Tindakan Israel tersebut telah meningkatkan kekhawatiran akan penghancuran atau penyembunyian bukti kejahatan perang. Pertahanan Sipil Palestina mengatakan bahwa lebih dari 630 jenazah dan sisa-sisa jasad manusia telah ditemukan dari bawah reruntuhan bangunan di seluruh Gaza sejak November 2025. Sementara itu, Otoritas Palestina (PA) memperkirakan lebih dari 8 ribu orang masih terkubur di bawah reruntuhan.
PBB: Israel Tak Hormati Jenazah yang Terkubur di Bawah Reruntuhan Gaza

- Kepala HAM PBB Volker Turk menilai Israel meratakan Gaza dengan buldoser tanpa menghormati jenazah di reruntuhan, memicu kekhawatiran bukti kejahatan perang dihancurkan atau disembunyikan.
- Pertahanan Sipil Palestina menemukan lebih dari 630 jenazah sejak November 2025, sementara lebih dari 8.000 orang diperkirakan masih tertimbun; PBB meminta dokumentasi dan identifikasi korban.
- PBB mengkritik penggunaan senjata peledak Israel di kawasan padat penduduk dan menyerukan penyelidikan; lima warga Palestina, termasuk dua anak, dilaporkan tewas dalam serangan terbaru.
Jakarta, IDN Times - Kepala hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Volker Turk, mengkritik tindakan Israel dalam membersihkan reruntuhan di Jalur Gaza. Ia mengatakan bahwa militer Israel terus meratakan wilayah tersebut dengan buldoser tanpa menghormati jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan.
"Sebagian besar wilayah Gaza telah diratakan akibat pengeboman Israel atau penghancuran dan pembersihan menggunakan alat berat serta bahan peledak. Saat ini, banyak area di Gaza tempat militer Israel dikerahkan terus diratakan oleh buldoser tanpa adanya penghormatan terhadap jenazah yang berada di bawah reruntuhan," kata Turk dalam pernyataan tertulis pada Selasa (15/9/2026), dikutip Anadolu.
1. Israel dituduh berusaha hancurkan atau sembunyikan bukti kejahatan perang

serangan Israel di Jalur Gaza (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons) Turk mengatakan bahwa ia khawatir jenazah yang telah ditemukan sejauh ini kemungkinan hanya sebagian kecil dari jumlah yang sebenarnya. Apalagi, sebagian besar wilayah Gaza telah rata akibat pengeboman Israel atau operasi pembongkaran dan pembersihan yang dilakukan setelahnya.
"Segala upaya yang memungkinkan harus dilakukan untuk mendokumentasikan dan mengidentifikasi para korban ini, melestarikan informasi forensik serta sampel biologis, mencatat lokasi pemakaman mereka, dan memberi tahu keluarga mereka," ujarnya.
2. PBB kritik operasi militer Israel di wilayah padat penduduk

Warga Palestina berkumpul di lokasi serangan Israel terhadap sebuah mobil yang menewaskan seorang pria dan seorang anak di Kota Gaza, pada 6 September 2026 (AFP/ OMAR AL-QATTAA) Pejabat PBB itu juga menyuarakan kekhawatirannya mengenai cara Israel dalam melancarkan operasi militernya, termasuk penggunaan senjata peledak di wilayah padat penduduk. Menurutnya, tindakan tersebut tidak dapat secara efektif membedakan antara warga sipil dan pejuang.
"Laporan mengenai tewasnya banyak anggota keluarga—termasuk anak-anak, perempuan, dan penyandang disabilitas—dalam serangan terhadap bangunan tempat tinggal menimbulkan kekhawatiran serius terkait kepatuhan terhadap aturan yang mengatur pelaksanaan permusuhan," kata Turk.
Ia juga menyerukan penyelidikan yang efektif terhadap serangan-serangan tersebut dan mendesak agar pihak-pihak yang terlibat dimintai pertanggungjawaban.
3. Lima warga Palestina tewas akibat serangan Israel di Gaza

kehancuran di Jalur Gaza akibat serangan militer Israel (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons) Sementara itu, pelanggaran gencatan senjata oleh Israel terus berlanjut di Gaza. Pada Selasa (15/9/2026), sedikitnya lima warga Palestina, termasuk dua anak dan seorang komandan Hamas, dilaporkan tewas akibat serangan Israel di wilayah utara dan selatan Gaza, dilansir BBC.
Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 1.375 warga Palestina tewas dan 4.686 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober 2025. Angka-angka tersebut menjadikan total warga Palestina yang tewas akibat perang genosida Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 mencapai hampir 74 ribu orang, dengan lebih dari 174 ribu lainnya terluka.




















