Menag Perkirakan 500 Ribu Jemaah Padati Masjid Istiqlal saat Salat Id

- Lebih dari 500 ribu jemaah memadati Masjid Istiqlal saat Salat Idulfitri 1447 H, melampaui kapasitas normal dan meluber hingga ke area sekitar masjid.
- Pelaksanaan salat berlangsung aman tanpa insiden berkat pengamanan ketat dengan dukungan 360 CCTV serta koordinasi aparat keamanan yang sigap.
- Kesuksesan acara didukung koordinasi lintas pihak, termasuk simulasi pra-acara, pengaturan parkir luas, dan kerja sama dengan kawasan sekitar seperti Katedral dan Monas.
Jakarta, IDN Times - Salat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (21/3/2026), dipadati ratusan ribu jemaah. Antusiasme masyarakat terlihat dari membludaknya kehadiran hingga meluber ke berbagai area di sekitar masjid.
Imam Besar Masjid Istiqlal yang juga Menteri Agama, Nasaruddin Umar, memperkirakan jumlah jemaah yang hadir mencapai lebih dari 500 ribu orang. Jumlah ini melampaui kapasitas normal masjid yang selama ini menjadi pusat kegiatan keagamaan nasional.
“Iya kalau penuh begini ya di atas saja itu 250 ribu ya kan (kapasitasnya). Nah, tadi itu sampai di bawah juga gak bisa, ada yang kesulitan masuk gitu ya, itu mungkin di atas 500 ribu,” tutur Nasaruddin kepada awak media.
Nasaruddin menyebut lonjakan jumlah jemaah tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, mencerminkan tingginya semangat masyarakat dalam merayakan Idul Fitri.
1. Antusiasme jemaah meluber ke berbagai area

Nasaruddin mengakui kepadatan jemaah membuat saf salat meluas hingga ke luar area utama masjid. Kondisi ini menunjukkan peningkatan signifikan dibanding pelaksanaan sebelumnya.
“Istiqlal ini adalah dua kali lipat lebih ramai daripada sebelum-sebelumnya. Dan seperti yang Anda lihat, luar biasa sampai meluber ke mana-mana jemaah kita ya,” katanya.
Jemaah yang tidak tertampung di dalam masjid memanfaatkan area sekitar untuk tetap mengikuti salat berjamaah. Hal ini membuat kawasan sekitar Istiqlal dipenuhi lautan manusia sejak pagi hari.
Meski demikian, suasana tetap berlangsung tertib dan khidmat, dengan jemaah mengikuti rangkaian ibadah dengan lancar.
2. Pengamanan ketat, Salat Id tanpa insiden

Di tengah kepadatan jemaah, pelaksanaan salat Id berlangsung aman tanpa gangguan. Nasaruddin menegaskan tidak ada insiden yang terjadi selama kegiatan berlangsung.
“Dan zero accident, ini juga perlu kita syukuri. Gak ada kecelakaan, gak ada pencurian, gak ada pencopetan, karena di sini ada 360 CCTV, dan itu canggih karena begitu ada fenomena, itu saling sahut-menyahut itu ya CCTV itu untuk menemukan,” ujarnya.
Menag menjelaskan, sistem pengamanan didukung teknologi pemantauan yang terintegrasi, sehingga potensi gangguan dapat diantisipasi dengan cepat.
Selain itu, aparat keamanan yang terlibat, mulai dari petugas internal hingga unsur negara, bekerja secara terpadu menjaga ketertiban.
3. Koordinasi lintas pihak dan dukungan luas

Kelancaran pelaksanaan salat Id, menurut Nasaruddin, tidak lepas dari persiapan matang yang dilakukan sejak jauh hari. Berbagai simulasi telah dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan jemaah.
“Jadi satpam, kemudian aparat termasuk Paspampres itu kompak banget ya. Tiga hari sebelum Lebaran kita sudah melakukan simulasi-simulasi termasuk pengaturan parkirnya di bawah itu bisa muat 1.000,” ujarnya.
Koordinasi juga dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk pengelola kawasan sekitar. “Kami kerja sama dengan Katedral, semua lapangan parkir di sekitar sini ini kita sudah adakan meeting sebelumnya supaya nanti jangan sampai nanti ada kesulitan tempat parkir. Sampai ke Monas itu ya, bus-bus itu parkir di situ kemudian jemput lagi di sini,” sambungnya.
Ia juga mengapresiasi peran media dalam menyebarluaskan syiar Istiqlal hingga menjangkau masyarakat luas. “Saya juga berterima kasih kepada media ya, mungkin berkah karena media yang sangat toleran dan kuat partisipasinya dengan Istiqlal, maka syiarnya semakin ramai. Tadi malam kita bertakbir bersama dengan Brunei, Malaysia, Singapura,” tuturnya.
Pelaksanaan salat Id tahun ini pun menjadi salah satu momen terbesar di Istiqlal, baik dari sisi jumlah jemaah maupun koordinasi lintas pihak yang terlibat.















