Ogah Dukung AS Lawan Iran, Inggris Pilih Bantu Ukraina

- Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan fokus negaranya tetap membantu Ukraina melawan Rusia, bukan terlibat dalam konflik Amerika Serikat dengan Iran di Timur Tengah.
- Dalam pertemuan di London, Inggris dan Ukraina menandatangani kerja sama militer mencakup pengembangan drone, pusat teknologi AI, serta pendanaan sebesar 500.000 pound sterling.
- Ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel meningkat setelah serangan Israel menewaskan pejabat tinggi Iran, sementara upaya damai gagal karena penolakan terhadap syarat yang diajukan Teheran.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Inggris menegaskan akan fokus membantu Ukraina untuk melawan Rusia daripada membantu Amerika Serikat berperang dengan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, saat bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, di Downing Street, London, pada Selasa (17/3/2026).
“Saya pikir, sangat penting bagi kita untuk memperjelas bahwa fokus harus tetap pada Ukraina. Jelas ada konflik yang terjadi di Iran, di Timur Tengah. Namun, kita tidak boleh kehilangan fokus pada apa yang terjadi di Ukraina dan kebutuhan akan dukungan kita. Tekad kami tidak tergoyahkan,” jelas Starmer, seperti dilansir The Strait Times.
1. Inggris dan Ukraina jalin kerja sama militer

Sebagai tindak lanjut dukungan terhadap Ukraina, dalam pertemuan di London, Starmer menandatangani kerja sama militer dengan Zelenskyy. Dalam kerja sama tersebut, Ukraina setuju untuk membantu Inggris menangkal serangan drone dari musuh. Sebab, pasukan militer Ukraina punya kemampuan yang baik dalam melumpuhkan serangan drone lawan.
Selain itu, kerja sama tersebut juga meliputi pemanfaatan pusat industri Inggris untuk membuat drone dan pendanaan sebesar 500.000 pound sterling atau sekitar Rp11,3 miliar untuk membangun pusat teknologi kecerdasan buatan (AI) di Inggris yang akan diintegrasikan dengan Kementerian Pertahanan Ukraina.
"Kerja sama ini akan meningkatkan kemampuan pertahanan global terhadap proliferasi perangkat keras militer berteknologi tinggi dan berbiaya rendah, termasuk drone," jelas Starmer soal kerja sama militer dengan Ukraina.
2. Zelenskyy sempat khawatir fokus sekutu teralihkan karena perang di Iran

Sebelum ini, Zelenskyy sempat khawatir perang antara Iran dengan AS dan Israel akan berdampak buruk terhadap Ukraina. Sebab, menurutnya, konflik tersebut bisa mengalihkan perhatian sekutu-sekutu Ukraina, termasuk Inggris, untuk membantu melawan Rusia.
Selain itu, Zelenskyy juga khawatir tidak mendapatkan bantuan senjata dari AS. Sebab, Negeri Paman Sam dan beberapa negara lain di Eropa yang jadi pemasok senjata bagi Ukraina kini sedang terdistraksi konflik di Timur Tengah.
"Kita mungkin akan kesulitan mendapatkan rudal dan senjata untuk mempertahankan wilayah udara kita. Amerika (Serikat) dan sekutu mereka di Timur Tengah mungkin membutuhkan senjata untuk membela diri. Misalnya, rudal Patriot," kata Zelenskyy, seperti dilansir BBC.
3. Perang antara Iran dengan AS-Israel makin memanas

Terlebih, saat ini, perang antara Iran dengan AS dan Israel juga kian memanas. Bahkan, Israel juga melakukan serangan terbaru ke Iran pada Senin (16/3/2026). Serangan itu menewaskan Ketua Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani.
Beberapa waktu lalu, Iran sebetulnya sudah bersedia berdamai dengan AS dan Israel. Namun, untuk mencapai hal tersebut, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan AS-Israel harus mematuhi syarat-syarat yang diberikan olehnya.
“Satu-satunya cara untuk mengakhiri perang ini, yang dipicu oleh rezim Zionis dan AS, adalah dengan mengakui hak-hak sah Iran, pembayaran ganti rugi (atas kerusakan yang ditimbulkan akibat perang), dan jaminan internasional yang tegas terhadap agresi di masa depan,” tulis Pezeshkian dilansir Al Jazeera.
Namun, Trump enggan mematuhi semua syarat yang diberikan oleh Iran. Sebab, menurutnya, syarat-syarat tersebut tidak menguntungkan semua pihak. “Saat ini, syarat-syarat (yang diberikan oleh Iran) belum bagus,” ujar Trump.
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, pada Selasa juga menegaskan dirinya tidak akan melakukan negosiasi damai dengan AS. Ia berjanji akan terus melawan AS dan Israel sampai menang. Ini membuat perang diprediksi akan berjalan lama.


















