Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Setop Serangan Dua Malam Berturut-turut, Iran Ikut Hentikan Operasi

AS Setop Serangan Dua Malam Berturut-turut, Iran Ikut Hentikan Operasi
ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)
Intinya Sih
  • AS dan Iran menghentikan serangan selama dua malam berturut-turut, sementara jalur diplomatik tetap dibuka setelah konflik mendekati bulan kelima.
  • Pejabat militer AS menilai kampanye pengeboman telah mencapai batas efektivitas dan stok amunisi menipis; Trump menangguhkan serangan baru sambil mempertahankan semua opsi.
  • Mediator berupaya memulihkan gencatan senjata dan membuka Selat Hormuz, ketika Israel, AS, serta Inggris membahas tekanan terhadap Iran dan perlindungan pelayaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) dan Iran menghentikan aksi saling serang selama dua malam berturut-turut. Saluran diplomatik tetap dibuka kedua pihak untuk mencegah meluasnya pertempuran dalam konflik yang kini mendekati bulan kelima setelah serangan Iran ke pangkalan AS di Yordania pekan lalu menewaskan sedikitnya tiga orang.

Juru bicara angkatan darat Iran Mohammad Akraminia mengonfirmasi jeda operasi militer tersebut melalui televisi pemerintah pada Minggu (28/7/2026).

“Serangan-serangan [AS] ini berlanjut hingga dua malam yang lalu, tetapi selama dua malam terakhir orang-orang Amerika telah menghentikan serangan mereka,” katanya, dikutip The Guardian.

Iran juga menghentikan operasinya karena strategi yang diterapkan bersifat pembalasan. Akraminia menyampaikan langkah itu dilakukan seiring berhentinya serangan dari pihak AS.

1. Pejabat AS memengaruhi keputusan penghentian serangan

ilustrasi bendera Amerika Serikat
ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Laporan The Guardian menyebut pejabat militer senior AS menyarankan Presiden Donald Trump mengakhiri kampanye pengeboman karena dinilai telah mencapai batas efektivitas. Laksamana Bradley Cooper menyampaikan daftar sasaran di Iran hampir habis, sementara operasi tempur lanjutan hanya memberi nilai tambahan yang minim dan pejabat administrasi turut memperingatkan stok amunisi, termasuk pencegat Patriot serta rudal jelajah Tomahawk, semakin menipis.

Pemberitaan NPR menjelaskan penghentian serangan terjadi setelah hampir dua pekan operasi AS yang menyasar lokasi pesisir dan infrastruktur Iran sebagai respons atas penembakan kapal-kapal di Selat Hormuz. Pentagon belum mengungkap waktu pasti penghentian itu, sedangkan Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung menyatakan Trump tetap mengutamakan jalur diplomatik sambil mempertahankan seluruh opsi apabila Iran kembali melakukan aktivitas teroris di Selat Hormuz atau terhadap sekutu.

Menurut laporan Axios, penilaian Cooper ikut memengaruhi keputusan Trump menangguhkan serangan setelah Wakil Presiden JD Vance dan Ketua Joint Chiefs of Staff Jenderal Dan Caine memperingatkan risiko dimulainya kembali operasi militer dalam pertemuan di Ruang Oval pada Jumat (24/7/2026). Trump kemudian membatalkan rencana serangan baru, menyampaikan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan semakin serius, meski pada malam harinya ia mengaku belum percaya Iran siap mencapai kesepakatan walau tetap bersedia mendengarkan.

Laporan NBC dalam acara Meet the Press menyebut Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz mengatakan serangan tambahan belum dikesampingkan. Presiden juga disebut tetap membuka semua opsi.

2. Mediator mengupayakan pemulihan gencatan senjata

ilustrasi tempat negosiasi
ilustrasi tempat negosiasi (pexels.com/Jan van der Wolf)

Seorang pejabat regional yang terlibat dalam mediasi menggambarkan jeda saling serang itu sebagai sinyal positif yang membantu upaya deeskalasi. Kedua pihak berupaya memulihkan gencatan senjata sementara yang ditandatangani pertengahan Juni dan kini memasuki paruh kedua masa 60 hari, sementara kompromi yang dibahas mencakup pengelolaan lalu lintas kapal di Selat Hormuz oleh Iran dengan pembatasan lebih sedikit dan isu program nuklir tetap dikesampingkan.

Diplomat senior Iran dan Oman membahas pembukaan kembali Selat Hormuz yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengonfirmasi mediator terus bekerja, pembicaraan dengan Oman menunjukkan kemajuan, status selat belum berubah, kesepakatan sementara tetap mengizinkan Iran mengawasi pelayaran, serta menolak rute alternatif yang dipromosikan AS di dekat Oman, sementara juru bicara angkatan darat Iran menilai AS tak memiliki strategi yang jelas dan mengalami kelelahan keputusan strategis.

Militer AS menyatakan blokade laut terhadap Iran masih berlaku. Belasan kapal komersial telah dialihkan, dua dinonaktifkan, dua dinaiki pasukan yang tetap siaga penuh, serta kekhawatiran konflik turut meluas ke Selat Bab el-Mandeb setelah muncul ancaman blokade pelayaran Arab Saudi oleh pemberontak Houthi yang didukung Iran.

3. Israel dan sekutu membahas langkah lanjutan

bendera Israel
bendera Israel (pexels.com/Leon Natan)

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump di Gedung Putih setelah menggelar sesi kabinet keamanan. Netanyahu mendesak tekanan terhadap program nuklir dan rudal Iran terus dilanjutkan, sementara dalam wawancara di Fox News ia menyatakan mendukung penuh upaya Trump melemahkan Iran dan mengakhiri program nuklirnya tanpa kembali ke pertempuran militer intens serta memperingatkan serangan susulan dari Iran atau proksinya terhadap Israel akan menjadi kesalahan mengerikan.

AS dan Inggris di bawah PM Andy Burnham juga menjajaki pertemuan tingkat tinggi di London untuk membahas perlindungan pelayaran serta pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Inggris tetap menolak penggunaan pangkalan udaranya untuk operasi ofensif terhadap Iran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More