Mojtaba Khamenei, Putra Mendiang Ali Khamenei yang Kabarnya Gantikan Sang Ayah

- Mojtaba Khamenei, putra mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, disebut sebagai calon kuat penerus ayahnya meski belum pernah memegang jabatan pemerintahan resmi.
- Ia diyakini masih hidup dan bersembunyi setelah serangan udara Israel yang menewaskan ayah serta istrinya, di tengah gempuran militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
- Kematian sang ayah memperkuat posisi Mojtaba di mata faksi garis keras dan ulama senior, sementara Majelis Pakar akan menentukan siapa pemimpin tertinggi baru Iran berikutnya.
Jakarta, IDN Times - Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, sudah lama masuk radar sebagai penerus ayahnya, bahkan sebelum serangan Israel yang menewaskan sang ayah dalam pekan pertama perang. Uniknya, selama ini ia tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan manapun.
1. Mojtaba diyakini masih hidup dan tengah bersembunyi di tengah gempuran udara Amerika Serikat dan Israel
Sosok yang dikenal sangat tertutup ini terakhir terlihat di publik pada hari Sabtu, tak lama sebelum serangan udara Israel menghantam kantor pemimpin tertinggi dan merenggut nyawa ayahnya yang berusia 86 tahun. Dalam serangan yang sama, istri Mojtaba, Zahra Haddad Adel, yang berasal dari keluarga dengan akar kuat dalam struktur kekuasaan Iran, juga dilaporkan tewas.
Meski belum ada konfirmasi resmi dari media pemerintah Iran mengenai keberadaannya, Mojtaba diyakini masih hidup dan tengah bersembunyi di tengah gempuran udara Amerika Serikat dan Israel yang terus berlanjut di berbagai wilayah Iran.
2. Profil putra Khamenei mencuat setelah serangan udara
Meski tak pernah sekali pun mencalonkan diri dalam pemilihan umum, Mojtaba Khamenei telah menghabiskan puluhan tahun membangun pengaruh dari balik layar, memperkuat hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan mengakar kuat di lingkaran dalam kekuasaan. Ayahnya sendiri menempuh jalur yang berbeda: menjabat presiden hampir delapan tahun sebelum akhirnya menggenggam kekuasaan absolut selama 36 tahun, hingga tewas dalam serangan Israel yang menghantam kompleks kediamannya di Teheran, Sabtu (28/2/2026) lalu.
Dilansir Al Jazeera, naiknya Mojtaba ke kursi pemimpin tertinggi akan menjadi sinyal kuat bahwa faksi garis keras tetap mencengkeram kendali atas Iran, dan kemungkinan besar menutup pintu bagi kesepakatan atau negosiasi dalam waktu dekat. Namun ada ganjalan simbolis yang tak bisa diabaikan: suksesi dari ayah ke anak akan menciptakan dinasti kekuasaan yang terlalu mirip dengan monarki Pahlavi, sistem yang justru diruntuhkan oleh Revolusi Islam 1979. Mojtaba yang kini berusia 56 tahun sendiri tak pernah sekalipun berbicara terbuka soal suksesi, sebuah topik yang memang sengaja dijauhi.
Dari kandidat kontroversial ke favorit garis keras
The Guardian melansir, nama Mojtaba Khamenei terus disebut-sebut sebagai kandidat terkuat pengganti ayahnya, sebuah prospek yang sebelumnya menuai kritik karena dinilai akan mengubah Republik Islam menjadi semacam monarki turun-temurun berbalut teokrasi, mengingatkan pada sistem yang justru diruntuhkan oleh revolusi Iran itu sendiri.
Namun, situasinya kini berubah. Kematian ayah dan istrinya dipandang oleh kalangan garis keras sebagai kesyahidan dalam perang melawan Amerika dan Israel, narasi yang berpotensi mendongkrak pamor Mojtaba di hadapan para ulama senior. Merekalah yang akan menentukan segalanya: Majelis Pakar beranggotakan 88 orang itu memegang kewenangan penuh untuk memilih pemimpin tertinggi Iran berikutnya.
Siapa pun yang akhirnya terpilih akan mewarisi kekuasaan yang tidak kecil, kendali atas militer Iran yang tengah bertempur, sekaligus akses terhadap cadangan uranium yang sudah diperkaya hingga tingkat tinggi dan berpotensi digunakan untuk membangun senjata nuklir, apabila pemimpin baru itu memilih jalan ke sana.
Dalam struktur kekuasaan Republik Islam, peran Mojtaba selama ini disebut-sebut menyerupai posisi Ahmad Khomeini, putra pendiri Revolusi Iran Ruhollah Khomeini. Menurut kelompok advokasi berbasis AS, United Against Nuclear Iran, Ahmad menjalankan fungsi gabungan sebagai ajudan, orang kepercayaan, penjaga akses, sekaligus perantara kekuasaan, dan Mojtaba diyakini memainkan peran serupa di sisi ayahnya.
















