Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Membangun Generasi di Tengah Tantangan Era Digital

Membangun Generasi di Tengah Tantangan Era Digital
forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat, 4 September 2026. (Dok. Generasi Indonesia Bertutur)
  • Forum Generasi Indonesia Bertutur menyoroti perlunya manusia dan institusi menjaga arah perubahan di tengah dominasi teknologi, korupsi, banjir informasi, dan tantangan identitas budaya.
  • Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menekankan kebutuhan informasi kredibel berbasis bukti serta generasi muda yang menjadi pencipta gagasan, bukan sekadar pengguna teknologi.
  • Abraham Samad meminta pembenahan sistem hukum untuk melawan state capture corruption, sementara Fadli Zon dan Rhenald Kasali menekankan budaya, literasi, dan kesadaran menghadapi dampak teknologi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Perubahan datang dari segala arah, tetapi persoalannya bukan lagi seberapa cepat Indonesia berubah. Persoalannya adalah apakah Indonesia masih mampu mengendalikan arah perubahan itu. Teknologi menguasai perhatian manusia, korupsi menyusup ke dalam kekuasaan, ruang publik dibanjiri informasi, sementara kebudayaan dituntut menjadi jangkar identitas.

Empat persoalan tersebut mengemuka dalam forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat, 4 September 2026. Empat narasumber berbicara dari medan berbeda, tetapi menunjuk persoalan yang sama: Indonesia membutuhkan manusia dan institusi yang mampu tetap memegang kendali di tengah perubahan. Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat berbicara tentang nalar. Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad tentang integritas kekuasaan.

Kemudian, Menteri Kebudayaan Fadli Zon berbicara tentang identitas. Lalu Pakar perubahan Rhenald Kasali memaparkan tentang kesadaran manusia menghadapi teknologi.

  1. 1. Masyarakat akhirnya cari informasi kredibel, terverifikasi, berimbang, dan berpijak pada bukti

    forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat, 4 September 2026. (Dok. Generasi Indonesia Bertutur)
    Forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat, 4 September 2026. (Dok. Generasi Indonesia Bertutur)

    Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, melihat ancaman dari perubahan ruang publik. Demokrasi membutuhkan percakapan dan nalar, tetapi ruang digital justru berpotensi mengubah nalar publik menjadi emosi.

    “Banjir informasi bisa membawa lumpur. Ruang digital dapat dipenuhi hoaks, sensasi, kemarahan, kebencian, berbagai bentuk noisy. Tetapi saya percaya pada akhirnya masyarakat akan mencari air bersih,” kata Komaruddin, dalam keterangan pers, Sabtu (5/9/2026).

    Menurut Komaruddin, 'air bersih' itu adalah informasi yang kredibel, terverifikasi, berimbang, dan berpijak pada bukti. Ia juga mengingatkan kecerdasan artifisial (AI) adalah “agent without feeling, tanpa hati”. Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi.

    “Jangan puas menjadi content creator. Jadilah idea creator,” ujarnya.

  2. 2. Korupsi Indonesia telah mencapai bentuk yang lebih berbahaya

    Mantan Ketua KPK Abraham Samad dalam forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat, 4 September 2026. (Dok. Generasi I
    Mantan Ketua KPK Abraham Samad dalam forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat, 4 September 2026. (Dok. Generasi Indonesia Bertutur)

    Dari ruang publik, persoalan bergerak ke pusat kekuasaan. Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad menyebut, korupsi Indonesia telah mencapai bentuk yang lebih berbahaya: state capture corruption. Bukan sekadar orang mencuri uang negara, melainkan kepentingan tertentu yang dapat memengaruhi kebijakan dan institusi negara.

    “Ternyata Indonesia sampai detik ini belum mampu melawan bahkan memberantas korupsi yang sifatnya state capture corruption,” kata Samad.

    Masalahnya, kata Samad, berada pada sistem penegakan hukum itu sendiri. Ketika aparat tidak independen atau menyalahgunakan kekuasaan, pemberantasan korupsi dapat kehilangan tujuannya.

    “Jangan pernah berharap pemberantasan korupsi bisa ditangani oleh aparat penegak hukum yang abuse of power,” ujarnya.

    Karena itu, Indonesia membutuhkan pembenahan sistem peradilan pidana dan grand design pemberantasan korupsi yang menyeluruh.

  3. 3. Kebudayaan bukan sekadar nation state, tetapi juga civilizational state

    Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat, 4 September 2026. (Dok. Generasi Ind
    Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat, 4 September 2026. (Dok. Generasi Indonesia Bertutur)

    Pada kesempatan sama, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menawarkan jawaban dari sisi identitas. Di tengah perubahan yang cepat, ia melihat kebudayaan bukan ornamen, melainkan fondasi. Indonesia, kata dia, bukan sekadar nation state, tetapi juga civilizational state dengan lapisan peradaban panjang dan keragaman budaya yang besar.

    “Budaya ini bukan cost center. Tapi budaya itu adalah investment, investasi,” ujar Fadli.

    Fadli mengatakan kebudayaan dapat menjadi modal ekonomi, soft power, sekaligus kekuatan yang menjaga Indonesia tetap memiliki pijakan ketika dunia berubah.

  4. 4. Pengetahuan di mana-mana, tapi teknologi dapat memperlebar kesenjangan

    Forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat, 4 September 2026. (Dok. Generasi Indonesia Bertutur)
    Pakar perubahan Rhenald Kasali di Forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat, 4 September 2026. (Dok. Generasi Indonesia Bertutur)

    Namun, perubahan paling dekat dengan manusia datang dari teknologi. Pakar perubahan Rhenald Kasali menyebutnya human disruption. Teknologi tidak lagi hanya mengubah perusahaan atau pekerjaan, tetapi mulai mengubah perhatian, pilihan, kenyamanan, perilaku, dan identitas manusia.

    “Human disruptions adalah suatu keadaan ketika teknologi bukan hanya merubah bisnis, bukan hanya merubah kegiatan-kegiatan, tapi merubah manusianya, aktornya,” kata Rhenald.

    Algoritma dapat mengarahkan perhatian. Terlalu banyak pilihan dapat membingungkan. Kenyamanan mengubah perilaku. Internet bahkan ikut membentuk identitas. Di sinilah paradoks perubahan muncul. Teknologi membuat pengetahuan tersedia di mana-mana, tetapi tidak otomatis membuat manusia lebih berdaya.

    “Monopoli pengetahuan bukan lagi berada di tangan kampus atau di sekolah. Sekarang pengetahuan ada di mana-mana,” ujar Rhenald.

    Tanpa kesadaran dan literasi digital, Rhenald memperingatkan, teknologi justru dapat memperlebar kesenjangan.

    Itulah inti Generasi Indonesia Bertutur: bukan sekadar membicarakan perubahan, melainkan mencari cara agar Indonesia tidak kehilangan arah ketika perubahan semakin cepat. Sebab teknologi dapat mengubah manusia, kekuasaan dapat membelokkan negara, dan informasi dapat mengaburkan kebenaran.

    Pada akhirnya, yang menentukan masa depan bukan hanya seberapa cepat perubahan terjadi, tetapi siapa yang mampu membaca, mengendalikan, dan memberi arah pada perubahan tersebut.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More