Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kelompok HAM Sebut Aktivis GSF Disiksa di Tahanan Israel

Kelompok HAM Sebut Aktivis GSF Disiksa di Tahanan Israel
ilustrasi seorang tahanan di penjara (unsplash.com/Ye Jinghan)
Intinya Sih
  • Kelompok HAM Adalah melaporkan aktivis Global Sumud Flotilla disiksa secara fisik dan psikologis di tahanan Israel, termasuk disetrum, dipaksa berlutut lama, dan jilbab perempuan dilepas paksa.
  • Israel dituding menerapkan kebijakan kriminal setelah video Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir mengejek aktivis GSF viral, memicu kecaman internasional dari berbagai negara seperti Prancis dan Kanada.
  • Sembilan warga Indonesia termasuk di antara 428 aktivis dari 44 negara yang ditahan setelah kapal bantuan mereka dicegat pasukan Israel di perairan internasional saat menuju Gaza.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Para aktivis yang ditahan dari armada bantuan ke Gaza, Global Sumud Flotilla (GSF), dilaporkan disetrum serta mengalami kekerasan fisik dan psikologis selama berada dalam tahanan Israel. Temuan ini diungkapkan oleh kelompok hak asasi manusia Israel, Adalah, pada Rabu (21/5/2026).

Adalah mengatakan, sedikitnya tiga aktivis dirawat di rumah sakit karena menderita luka serius, sementara puluhan lainnya diduga menderita patah tulang rusuk dan kesulitan bernapas akibat kekerasan selama penahanan.

Laporan menyebutkan bahwa para aktivis dipaksa berada dalam posisi yang menyakitkan selama pemindahan mereka ke Pelabuhan Ashdod, termasuk berjalan sambil membungkuk ke depan dan berlutut dalam waktu yang lama. Sejumlah perempuan mengatakan bahwa jilbab mereka dilepas secara paksa oleh otoritas Israel.

1. Israel dituding terapkan kebijakan kriminal

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir (DedaSasha, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir (DedaSasha, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Dilansir dari Anadolu, Adalah sebelumnya menuduh pihak berwenang Israel menerapkan kebijakan kriminal berupa penyiksaan dan penghinaan setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video yang menunjukkan para aktivis GSF dipaksa bersujud dengan tangan diborgol ke belakang. Pejabat sayap kanan Israel itu terlihat mengejek mereka sambil mengibarkan bendera Israel.

Tindakan Ben-Gvir menuai kecaman keras dari internasional. Sejumlah negara, termasuk Prancis, Kanada, Spanyol, Portugal dan Belanda, bahkan memanggil duta besar Israel untuk mengungkapkan kemarahan mereka.

Sementara itu, Adalah mengatakan bahwa informasi mengenai keberadaan, status hukum dan kesejahteraan para aktivis sangat dibatasi sejak mereka ditangkap.

2. 9 warga Indonesia termasuk di antara aktivis yang ditahan

armada Global Sumud Flotilla
armada Global Sumud Flotilla (Afek91, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

GSF, pada Selasa (19/5/2025), mengatakan bahwa Israel telah menyita seluruh kapal dalam konvoi bantuan mereka. Kapal-kapal tersebut, yang membawa 428 orang dari 44 negara, berangkat dari distrik Marmaris di Turki dalam upaya baru menembus blokade ilegal Israel terhadap Gaza.

Menurut gerakan peduli Palestina itu, pasukan Israel mulai mencegat kapal-kapal tersebut di perairan internasional dekat pantai Siprus pada Senin (18/5/2026). Mereka disebut menggerebek kapal, menembakkan peluru karet, dan menculik para peserta. Sembilan warga negara Indonesia termasuk di antara aktivis yang ditahan.

Sejumlah negara, termasuk Turki, Spanyol, Yordania, Pakistan, Bangladesh, Brasil dan Indonesia, mengutuk pencegatan tersebut dengan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional.

3. Israel telah beberapa kali menyerang armada bantuan menuju Gaza

armada Global Sumud Flotilla
armada Global Sumud Flotilla (Codas, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Ini bukan pertama kalinya GSF mengalami insiden serupa. Pada akhir April lalu, pasukan Israel juga pernah menyerang kapal-kapal dari armada bantuan tersebut di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani. Saat itu, konvoi tersebut membawa 345 peserta dari 39 negara. Beberapa aktivis ditahan di Israel sebelum kemudian dideportasi.

Dilansir dari TRT, Israel telah menerapkan blokade ketat di Jalur Gaza sejak 2007, menyebabkan 2,4 juta penduduk di wilayah tersebut berada di ambang kelaparan. Pada Oktober 2023, militer Israel mulai melancarkan serangan besar-besaran di Gaza menyusul serangan kelompok Hamas di Israel. Lebih dari 72 ribu warga Palestina tewas dan lebih dari 172 ribu lainnya terluka sejak saat itu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More