Pentagon Desak Produsen Senjata AS Percepat Produksi Amunisi

- Pentagon memberi produsen senjata AS tenggat 21 hari untuk menyusun percepatan pengiriman, setelah perang lima bulan melawan Iran menguras stok amunisi dan rudal pencegat.
- Analisis CSIS mencatat stok Patriot AS turun hingga 65 persen dan THAAD minimal 38 persen, sementara Trump menyatakan persediaan senjata masih besar serta produksi terus berjalan.
- Pentagon menggandeng perusahaan pertahanan dan rintisan untuk memperluas kapasitas pabrik, tetapi kebuntuan anggaran serta rantai pasok diproyeksikan membuat pemulihan stok rudal memakan minimal tiga tahun.
Jakarta, IDN Times - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mendesak para produsen senjata utama di negaranya untuk mempercepat produksi dan pengiriman sistem persenjataan. Langkah ini diambil setelah perang dengan Iran dilaporkan telah menguras stok amunisi dan rudal pencegat milik militer AS.
Melalui sebuah memo, Deputi Menteri Pertahanan AS Steve Feinberg memberi waktu maksimal 21 hari kepada perusahaan pertahanan untuk menyerahkan rencana percepatan jadwal pengiriman. Menurut Pentagon, siklus pengembangan senjata yang memakan waktu bertahun-tahun kini tidak lagi dapat diterima dalam situasi krisis.
1. Perang Iran menguras stok amunisi dan rudal pencegat AS

peluncuran rudal dari USS Fitzgerald (DoD photo by U.S. Navy, Public domain, via Wikimedia Commons) Perang yang berlangsung selama lima bulan melawan Iran telah menguras persediaan senjata presisi tinggi militer AS. Berdasarkan analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), stok rudal pencegat Patriot milik AS telah berkurang hingga 65 persen. Persediaan yang semula berjumlah sekitar 2.200 unit kini hanya tersisa antara 759 hingga 827 unit.
Penurunan serupa juga terjadi pada persediaan rudal pencegat THAAD yang anjlok setidaknya 38 persen dari stok awal sebanyak 452 unit. Selain itu, militer AS dilaporkan telah menggunakan hampir seluruh persediaan sistem rudal taktis jarak jauh seperti ATACMS dan PrSM.
Namun, Presiden AS Donald Trump membantah tuduhan bahwa militer AS sedang kehabisan amunisi. Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyatakan bahwa AS masih memiliki persediaan persenjataan dalam jumlah yang sangat besar.
"Senjata dalam jumlah besar sedang diproduksi dan dikirim ke AS sesuai kebutuhan. Perusahaan-perusahaan pertahanan sedang membangun pabrik terbesar dalam sejarah negara kita," tulis Trump, dilansir Al Jazeera pada Minggu (9/8/2026).
2. Pentagon desak perusahaan tingkatkan kapabilitas pabrik

USS Abraham Lincoln melakukan blokade di Laut Arab (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons) Untuk memulihkan stok senjata, Pentagon mulai menjajaki kerja sama dan kesepakatan kerangka kerja dengan perusahaan pertahanan terkemuka seperti Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan RTX. Selain pemain lama, Pentagon juga merangkul perusahaan teknologi rintisan asal Silicon Valley seperti Anduril untuk memproduksi amunisi berbiaya rendah.
Feinberg meminta para pimpinan industri untuk menanamkan modal dan memperluas fasilitas pabrik guna mendukung pesanan berskala besar. Pentagon bahkan mendorong perusahaan swasta untuk turut menanggung risiko finansial sebelum dana resmi diturunkan dari pemerintah.
Namun, strategi percepatan ini menghadapi tantangan di tingkat legislatif. Rancangan undang-undang (RUU) anggaran pertahanan sebesar 1,15 triliun dolar AS (sekitar Rp20,4 kuadriliun) masih mengalami kebuntuan di Kongres AS akibat penolakan dari kubu oposisi.
"Kesepakatan itu baru sebatas persetujuan untuk bersepakat, sehingga belum menjadi kontrak resmi. Hampir belum ada yang benar-benar dikontrak, dan itulah masalah utamanya," tutur Tom Karako, Direktur Proyek Pertahanan Rudal di CSIS, dilansir The Washington Post.3. Pemulihan stok persenjataan AS diproyeksi makan waktu bertahun-tahun

Presiden AS, Donald Trump ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons) Pemulihan amunisi militer AS diperkirakan akan memakan waktu yang cukup lama. Pengamat memperkirakan butuh waktu minimal tiga tahun untuk mengembalikan stok rudal Patriot, THAAD, dan Tomahawk ke tingkat sebelum perang.
Keterbatasan kapasitas pabrik dan rumitnya rantai pasok komponen menjadi tantangan utama yang memperlambat proses manufaktur. Sebagai contoh, tingkat produksi rudal jelajah Tomahawk yang selama ini hanya berkisar 60 unit per tahun membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk ditingkatkan menjadi 1.000 unit per tahun.
Isu kelangkaan amunisi juga menciptakan kekhawatiran terkait komitmen keamanan AS terhadap para sekutunya di berbagai belahan dunia. Pengiriman amunisi ke negara sekutu seperti Ukraina, Jepang, dan Australia berpotensi mengalami penundaan karena Pentagon memprioritaskan pemulihannya sendiri.






















