Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Indeks Panas Bangkok Berada di Zona Bahaya Selama 18 Hari Beruntun

Indeks Panas Bangkok Berada di Zona Bahaya Selama 18 Hari Beruntun
Cuaca panas (unsplash.com/Rajiv Bajaj)
Intinya Sih
  • Indeks panas di Bangkok bertahan pada kategori bahaya selama 18 hari berturut-turut sejak awal April 2026, dengan suhu terasa mencapai hingga 51,9 derajat Celcius akibat kelembapan tinggi.
  • Otoritas kesehatan memperingatkan risiko heatstroke dan gangguan medis serius bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta pekerja luar ruangan yang terpapar panas ekstrem.
  • Pemerintah Bangkok membuka pusat pendinginan dan membatasi aktivitas luar ruangan siang hari sambil mengimbau warga memantau indeks panas melalui aplikasi digital untuk mencegah dampak kesehatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Otoritas lingkungan Bangkok melaporkan bahwa indeks panas di ibu kota Thailand terus bertahan pada kategori bahaya selama 18 hari berturut-turut hingga Sabtu (18/4/2026). Cuaca panas yang disertai kelembapan tinggi ini membawa risiko kesehatan signifikan bagi warga sejak awal bulan. Kondisi tersebut mencatatkan salah satu periode panas terpanjang di wilayah metropolitan Bangkok.

Departemen Lingkungan Bangkok menyebutkan bahwa intensitas cuaca secara konsisten melampaui batas toleransi kenyamanan manusia setiap harinya. Warga diimbau untuk berhati-hati dan menjaga kondisi fisik, mengingat paparan cuaca panas dapat memicu komplikasi medis apabila tidak segera ditangani dengan langkah pendinginan tubuh yang tepat.

1. Indeks panas Bangkok capai level bahaya sejak awal April

ilustrasi Bangkok, Thailand
ilustrasi Bangkok, Thailand (unsplash.com/Alejandro Cartagena 🇲🇽🏳‍🌈)

Indeks panas merupakan parameter gabungan antara suhu udara dan tingkat kelembapan yang mengukur suhu yang sebenarnya dirasakan oleh tubuh manusia. Sejak 1 April hingga 18 April 2026, angka tersebut bertahan pada rentang bahaya antara 42 derajat Celcius hingga 51,9 derajat Celcius di seluruh Bangkok.

Departemen Lingkungan Administrasi Metropolitan Bangkok (BMA) menyatakan bahwa indikator ini lebih akurat untuk mengukur beban panas pada tubuh dibandingkan hanya memantau suhu termometer. Tingkat kelembapan yang tinggi di Asia Tenggara menghambat proses penguapan keringat, sehingga tubuh kesulitan mendinginkan diri secara alami.

"Indeks panas pada 18 April masih berada di kategori bahaya. Ini berarti sudah 18 hari berturut-turut sejak 1 April wilayah ibu kota berisiko tinggi bagi kesehatan," kata perwakilan Departemen Lingkungan BMA, dilansir The Star.

BMA membagi indeks panas menjadi empat klasifikasi. Kategori "bahaya" yang terjadi saat ini menuntut kewaspadaan publik karena risiko gangguan kesehatan meningkat seiring durasi paparan. Status tersebut dapat berubah menjadi "sangat berbahaya" apabila indeks panas melampaui 52 derajat Celcius.

Pada level tersebut, seluruh kegiatan di luar ruangan harus dihentikan untuk mencegah kegagalan fungsi organ akibat panas ekstrem. Meskipun suhu termometer menunjukkan angka 38 derajat Celcius hingga 40 derajat Celcius, kelembapan yang tinggi membuat panas yang dirasakan tubuh jauh di atas ambang batas aman.

2. Kelompok rentan berisiko tinggi terkena heatstroke

potret Kota Bangkok yang menghadapi risiko banjir dan penurunan tanah
potret Kota Bangkok yang menghadapi risiko banjir dan penurunan tanah (pexels.com/Sergei Gussev)

Paparan indeks panas pada level bahaya yang berlangsung selama belasan hari dapat memicu berbagai gangguan medis, mulai dari kelelahan berat, pusing, kram otot, hingga heatstroke (serangan panas) yang dapat berakibat fatal. Otoritas kesehatan Bangkok memetakan kelompok dengan tingkat kerentanan tertinggi, meliputi anak-anak, lansia di atas 60 tahun, ibu hamil, penderita penyakit kronis, individu dengan obesitas, dan mereka yang rutin mengonsumsi alkohol.

"Peringatan indeks panas sudah di tingkat berbahaya. Masyarakat umum diimbau untuk memantau kondisi fisik. Bagi kelompok rentan, segera cari bantuan medis jika merasakan gejala awal," ujar perwakilan Pusat Informasi Kualitas Udara BMA, dilansir National Thailand.

Dampak cuaca ekstrem ini diperburuk oleh fenomena urban heat island. Struktur bangunan beton dan jalan aspal menyerap radiasi matahari pada siang hari dan melepaskannya perlahan saat malam, sehingga tubuh tidak memiliki waktu pemulihan yang cukup dari tekanan suhu. Pekerja luar ruangan seperti pengemudi ojek, pekerja konstruksi, serta wisatawan diminta waspada terhadap tanda dehidrasi akut dan disorientasi sebagai indikator awal kegagalan sistem pengatur suhu tubuh.

3. Pemerintah buka pusat pendinginan dan batasi aktivitas luar ruangan

potret Kota Bangkok
potret Kota Bangkok (pexels.com/Wilfried Strang)

Merespons situasi tersebut, BMA bersama Departemen Meteorologi Thailand (TMD) merilis panduan keselamatan yang mengarahkan warga untuk mengurangi aktivitas luar ruangan pada pukul 11.00 hingga 15.00, saat indeks panas mencapai puncaknya. Masyarakat dianjurkan memanfaatkan platform digital seperti aplikasi AirBKK untuk memantau kondisi indeks panas terkini dan segera mencari tempat berlindung jika mulai mengalami keluhan fisik.

"Indeks panas diklasifikasikan sangat berbahaya jika angkanya lebih dari 52 derajat Celsius. Kami memohon masyarakat untuk menghindari aktivitas di luar ruangan," kata perwakilan Departemen Lingkungan BMA.

Para pakar iklim memperingatkan bahwa bertahannya indeks panas di zona bahaya ini merupakan dampak nyata dari perubahan iklim global. Proyeksi iklim jangka panjang menunjukkan suhu di Thailand berpotensi menyamai iklim Gurun Sahara pada tahun 2070.

Sebagai langkah mitigasi saat ini, pemerintah Bangkok telah mengoperasikan ratusan pusat pendinginan di berbagai distrik untuk memberikan tempat berlindung darurat bagi warga. Publik juga didorong untuk menjaga asupan cairan dan menggunakan pelindung diri seperti payung atau topi guna menekan dampak buruk cuaca ekstrem.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More