Serangan Bom di Kolombia, 14 Orang Tewas dan 36 Lainnya Terluka

- Ledakan bom di Jalan Raya Pan-Amerika, Cauca, Kolombia menewaskan 14 orang dan melukai 36 lainnya, dengan dugaan keterlibatan mantan anggota FARC yang menolak perjanjian damai 2016.
- Dalam dua hari terakhir terjadi 26 serangan di barat daya Kolombia, termasuk penembakan kantor polisi dan serangan drone bermuatan bahan peledak terhadap fasilitas radar penerbangan sipil.
- Gelombang kekerasan meningkat menjelang pemilu presiden Kolombia pada Mei 2026, memicu kekhawatiran keamanan bagi para kandidat yang kini berkampanye di bawah pengawalan ketat.
Jakarta, IDN Times - Sebuah bom meledak di wilayah barat daya Kolombia pada Sabtu (25/4/2026), menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai 36 lainnya. Polisi mengatakan tim penyelamat masih mencari beberapa orang yang dilaporkan hilang.
Dilansir dari France24, insiden ini terjadi di Jalan Raya Pan-Amerika di wilayah Cauca. Saking kuatnya ledakan, sejumlah bus dan van rusak parah, sementara beberapa kendaraan lainnya terbalik. Sebuah kawah besar juga terbentuk di badan jalan.
“Sebuah alat peledak diledakkan di Jalan Raya Pan-Amerika, di sektor El Túnel, Cajibío, dalam sebuah serangan membabi buta terhadap penduduk sipil,” tulis Gubernur Cauca, Octavio Guzmán, di akun media sosial X-nya.
1. Pihak berwenang mengklaim serangan tersebut dilakukan oleh mantan anggota FARC

Dalam konferensi pers, Komandan Angkatan Bersenjata Kolombia, Hugo López, mengatakan bahwa bom tersebut meledak setelah para pelaku menghentikan arus lalu lintas dengan memblokir jalan menggunakan sebuah bus dan kendaraan lainnya. Ia menuding serangan tersebut dilakukan oleh jaringan yang dipimpin oleh Iván Mordisco, salah satu buronan paling dicari di Kolombia, dan faksi Jaime Martínez.
Keduanya merupakan mantan anggota kelompok bersenjata Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC) yang menolak perjanjian damai dengan pemerintah pada 2016.
Presiden Kolombia Gustavo Petro, mengutuk keras serangan tersebut. Ia menyebut para pelakunya sebagai teroris, fasis, dan pengedar narkoba.
“Saya ingin tentara terbaik kita menghadapi mereka,” tambahnya.
2. 26 serangan terjadi di Kolombia dalam 2 hari terakhir

Sedikitnya 26 serangan terjadi di wilayah barat daya Kolombia dalam 2 hari terakhir. Beberapa di antaranya adalah penembakan di kantor polisi di daerah pedesaan Jamundi dan serangan terhadap fasilitas radar Penerbangan Sipil di El Tambo, di mana pihak berwenang berhasil menembak jatuh tiga drone bermuatan bahan peledak pada Sabtu. Tidak ada korban luka dalam peristiwa tersebut.
Sementara itu, pada Jumat (24/4/2026), dua kendaraan yang dipasangi alat peledak meledak di dekat unit militer di Cali dan Palmira. Insiden itu menyebabkan kerusakan material.
Dilansir dari Al Jazeera, peningkatan kekerasan di wilayah tersebut mendorong pejabat tinggi untuk turun tangan. Dipimpin oleh Menteri Pertahanan Pedro Sanchez, delegasi yang terdiri dari gubernur dan pemerintah daerah, sedang menggelar petemuan di Palmira saat ledakan terjadi.
“Kelompok ini berusaha menimbulkan ketakutan, namun kami akan menanggapinya dengan tegas,” tulis Sánchez di X.
3. Serangan meningkat jelang pemilu Kolombia

Keamanan menjadi salah satu isu utama menjelang pemilihan presiden Kolombia yang akan digelar pada 31 Mei 2026. Kekerasan politik kembali menjadi sorotan tajam pada Juni 2025, ketika kandidat presiden dari kubu konservatif yang saat itu unggul, Miguel Uribe Turbay, ditembak saat berkampanye di ibu kota, Bogotá.
Senator sayap kiri, Iván Cepeda, yang merupakan salah satu perancang kebijakan kontroversial Presiden Petro untuk bernegosiasi dengan kelompok bersenjata, kini memimpin dalam jajak pendapat. Ia diikuti oleh kandidat sayap kanan, Abelardo de la Espriella dan Paloma Valencia, yang sama-sama berjanji akan mengambil sikap tegas terhadap kelompok pemberontak.
Ketiganya dilaporkan menerima ancaman pembunuhan dan berkampanye di bawah pengamanan ketat.

















