AS Luncurkan Program Kesehatan Penyintas Anak Tragedi 9/11

- Pemerintah AS meluncurkan pemantauan medis nasional bagi penyintas 9/11 yang saat itu anak-anak atau masih dalam kandungan, setelah dampak fisik mereka lama kurang terdata.
- Sekitar 25 ribu anak di Lower Manhattan terpapar debu beracun, sementara minimnya rekam medis menyulitkan pengukuran risiko penyakit kronis, termasuk gangguan jantung, reproduksi, dan kanker.
- CDC menyiapkan riset senilai 50 juta dolar AS mulai 1 Juli 2027 untuk melacak penyintas muda di Lower Manhattan dan Brooklyn, meski banyak yang telah pindah atau trauma.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan program pemantauan medis nasional bagi penyintas anak dari tragedi 11 September 2001 pada Jumat (11/9/2026). Kebijakan ini diluncurkan untuk meneliti dampak kesehatan fisik yang dialami penyintas setelah dua dekade seolah terabaikan.
Program kesehatan ini berfokus pada mereka yang berada di kawasan terdampak saat masih anak-anak maupun yang saat itu masih berada di dalam kandungan. Langkah strategis ini diharapkan mampu memberikan kejelasan atas status kesehatan generasi muda yang menjadi korban dari peristiwa bersejarah tersebut.
1. Puluhan ribu anak terpapar debu beracun tanpa pendataan memadai

ilustrasi sakit kepala pada anak (pexels.com/cottonbro) Saat Menara Kembar World Trade Center runtuh pada September 2001, sekitar 25 ribu anak tinggal dan bersekolah di kawasan Lower Manhattan. Lingkungan mereka tertutup oleh kabut beracun yang mengandung partikel beton, pecahan kaca, serta debu asbes selama berminggu-minggu.
Meskipun menghirup polusi yang sangat berbahaya, hanya sedikit anak yang terdaftar dalam program pemantauan kesehatan awal. Pengawasan medis pada masa itu lebih diprioritaskan bagi petugas darurat dan orang dewasa, sementara para keluarga umumnya lebih memilih untuk berobat ke dokter anak swasta.
"Kita harus mengidentifikasi dan meneliti seluruh populasi yang terpapar sesegera mungkin, baik dewasa maupun anak-anak," tegas spesialis paru dari NYU Langone Medical Center, Dr. Joan Reibman, dilansir CTV News.
2. Risiko penyakit kronis membayangi penyintas di usia dewasa

ilustrasi peristiwa 9/11 (NIST SIPA/Wikicommons) Minimnya rekam medis membuat para peneliti kesulitan dalam mengukur laju penyakit kronis pada anak-anak korban bencana tersebut. Risiko masalah kesehatan seperti disfungsi jantung, gangguan reproduksi, hingga kanker dikhawatirkan baru akan muncul saat mereka menginjak usia 30 hingga 40 tahun.
Paparan senyawa berbahaya seperti benzena dan debu asbes memicu kerusakan biologis jangka panjang, di mana pemeriksaan medis saat ini menunjukkan bahwa kemunculan kanker bisa terjadi pada usia yang lebih muda.
"Jenis kanker ini membutuhkan waktu 20 hingga 40 tahun untuk berkembang," jelas Ketua Bedah Toraks Icahn School of Medicine di Mount Sinai, Dr. Raja Flores.
3. CDC kucurkan dana riset untuk lacak kesehatan penyintas muda

Ilustrasi kantor CDC di Amerika Serikat (www.pbs.org) Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) membentuk tim riset khusus guna menutupi celah kekosongan data tersebut. Program senilai 50 juta dolar AS (Rp880,35 miliar) ini dijadwalkan mulai berjalan pada 1 Juli 2027 untuk melacak kesehatan warga yang masih berusia di bawah 21 tahun saat tragedi itu terjadi.
Studi ini secara khusus akan melibatkan para warga di kawasan Lower Manhattan dan Brooklyn. Para peneliti menghadapi tantangan tersendiri lantaran banyak penyintas yang telah berpindah tempat tinggal atau enggan mengingat kembali trauma masa kecil mereka.
"Saya ingin mencegah setiap dampak buruk kesehatan pada anak-anak ini," ujar Direktur Medis WTC Environmental Health Center, Dr. Leigh Wilson.





















