Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

New START Kedaluwarsa, Risiko Perang Nuklir AS-Rusia Meningkat

Presiden Rusia, Vladimir Putin (kiri), dan Presiden AS, Donald Trump (kanan). (Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Presiden Rusia, Vladimir Putin (kiri), dan Presiden AS, Donald Trump (kanan). (Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • New START adalah perjanjian pengurangan senjata strategis antara AS dan Rusia yang berakhir setelah 15 tahun.
  • Perjanjian ini berakhir karena invasi Rusia ke Ukraina merusak harapan untuk perpanjangan, meningkatkan risiko perlombaan senjata nuklir tiga arah.
  • Kekhawatiran terbesar adalah potensi perlombaan senjata nuklir melibatkan AS, Rusia, dan China serta beban ekonomi yang ditimbulkannya.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dunia resmi memasuki era baru tanpa pembatasan senjata nuklir setelah perjanjian New START antara Amerika Serikat dan Rusia berakhir pada Kamis (5/2/2026) tengah malam waktu setempat. Berakhirnya perjanjian yang telah berlaku selama 15 tahun itu berarti tidak ada lagi batas jumlah senjata nuklir strategis yang boleh dikerahkan oleh dua kekuatan nuklir terbesar dunia, baik di rudal, pembom, maupun kapal selam.

“Tidak ada lagi pagar pengaman terhadap ukuran arsenal nuklir strategis Amerika Serikat dan Rusia,” kata Christine Wormuth, Presiden Nuclear Threat Initiative, sebuah kelompok advokasi pengendalian senjata yang berbasis di Washington, D.C.

“Hal seperti ini sudah tidak terjadi selama beberapa dekade,” imbuhnya, dikutip dari NPR, Minggu (8/2/2026).

Situasi ini memicu kekhawatiran luas di kalangan pakar keamanan global, yang menilai berakhirnya New START meningkatkan risiko ketidakstabilan dan potensi perlombaan senjata nuklir di masa depan.

1. Apa Itu New START?

Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS, Donald Trump, di Anchorage, Alaska. (kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS, Donald Trump, di Anchorage, Alaska. (kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

New START merupakan perjanjian pengurangan senjata strategis yang dinegosiasikan antara Amerika Serikat dan Rusia pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama. Perjanjian ini menjadi bagian dari upaya selama sekitar 50 tahun untuk menekan jumlah senjata nuklir yang saling diarahkan kedua negara sejak era Perang Dingin.

“New START menurunkan jumlah hulu ledak nuklir yang dikerahkan oleh Amerika Serikat dan Rusia menjadi 1.550,” kata Rose Gottemoeller, profesor di Universitas Stanford yang memimpin perundingan perjanjian tersebut.

Selain membatasi jumlah senjata, New START juga membangun sistem transparansi yang mewajibkan kedua negara saling memberi tahu setiap kali mereka memindahkan senjata nuklir.

“Selama 15 tahun masa berlaku perjanjian ini, lebih dari 25.000 pemberitahuan semacam itu dipertukarkan,” ujar Matt Korda, Wakil Direktur Proyek Informasi Nuklir di Federation of American Scientists.

Kedua negara bahkan melakukan inspeksi langsung ke pangkalan rudal, pembom, dan kapal selam satu sama lain. “Kami mengunjungi pangkalan rudal, pangkalan pembom, dan pangkalan kapal selam masing-masing untuk memastikan kepatuhan terhadap perjanjian,” kata Gottemoeller.

2. Mengapa perjanjian ini berakhir?

Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS, Donald Trump, di Anchorage, Alaska. (kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS, Donald Trump, di Anchorage, Alaska. (kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Sejak awal, New START memang tidak dirancang berlaku selamanya. Perjanjian ini memiliki masa berlaku 10 tahun, dengan opsi perpanjangan lima tahun yang kemudian disepakati pada 2021. Namun, invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 merusak harapan untuk menyusun perjanjian pengganti sebelum New START berakhir. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, sebelumnya telah memperingatkan bahwa dunia akan menjadi lebih berbahaya tanpa adanya pembatasan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia.

Meski demikian, sejumlah pakar menilai Rusia tidak serta-merta ingin terlibat dalam perlombaan senjata baru dengan Amerika Serikat. “Rusia saat ini kekurangan dana dan tidak terlalu tertarik membangun arsenal nuklirnya,” kata Pavel Podvig, pakar kekuatan nuklir strategis Rusia dari United Nations Institute for Disarmament Research di Jenewa.

Menurutnya, senjata nuklir lebih berfungsi sebagai simbol status dan kebanggaan nasional.

“Rusia ingin menjadi mitra setara dengan Amerika Serikat. Arsenal nuklir adalah salah satu cara untuk mengklaim kesetaraan itu,” ujar Podvig.

Pada musim gugur tahun lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin sempat menawarkan perpanjangan informal selama satu tahun atas pembatasan New START. Namun, tawaran tersebut tidak ditanggapi oleh Presiden Donald Trump.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyayangkan sikap Washington. “Pada kenyataannya, ini berarti gagasan kami dibiarkan tanpa jawaban secara sengaja. Pendekatan ini tampak keliru dan patut disesalkan,” bunyi pernyataan resmi kementerian tersebut.

3. Kekhawatiran perlombaan senjata nuklir tiga arah

Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS, Donald Trump, di Anchorage, Alaska. (kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS, Donald Trump, di Anchorage, Alaska. (kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Kekhawatiran terbesar para pakar kini adalah potensi perlombaan senjata nuklir yang melibatkan tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Rusia, dan China.

“Kekhawatiran terbesar saya adalah kita bisa terlibat dalam perlombaan senjata nuklir tanpa batas dengan Rusia dan China pada saat yang sama,” kata Wormuth.

China selama bertahun-tahun mempertahankan arsenal nuklir yang jauh lebih kecil, tetapi kini sedang memperluas kekuatan nuklirnya dengan tujuan menjadi kekuatan strategis setara.

Wormuth juga menyoroti beban ekonomi yang akan ditimbulkan. “Membangun arsenal nuklir akan sangat, sangat mahal, di saat utang nasional kita sudah sangat besar dan banyak kebutuhan domestik yang mendesak,” katanya.

Saat ini, Amerika Serikat sendiri tengah menjalani program modernisasi besar-besaran terhadap senjata nuklirnya, dengan biaya yang diproyeksikan mencapai sekitar satu triliun dolar dalam satu dekade ke depan.

Meskipun begitu, sebagian besar pakar menilai tidak akan ada peningkatan arsenal nuklir secara instan. “Bukan berarti perlombaan senjata akan dimulai pada 6 Februari,” kata Dmitry Stefanovich dari Primakov Institute. Namun, tanpa batasan dan tanpa negosiasi, kedua negara akan merencanakan skenario terburuk,” sambung dia.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington tidak akan mempertimbangkan pembicaraan pengendalian senjata tanpa keterlibatan China. “Presiden telah jelas bahwa pengendalian senjata abad ke-21 mustahil dilakukan tanpa China,” ujarnya.

Di tengah ketidakpastian global ini, Wormuth mengingatkan bahwa logika senjata nuklir sering kali berujung pada kesimpulan yang berbahaya. “Anda bisa dengan cepat masuk ke dunia logika senjata nuklir yang aneh. Di sana, jumlah yang lebih banyak sering dianggap lebih baik,” seru dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Mendagri Akan Terbitkan Edaran Hari Korve Setiap Selasa dan Jumat

09 Feb 2026, 15:19 WIBNews