Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Korban Gedung Runtuh di Gaza Naik Jadi 21, 45 Orang Berhasil Diselamatkan

3 min read
Korban Gedung Runtuh di Gaza Naik Jadi 21, 45 Orang Berhasil Diselamatkan
potret bendera Palestina (unsplash.com/Moslem Daneshzadeh)
  • Runtuhnya gedung Al-Saada di Kota Gaza menewaskan 21 warga, termasuk delapan anak, sementara 45 orang berhasil diselamatkan. Lebih dari 110 orang sebelumnya tinggal di bangunan tersebut.
  • Para penyintas terpaksa menempati gedung yang telah rusak karena minimnya tempat berlindung. Bangunan enam lantai itu dilaporkan miring dan rapuh setelah terkena serangan Israel.
  • PBB memperingatkan sekitar 400 bangunan rusak di Gaza berisiko ambruk. Sekitar 80 persen bangunan telah hancur atau rusak, dengan 1,2 juta orang tinggal di penampungan darurat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times  -  Jumlah korban tewas akibat runtuhnya gedung permukiman yang rusak karena serangan Israel di Kota Gaza bertambah menjadi 21 warga, termasuk delapan orang anak. Tim penyelamat juga berhasil mengeluarkan 45 orang dari reruntuhan sebelum operasi pencarian berakhir pada Kamis (17/9/2026). 

Lebih dari 110 orang diketahui tinggal di gedung tersebut sebelum ambruk pada Rabu (16/9) dini hari. Juru bicara Pertahanan Sipil Palestina di Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan kepada Reuters bahwa sekitar separuh korban luka juga merupakan anak-anak.

  1. 1. Penyintas terpaksa tinggal di gedung yang rusak

    Pengusiran paksa warga Palestina di Jalur Gaza yang hancur akibat pengeboman Israel pada 29 Januari 2025.
    Pengusiran paksa warga Palestina di Jalur Gaza yang hancur akibat pengeboman Israel pada 29 Januari 2025. (commons.wikimedia.org/Jaber Jehad Badwan)

    Pada Kamis, buldoser mulai membersihkan puing-puing gedung untuk menyiapkan lahan bagi tenda yang akan ditempati para penyintas. Salah seorang penyintas, Nader El-Ejlah, mengatakan bahwa keluarganya terpaksa pindah ke gedung bernama Al-Saada tersebut karena tidak menemukan tempat berlindung lain. 

    El-Ejlah kehilangan beberapa kerabatnya dalam peristiwa tersebut. Ia juga berujar bahwa masih ada orang yang nasibnya belum diketahui setelah operasi pencarian berakhir. 

    "Kami kehilangan keluarga kami. Masih ada orang-orang yang nasibnya belum diketahui hingga hari ini," kata El-Ejlah kepada Reuters

  2. 2. Gedung Al-Saada telah miring sejak terkena bom Israel

    kehidupan warga Palestina di kamp pengungsian Gaza
    potret kehidupan warga Palestina di kamp pengungsian Gaza (pexels.com/Hosny Salah)

    Sejumlah saksi mengatakan kepada BBC bahwa gedung enam lantai di kawasan Tal al-Hawa itu telah miring ke satu sisi setelah terkena serangan Israel lebih dari setahun lalu. Seorang warga yang pernah tinggal di dekat Al-Saada, Mansour Abu Mohammed, menambahkan bahwa bahwa batu-batu dari bangunan itu kerap berjatuhan setiap harinya sebelum berakhir ambruk. 

    Citra satelit menunjukkan kawasan di sekitar gedung tersebut telah diserang pada minggu-minggu awal genosida, sementara kerusakan pada bangunan itu sendiri baru tampak pada 2024. 

    Dalam pernyataan yang dikutip Al Jazeera, Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan gedung tersebut punya empat apartemen hunian di setiap lantai dan sebelumnya menjadi sasaran langsung. Mereka menyatakan bahwa bom Israel melemahkan struktur bangunan hingga akhirnya runtuh. 

  3. 3. PBB sebut sekitar 400 bangunan lainnya di Jalur Gaza terancam ambruk

    Kerusakan dan reruntuhan bangunan di Kota Gaza akibat serangan udara Israel pada 9 Oktober 2023.
    Kerusakan dan reruntuhan bangunan di Kota Gaza akibat serangan udara Israel pada 9 Oktober 2023. (commons.wikimedia.org/WAFA via APAimages)

    Kepala Kantor Program Pembangunan PBB (UNDP) di Gaza, Alessandro Mrakic, memperingatkan bahwa sekitar 400 bangunan lain yang rusak akibat genosida Israel berisiko ambruk, terutama menjelang musim dingin. 

    Menurut data PBB, sekitar 80 persen bangunan di Jalur Gaza telah hancur atau rusak sejak Oktober 2023. Lebih dari 1,9 juta orang atau sekitar 90 persen penduduk wilayah tersebut telah mengungsi, banyak di antaranya lebih dari sekali. Sekitar 1,2 juta orang kini tinggal di tenda atau tempat penampungan darurat. 

    Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, mendesak Israel mengizinkan masuknya alat berat untuk operasi penyelamatan serta tenda dan terpal bagi para pengungsi menjelang musim dingin. Sementara itu, Israel mengatakan pembatasan terhadap barang yang masuk ke Gaza bertujuan mencegah peralatan digunakan kelompok bersenjata. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More