Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

MSF Hentikan Sebagian Operasi di RS Gaza, Kenapa?

Logo Dokter Lintas Batas/Médecins Sans Frontières
Logo Dokter Lintas Batas/Médecins Sans Frontières (Moiiinkhan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • MSF hentikan sebagian operasi di RS Gaza karena kekhawatiran terkait pengelolaan fasilitas, pemeliharaan netralitas, dan pelanggaran keamanan.
  • Dukungan untuk bangsal anak, persalinan, dan konsultasi rawat jalan terpaksa dihentikan akibat penangguhan tersebut.
  • Israel kerap menyerang rumah sakit selama perang di Gaza dan MSF serta puluhan organisasi bantuan lainnya tidak diizinkan lagi beroperasi di sana oleh Israel.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dokter Lintas Batas (MSF) telah menghentikan sebagian operasinya di Rumah Sakit Nasser di Gaza selatan setelah para staf dan pasien melihat beberapa orang bersenjata di dalam gedung.

Organisasi bantuan medis yang berbasis di Jenewa itu mengatakan bahwa pekerjaan nonesensial di Rumah Sakit Nasser telah dihentikan pada 20 Januari karena kekhawatiran terkait pengelolaan fasilitas, pemeliharaan netralitas dan pelanggaran keamanan. Mereka tidak dapat mengidentifikasi siapa para pria bersenjata tersebut.

“Tim MSF telah melaporkan pola tindakan yang tidak dapat diterima, termasuk kehadiran orang bersenjata, intimidasi, penangkapan pasien secara sewenang-wenang, serta dugaan baru-baru ini terkait pergerakan senjata,” tulis MSF di situs webnya, yang terakhir diperbarui pada Rabu (11/2/2026).

Kelompok tersebut menegaskan bahwa rumah sakit harus menjadi ruang sipil yang bebas dari kehadiran atau aktivitas militer demi menjamin pemberian perawatan medis yang aman.

1. Dukungan untuk bangsal anak dan persalinan serta konsultasi rawat jalan terpaksa dihentikan

ilustrasi bayi baru lahir (unsplash.com/Christian Bowen)
ilustrasi bayi baru lahir (unsplash.com/Christian Bowen)

Akibat penangguhan tersebut, MSF hanya akan melanjutkan dukungan pada layanan penting, seperti departemen rawat inap dan bedah, sementara dukungan untuk bangsal anak dan persalinan, termasuk unit perawatan intensif neonatal, serta berbagai konsultasi rawat jalan dan layanan lainnya terpaksa dihentikan.

Dilansir dari Al Jazeera, Zaher al-Waheidi, kepala departemen arsip di Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan bahwa penangguhan operasional MSF akan berdampak signifikan, mengingat ada ratusan pasien yang dirawat di bangsal persalinan dan luka bakar setiap harinya. Ia menambahkan bahwa kementerian akan mengambil alih perawatan pasien persalinan.

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Gaza menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen mencegah kehadiran kelompok bersenjata di dalam rumah sakit, dan tindakan hukum akan diambil terhadap pelanggar. Mereka menyebut bahwa anggota bersenjata dari beberapa keluarga baru-baru ini memasuki rumah sakit, tapi tidak mengidentifikasi siapa mereka.

2. Israel kerap menyerang rumah sakit selama perang di Gaza

serangan Israel di Jalur Gaza (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
serangan Israel di Jalur Gaza (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Sejak perang meletus pada Oktober 2023, Israel telah menghancurkan infrastruktur kesehatan di wilayah tersebut dan masih menahan 95 dokter serta tenaga medis Palestina, termasuk 80 orang yang berasal dari Gaza.

Dilansir dari The Straits Times, militer Israel mengklaim bahwa mereka menargetkan rumah sakit karena pejuang Hamas beroperasi di dalamnya dan sebagian jaringan terowongan kelompok tersebut ditemukan berada di bawah fasilitas medis. Namun, Hamas membantah menggunakan rumah sakit untuk tujuan militer.

Rumah sakit merupakan tempat yang dilindungi menurut hukum internasional. Baik penyerangan terhadap rumah sakit maupun penggunaannya untuk tujuan militer dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum.

Meskipun fasilitas medis dapat kehilangan status perlindungan dalam kondisi tertentu, kelompok hak asasi manusia mengatakan Israel tidak menunjukkan cukup bukti untuk menjustifikasi serangannya terhadap fasilitas tersebut selama perang.

3. MSF dan puluhan organisasi bantuan lainnya tidak diizinkan lagi beroperasi di Gaza oleh Israel

kondisi pengungsian di Gaza saat hujan turun
kondisi pengungsian di Gaza saat hujan turun (Ashraf Amra, CC BY-SA 3.0 IGO <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/igo/deed.en>, via Wikimedia Commons)

Bulan lalu, Israel memerintahkan MSF dan 30 organisasi internasional lainnya untuk menghentikan operasi mereka di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki jika tidak mematuhi aturan baru, termasuk menyerahkan data staf mereka. Pada 30 Januari, MSF mengatakan pihaknya tidak akan menyerahkan daftar staf ke Israel karena tidak menerima jaminan atas keselamatan mereka.

MSF mengoperasikan layanan medis di seluruh Gaza dan Tepi Barat yang diduduki, dengan menyediakan perawatan darurat dan kritis. Pada 2025, organisasi itu menyatakan telah memberikan 800 ribu layanan konsultasi medis, membantu satu dari setiap tiga persalinan, dan mendukung satu dari lima tempat tidur rumah sakit.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Ledakan Bom dan Baku Tembak Guncang Pakistan, 17 Orang Tewas

18 Feb 2026, 06:30 WIBNews