Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Negosiasi Damai AS-Iran Gagal, Konflik kian Alot

Negosiasi Damai AS-Iran Gagal, Konflik kian Alot
Para pengunjuk rasa berkumpul dengan bendera nasional Iran selama demonstrasi untuk mendukung pemerintah dan menentang serangan AS dan Israel di luar sebuah masjid di Teheran pada 28 Februari 2026. (ATTA KENARE/AFP)
Intinya Sih
  • Negosiasi damai antara AS dan Iran gagal setelah Iran menolak bertemu di Islamabad serta menolak usulan gencatan senjata 48 jam dari AS.
  • Turki dan Mesir kini berupaya mencari lokasi netral untuk mempertemukan kedua pihak, sementara Qatar menolak menjadi mediator utama.
  • Presiden Donald Trump mendesak Iran segera bernegosiasi, mengancam serangan besar jika tidak, sementara konflik bersenjata antara AS dan Iran masih terus berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran dikabarkan gagal. Sebab, menurut Pakistan yang berperan sebagai mediator, Iran saat ini masih enggan bertemu AS di Islamabad untuk membicarakan perdamaian. Ini membuat konflik antara kedua negara kian alot. 

Menurut laporan Wall Street Journal yang dikutip oleh Jerusalem Post pada Jumat (3/4/2026), Iran juga menolak usulan gencatan senjata selama 48 jam yang diberikan oleh AS. Sebab, menurut mereka, usulan tersebut tidak masuk akal dan tidak dapat diterima. 

1. Mediator lain masih mencari jalan keluar untuk mendamaikan AS-Iran

Bendera Turki sedang berkibar.
potret bendera Turki (pexels.com/Engin Akyurt)

Meski begitu, dua mediator lain, yakni Turki dan Mesir, kini masih mencari cara untuk mendamaikan AS dan Iran. Saat ini, kedua negara tersebut dikabarkan sedang mencari tempat yang pas untuk mempertemukan AS dan Iran. Beberapa tempat yang menjadi pilihan adalah Istanbul dan Doha. 

Sebetulnya, Qatar juga diusulkan menjadi mediator kunci untuk mendamaikan AS dan Iran. Usulan tersebut diberikan oleh AS dan negara-negara Timur Tengah yang terdampak perang Iran.  Namun, Qatar menolak usulan tersebut karena enggan terlibat ke dalam konflik terlalu jauh. Sejumlah media menyebut ketiadaan Qatar ini membuat proses negosiasi damai antara AS dan Iran kian terhambat.  

2. Trump ingin AS dan Iran segera bernegosiasi

Donald Trump sedang berpidato.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Penolakan upaya perdamaian oleh Iran ini membuat Presiden Donald Trump geram. Sebab, menurutnya, negosiasi antara AS dan Iran merupakan jalan paling efektif untuk mengakhiri konflik kedua negara.

Oleh karena itu, dalam pernyataannya, Trump mendesak Iran untuk segera bernegosiasi dengan AS. Jika tidak, maka AS akan menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar yang belum pernah mereka alami sebelumnya. 

"(Iran harus) membuat kesepakatan (dengan AS) sebelum terlambat dan tidak ada lagi yang tersisa dari apa yang bisa menjadi negara besar!" ujar Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.

3. Perang antara AS dan Iran masih berlangsung

Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
ilustrasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Hingga saat ini, perang antara AS dan Iran masih berlangsung. Sebab, AS dan sekutunya, Israel, masih melancarkan serangan ke Iran. Pada Jumat malam, misalnya, AS berupaya meluncurkan serangan udara ke Iran menggunakan dua jet tempur. Namun, serangan itu gagal karena Iran mengklaim berhasil menjatuhkan jet tempur AS yang dipakai untuk menyerang mereka. 

Meski perang masih berlangsung, Trump beberapa waktu lalu mengatakan dirinya sangat  yakin bisa mengakhiri perang dengan Iran dalam waktu 2 sampai 3 minggu. Dalam periode waktu tersebut, Trump juga berencana menyerang Iran jika mereka tidak juga bernegosiasi dengan AS.

“Kita berada di jalur yang tepat untuk menyelesaikan semua tujuan militer AS dalam waktu singkat, sangat singkat. Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras dalam 2 hingga 3 minggu ke depan.” ujar Trump dilansir Politico

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More