Jelang Pemilu, Dua Anggota Kampanye Capres Kolombia Tewas Ditembak

- Dua anggota tim kampanye calon presiden Kolombia, Abelardo De La Espriella, tewas ditembak di Cubarral, Provinsi Meta, dua minggu sebelum pemilu 31 Mei 2026.
- De La Espriella menuduh kelompok pemberontak pecahan FARC sebagai pelaku penembakan dan menyampaikan belasungkawa atas kematian dua stafnya yang disebut berdedikasi tinggi.
- Pihak berwenang Kolombia masih menyelidiki motif serta pelaku serangan, sementara insiden ini menambah kekhawatiran terhadap meningkatnya kekerasan politik menjelang pemilu.
Jakarta, IDN Times - Dua anggota tim kampanye dari calon presiden Kolombia, Abelardo De La Espriella, tewas dalam insiden penembakan di kawasan pedesaan Cubarral, Provinsi Meta, pada Jumat (15/5/2026) malam waktu setempat. Peristiwa mematikan ini terjadi hanya dua minggu sebelum pemilihan presiden negara tersebut yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Mei 2026.
Partai Defenders of the Homeland mengonfirmasi insiden tersebut pada Sabtu (16/5/2026). Pihak partai menyatakan bahwa kedua korban yang bernama Rogers Mauricio Devia dan Fabian Cardona diserang saat sedang bertugas membawa perlengkapan logistik kampanye.
1. Kronologi penembakan di jalan
Kedua korban sedang dalam perjalanan pulang dari Villavicencio, ibu kota Provinsi Meta, dengan mengendarai sepeda motor. Saat melintas di daerah pedesaan Cubarral, mereka dicegat oleh empat orang tidak dikenal yang juga menggunakan sepeda motor. Para pelaku langsung melepaskan tembakan ke arah korban.
Rogers, yang bertugas sebagai koordinator kampanye di wilayah itu, meninggal di lokasi kejadian. Sementara Fabian yang mengurus logistik sempat dibawa ke rumah sakit terdekat, namun nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal pada Sabtu pagi.
"Rogers adalah orang yang rajin dan bekerja keras untuk kegiatan politik ini. Saat tiba di kotanya, dia diserang oleh orang yang tidak dikenal," kata Manajer Nasional Wilayah Kampanye, Jaime Andrés Beltrán, dilansir Al Jazeera.
2. Tuduhan kepada kelompok pemberontak
Abelardo De La Espriella menanggapi kejadian ini melalui sebuah pernyataan video pada Sabtu (16/5/2026). Ia menuduh kelompok pemberontak pecahan dari Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC) sebagai pelaku penembakan, meski belum ada bukti resmi yang diterbitkan aparat.
Melalui media sosial pribadinya, ia juga menyampaikan belasungkawa dan menyebut kedua stafnya sebagai pekerja lapangan yang berdedikasi.
"Mereka dibunuh secara tidak adil. Satu-satunya kesalahan mereka adalah percaya pada negara ini. Pengorbanan mereka untuk kampanye ini tidak akan sia-sia," kata De La Espriella, dilansir CBS News.
3. Pihak berwenang Kolombia masih menyelidiki motif dan pelaku serangan
Hingga saat ini, pihak berwenang Kolombia masih menyelidiki motif dan pelaku serangan. Menteri Dalam Negeri Kolombia, Armando Benedetti, menyatakan bahwa aparat kepolisian sedang mengumpulkan bukti di lapangan. Di sisi lain, Kantor Ombudsman Kolombia menilai insiden ini berisiko mengganggu keamanan warga dalam menyalurkan hak suaranya.
"Kekerasan dan ancaman akan merusak ruang diskusi masyarakat, membahayakan tokoh politik, dan melemahkan sistem demokrasi," sebut perwakilan Kantor Ombudsman Kolombia.
Insiden ini menambah catatan kekerasan politik di Kolombia menjelang pemilu. Pada Juni 2025, kandidat presiden Miguel Uribe juga tewas ditembak saat kampanye di Bogota. De La Espriella, yang kini menempati posisi kedua dalam survei pemilihan, sebelumnya juga melaporkan adanya ancaman keamanan terhadap dirinya.










![[QUIZ] Tes Pengetahuan Sejarah Indonesia Masa Reformasi, Masih Ingat?](https://image.idntimes.com/post/20250318/quiz-tes-pengetahuan-sejarah-indonesia-masa-reformasi-masih-ingatkah-kamu-2-5f4a648289df145f94c868c762b88975.jpg)








