Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

AS Jual Senjata Rp279 triliun ke Negara Teluk Saat Perang Iran

AS Jual Senjata Rp279 triliun ke Negara Teluk Saat Perang Iran
pesawat tempur F-16 (Master Sgt. Andy Dunaway, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Pemerintah AS menyetujui penjualan senjata senilai Rp279 triliun ke UEA, Kuwait, dan Yordania tanpa persetujuan Kongres, menggunakan wewenang darurat di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
  • Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke fasilitas energi negara Teluk sebagai balasan atas kampanye udara AS-Israel, memicu lonjakan harga minyak global hingga 50 persen.
  • Pentagon mengajukan tambahan dana perang sebesar 200 miliar dolar AS untuk memperkuat stok amunisi, yang berpotensi menaikkan anggaran militer tahunan AS menjadi lebih dari 1 triliun dolar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS), pada Kamis (19/3/2026), menyetujui penjualan senjata senilai 16,5 miliar dolar AS (sekitar Rp279 triliun) kepada Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Yordania. Persetujuan diberikan di tengah eskalasi perang yang terus memanas antara AS, Israel, dan Iran.

Penjualan kali ini tidak melewati proses persetujuan Kongres AS karena Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menggunakan wewenang darurat di tengah gentingnya situasi keamanan di Timur Tengah. Pasalnya, fasilitas-fasilitas minyak negara Teluk telah menjadi target serangan balasan dari Iran.

1. Rincian penjualan senjata ke tiga negara

bendera Uni Emirat Arab
bendera Uni Emirat Arab (unsplash.com/Saj Shafique)

Kuwait menyepakati salah satu paket persenjataan tunggal terbesar senilai 8 miliar dolar AS (Rp135 triliun). Dana tersebut dialokasikan untuk sistem radar sensor pertahanan udara dan rudal tingkat bawah.

UEA akan menerima paket persenjataan militer senilai lebih dari 8,4 miliar dolar AS (Rp142 triliun) yang mencakup radar pelacak ancaman rudal balistik jarak jauh seharga 4,5 miliar dolar AS (Rp76 triliun). Abu Dhabi juga membeli sistem penangkal drone, rudal udara-ke-udara, serta amunisi mutakhir untuk jet tempur F-16.

Sementara itu, Yordania mendapatkan alokasi dukungan militer senilai 70,5 juta dolar AS (Rp1,1 triliun) yang berfokus pada pemeliharaan, logistik, dan dukungan amunisi untuk armada udara mereka. Armada penerbangan yang masuk dalam program perawatan ini meliputi pesawat tempur F-16, C-130, dan F-5.

"Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan mitra pertahanan utama," kata perwakilan Kementerian Luar Negeri AS, dilansir Al Jazeera.

Pengadaan senjata bernilai fantastis ini juga menguntungkan sejumlah perusahaan manufaktur alutsista raksasa AS. RTX Corporation, Northrop Grumman, dan Lockheed Martin Corporation akan menjadi kontraktor utama yang memproduksi pesanan tersebut.

2. Serangan balasan Iran sasar fasilitas energi

bendera Iran. (unsplash.com/mostafa meraji)
bendera Iran. (unsplash.com/mostafa meraji)

Jual beli senjata terjadi setelah Iran meluncurkan rentetan serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk. Aksi tersebut merupakan balasan atas kampanye udara besar-besaran AS dan Israel sejak akhir bulan lalu, termasuk yang menghantam fasilitas gas alam Pars.

Rentetan proyektil Iran telah menyebabkan kerusakan pada pabrik produksi gas terbesar di Qatar. Selain Qatar, serangan Iran juga menargetkan kilang minyak Arab Saudi dan memicu kebakaran hebat di dua pabrik Kuwait. Eskalasi ancaman udara memaksa UEA untuk menutup sejumlah fasilitas gas mereka.

Konflik di Timur Tengah telah berdampak pada stabilitas pasar energi global. Harga minyak mentah dunia tercatat melonjak tajam hingga sekitar 50 persen sejak serangan gabungan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari.

Pemerintah Arab Saudi telah mengalihkan sebagian besar jalur ekspor minyak dan gasnya ke pesisir Laut Merah untuk menghindari ancaman Iran di Selat Hormuz.

"Kami tidak akan segan-segan untuk mempertahankan negara dan sumber daya ekonomi kami," ungkap Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan, dilansir Al-Monitor.

3. Pentagon akan ajukan tambahan dana perang

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. (U.S. Secretary of Defense, Public domain, via Wikimedia Commons)
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. (U.S. Secretary of Defense, Public domain, via Wikimedia Commons)

Selain menyetujui penjualan senjata ke negara Teluk, pemerintah AS juga sedang mencari dana tambahan perang dari Kongres. Kementerian Pertahanan AS dilaporkan sedang mengajukan tambahan dana hingga 200 miliar dolar AS (Rp3,3 kuadriliun) untuk mengisi kembali stok amunisi.

Jika disetujui, angka ini akan meningkatkan anggaran militer tahunan AS menjadi lebih dari 1 triliun dolar AS untuk tahun fiskal 2026. Sebelumnya, Pentagon telah menerima suntikan tambahan dana 150 miliar dolar AS (Rp2,5 kuadriliun) melalui undang-undang pajak bulan Juli.

“Tentu saja butuh uang untuk membunuh orang-orang jahat,” tutur Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dilansir Al Jazeera.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More