Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Netanyahu Menolak Menarik Pasukan Israel dari Lebanon Selatan

Netanyahu Menolak Menarik Pasukan Israel dari Lebanon Selatan
PM Israel Benjamin Netanyahu (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • PM Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon selatan demi menjaga keamanan dan melindungi warga sipil di perbatasan utara.

  • Pemerintah AS mendesak Israel menahan diri agar tidak memperluas operasi militer di Lebanon, karena dikhawatirkan dapat menggagalkan negosiasi damai dengan Iran.

  • Netanyahu menyatakan perang saat ini telah menggagalkan ambisi nuklir Iran dan berjanji terus mencegah negara itu memperoleh senjata atom selama ia menjabat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasukannya tidak akan mundur dari Lebanon selatan. Ia beralasan kehadiran militer Israel masih sangat dibutuhkan di wilayah tersebut untuk menjaga keamanan.

Pernyataan ini keluar saat berlangsungnya negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss pada Minggu (21/6/2026). Pemerintah Israel menyatakan posisinya ini tidak akan berubah meski ada tekanan dari komunitas internasional.

1. Israel ingin melindungi warganya di utara

pasukan Israel di Sungai Litani, Lebanon
pasukan Israel di Sungai Litani, Lebanon (wikimedia/ / IDF Spokesperson's Unit)

Netanyahu menegaskan komitmen untuk terus menempatkan pasukan di zona keamanan Lebanon selatan. Ia menyebut langkah ini penting demi melindungi warga sipil Israel yang tinggal di wilayah perbatasan utara.

"Selama kita perlu melindungi rakyat kita, kita akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon Selatan. Alasannya sangat mudah dipahami. Tidak ada negara yang akan melakukan hal sebaliknya," kata Netanyahu, dilansir Times of Israel.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan pihaknya tidak akan membatasi pergerakan pasukan di Lebanon selatan. Mereka akan terus beroperasi secara bebas untuk melawan kelompok Hizbullah di wilayah tersebut.

Saat ini, pasukan Israel dilaporkan masih bersiaga di posisi mereka masing-masing. Mereka bahkan diketahui sempat memperluas cakupan operasinya hingga melewati batas yang ditentukan.

2. AS tekan Israel untuk menahan diri di Lebanon

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Selain mengamankan perbatasan, militer Israel memiliki sejumlah target operasi khusus selama di Lebanon. Salah satu misi utamanya adalah menghancurkan fasilitas bawah tanah milik Hizbullah di kawasan Ali Taher. Namun, operasi militer Israel ini mulai menuai teguran dari pihak AS. Washington mendesak pemerintah Israel agar tidak melakukan serangan yang memicu eskalasi konflik besar-besaran.

AS khawatir serangan Israel dapat menggagalkan perundingan damai dengan Iran. Pihak AS meminta Israel tidak mengambil keputusan militer skala besar tanpa melakukan koordinasi terlebih dahulu.

3. Netanyahu klaim perang telah menggagalkan ambisi nuklir Iran

misil Iran.
misil Iran. (unsplash.com/Moslem Danesh)

Dalam pidato terpisah, Netanyahu turut menyoroti ancaman dari pihak Iran. Ia berjanji akan terus mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir selama dirinya masih menjabat sebagai PM. Pernyataan tersebut disampaikan pada acara peringatan kematian mendiang saudaranya, Yonatan Netanyahu. Netanyahu mengklaim perang yang berlangsung saat ini telah berhasil menggagalkan rencana Iran untuk memiliki bom atom.

"Kami mencegah hal itu terjadi. Kami menghilangkan bahaya eksistensial. Seandainya kami tidak bertindak, Iran akan memiliki bom atom dan percayalah, mereka akan menggunakannya," kata Netanyahu, dilansir The Straits Times.

Netanyahu juga menyinggung dampak operasi gabungan Israel dan AS terhadap kekuatan militer dan rezim Iran. Ia menyebut serangan tersebut telah memberikan pukulan yang akan sulit dipulihkan oleh pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC). Netanyahu bahkan mengisyaratkan bahwa rezim Iran mungkin akan runtuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More