Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Lecehkan Murid, Eks Pekerja Penitipan Anak di Inggris Dibui 18 Tahun

ilustrasi palu hakim (unsplash.com/Wesley Tingey)
ilustrasi palu hakim (unsplash.com/Wesley Tingey)
Intinya sih...
  • Chan sering melakukan pelecehan saat anak-anak tidur siang, menggunakan iPad untuk merekam aksinya
  • Kejahatan Chan merusak kepercayaan terhadap tempat penitipan anak dan menyakiti keluarga korban
  • Puluhan keluarga menggugat Bright Horizons karena dianggap mengabaikan perlindungan anak dan pemerintah mempertimbangkan pemasangan kamera keamanan di tempat penitipan anak
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Seorang mantan pekerja penitipan anak di Inggris dijatuhi hukuman penjara selama 18 tahun karena melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak dan mengoleksi lebih dari 26 ribu foto tidak senonoh mereka.

Vincent Chan, 45 tahun, mengaku bersalah atas 56 tindak kejahatan seksual, termasuk lebih dari 30 kasus yang melibatkan anak-anak. Korbannya termasuk empat anak perempuan berusia 3 dan 4 tahun yang mengalami pelecehan saat jam tidur siang di tempat penitipan anak di London utara.

Saat menjatuhkan hukuman pada Kamis (12/2/2026), hakim John Dodd KC mengatakan bahwa kejahatan yang dilakukan Chan sangat jahat, menyimpang, dan bejat. Ia juga menyebutkan, koleksi foto yang dimiliki pria tersebut menunjukkan adanya obsesi seksual yang mendalam terhadap anak-anak.

“Setiap orang yang waras yang mendengar tentang kejahatan Anda akan merasakan jijik dan tidak percaya. Anda telah menjadi predator seksual dan seseorang yang jelas kehilangan seluruh kompas moralnya," ujarnya.

1. Chan kerap melancarkan aksinya saat anak-anak sedang tidur siang

ilustrasi anak-anak di sekolah
ilustrasi anak-anak di sekolah (unsplash.com/CDC)

Aksi kejahatan Chan dimulai pada 2011, saat ia bekerja di sebuah sekolah dasar di Finchley, di mana ia mengaku pernah merekam bagian bawah rok siswi di ruang kelas. Ia bekerja di sana dari 2017 hingga 2017

Selanjutnya, ia bekerja di tempat penitipan anak Bright Horizons di West Hampstead selama 7 tahun hingga akhirnya diskors pada 2024, ketika kejahatannya terungkap. Chan disebut menggunakan iPad yang disediakan oleh fasilitas tersebut untuk merekam aksinya saat melakukan pelecehan terhadap anak-anak. Terkadang ia menargetkan korban saat jam tidur siang. Korban termudanya diketahui berusia 6 bulan.

Dilansir dari Sky News, sedikitnya 26 ribu foto anak tidak senonoh ditemukan di perangkatnya, yang disusun ke dalam folder berdasarkan nama-nama korban. Hakim mengatakan bahwa 280 video dan 1.204 foto yang ada termasuk dalam “kategori A”, klasifikasi paling serius karena menggambarkan tindakan seksual dengan penetrasi.

Meski mengaku bersalah, Chan belum mengungkap motif perbuatannya tersebut. Polisi meyakini bahwa ia bertindak seorang diri dan tidak membagikan foto-foto tersebut kepada orang lain.

2. Kejahatan Chan telah merusak kepercayaan terhadap tempat penitipan anak

ilustrasi anak-anak di pusat penitipan anak (unsplash.com/BBC Creative)
ilustrasi anak-anak di pusat penitipan anak (unsplash.com/BBC Creative)

Dilansir dari The Straits Times, jaksa Philip Stott mengatakan kepada pengadilan bahwa perbuatan Chan telah merusak kepercayaan terhadap tempat penitipan anak. Tindakannya disebut tidak hanya menyakiti anak-anak yang menjadi korban, tetapi juga setiap keluarga yang telah mempercayakan anak-anak mereka dalam pengawasannya.

“Ini adalah mimpi buruk setiap orang tua. Keluarga tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata penderitaan yang ditimbulkan ketika menerima surat seperti itu secara tiba-tiba,” kata Stott, merujuk pada pemberitahuan bahwa anak-anak mereka mungkin menjadi korban.

Dalam sebuah pernyataan, keluarga anak-anak yang pernah belajar di Bright Horizons nursery di West Hampstead, yang kini telah ditutup, mengungkapkan bahwa kejahatan Chan telah menciptakan luka permanen di hati mereka.

“Ketakutan yang kami rasakan atas pelanggaran kejam terhadap anak-anak kami tidak akan pernah hilang. Kenangan biasa dari masa kanak-kanak awal kini ternodai oleh keraguan, kecemasan, dan rasa bersalah,” kata mereka.

3. Puluhan keluarga ajukan gugatan hukum terhadap Bright Horizons

ilustrasi anak-anak (unsplash.com/Larm Rmah)
ilustrasi anak-anak (unsplash.com/Larm Rmah)

Menurut firma hukum Leigh Day, sebanyak 50 keluarga telah bergabung dalam gugatan hukum terhadap jaringan penitipan anak Bright Horizons, yang dituduh telah mengabaikan kekhawatiran mereka terkait perlindungan anak.

“Para orang tua mengatakan saya pernah mendengar pria ini berteriak dan mencaci-maki anak-anak. Mereka hanya diberitahu, 'oh, itu Vincent, suaranya memang keras," kata Alison Millar, dari Leigh Day.

Dalam pernyataannya, Bright Horizons menegaskan bahwa tindakan Chan keji dan licik serta bertentangan dengan kebaikan dan kepedulian yang diberikan oleh para profesional mereka kepada anak-anak setiap hari.

“Kami berkomitmen untuk memahami apa yang telah terjadi agar dapat mengambil pelajaran dari peristiwa mengerikan ini,” kata Bright Horizons, seraya menambahkan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan seorang pakar untuk meninjau praktik mereka guna memastikan standar perlindungan anak yang terbaik.

Sementara itu, Perdana Menteri Keir Starmer, pada Rabu (11/2/2026), mengatakan pemerintah sedang mempertimbangkan apakah akan mewajibkan pemasangan kamera keamanan di tempat penitipan anak, mengingat banyaknya kasus pelecehan di pusat penitipan anak di Inggris yang terkuak dalam beberapa tahun terakhir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

NATO Sebut Tentara Rusia Rapuh Tanpa Jaringan Internet Starlink

16 Feb 2026, 08:09 WIBNews