yang berada di jalur cuaca ekstrem untuk bersiap lebih baik," kata Presiden PETA Asia, Jason Baker.
Para aktivis lingkungan juga mendesak pemerintah untuk memperketat aturan keselamatan hewan. Mereka meminta pembuatan jalur evakuasi khusus bencana di seluruh kebun binatang demi melindungi satwa dalam jangka panjang.




















