ilustrasi satelit di luar angkasa (unsplash.com/NASA)
Juru bicara Angkatan Luar Angkasa AS menyebut persenjataan di orbit tersebut dapat digunakan untuk operasi pertahanan maupun serangan. Pihak militer menegaskan bahwa pengakuan ini dimaksudkan untuk memperkuat daya gentar terhadap lawan. Langkah tersebut juga dinilai penting untuk memastikan negara lain tidak salah membaca manuver militer AS di luar angkasa.
"Komunikasi terbuka memperkuat pencegahan, mencegah salah perhitungan musuh, dan menormalisasi operasi luar angkasa bersama matra lainnya," kata juru bicara Angkatan Luar Angkasa AS, dilansir ABC News.
Pakar militer antariksa dari Royal United Services Institute (RUSI), Bleddyn Bowen, memperkirakan senjata itu kemungkinan besar berupa pengacak sinyal radio atau perangkat perang elektronik. Sistem nonkinetik semacam itu dinilai lebih ideal karena dapat melumpuhkan fungsi satelit target tanpa perlu meledakkannya.
Selain teknologi perang elektronik, persenjataan orbit berpotensi mencakup laser pencegat hingga proyektil berkecepatan tinggi. Pengembangan sistem ini juga diperkirakan terhubung dengan proyek perisai rudal Golden Dome yang dirancang untuk menangkal rudal dari orbit luar angkasa.