Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Petugas Evakuasi Jenazah di Gaza Terpapar Penyakit Berbahaya

kehancuran di Jalur Gaza akibat serangan militer Israel
kehancuran di Jalur Gaza akibat serangan militer Israel (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Para pekerja evakuasi jenazah di Gaza alami gejala penyakit serius seperti demam tinggi, kelelahan, dan sakit kepala akibat paparan bakteri dan gas beracun tanpa perlindungan yang memadai.
  • Israel mencegah masuknya peralatan pelindung ke Gaza, menyebabkan petugas pertahanan sipil bekerja tanpa perlengkapan pelindung dalam kondisi yang sangat keras.
  • Sekitar 10 ribu jenazah masih tertimbun di bawah reruntuhan Gaza setelah perang Israel meletus pada Oktober 2023, dengan kesulitan besar dalam operasi evakuasi akibat keterbatasan logistik dan teknis.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wabah penyakit serius mengancam keselamatan personel pertahanan sipil Gaza yang terlibat dalam proses pencarian jenazah di bawah reruntuhan. Banyak dari mereka dilaporkan terserang penyakit pernapasan dan gangguan pencernaan dalam beberapa pekan terakhir.

“Awalnya, kami mengira ini hanya penyakit musim dingin biasa. Namun, penyakit itu tidak kunjung sembuh. Tes dan konsultasi menunjukkan adanya kaitan antara penyakit tersebut dengan pekerjaan pengangkatan jenazah yang telah membusuk," kata Mohammad Al Midna, direktur hubungan masyarakat pertahanan sipil, kepada The National.

Ia mengungkapkan bahwa timnya terpapar bakteri dan zat pencemar yang berbahaya, terutama karena tidak dilengkapi peralatan keselamatan yang memadai.

1. Para pekerja alami gejala seperti demam tinggi, kelelahan dan sakit kepala

Kondisi pemukiman warga Jalur Gaza, Palestina, pada Oktober 2023. (Palestinian News & Information Agency (Wafa) in contract with APAimages, Damage in Gaza Strip during the October 2023 - 13, CC BY-SA 3.0)
Kondisi pemukiman warga Jalur Gaza, Palestina, pada Oktober 2023. (Palestinian News & Information Agency (Wafa) in contract with APAimages, Damage in Gaza Strip during the October 2023 - 13, CC BY-SA 3.0)

Mahmoud Bassal, juru bicara pertahanan sipil, mengatakan timnya dan para relawan lokal kerap bersentuhan langsung dengan jasad korban saat proses evakuasi. Pihaknya telah mendokumentasikan banyak kasus pekerja yang jatuh sakit setelah operasi tersebut.

"Mereka mengalami demam tinggi, kelelahan, sakit kepala, dan gejala lainnya. Meski kami tidak memiliki kapasitas untuk melakukan studi medis secara menyeluruh, para ahli memastikan bahwa paparan bakteri dan gas beracun tanpa perlindungan dapat menyebabkan penyakit serius.” ujarnya.

Mohammed Al Mughayir, direktur dukungan kemanusiaan di pertahanan sipil, melaporkan sedikitnya satu anggota badan tersebut, yang termasuk paling aktif dalam proses evakuasi jenazah, dipastikan meninggal dunia sebagai akibat langsung dari operasi tersebut.

“Para dokter sepakat bahwa penyakit darah yang dideritanya disebabkan oleh paparan kontaminan biologis secara terus-menerus. Kami tidak memiliki pendeteksi gas, masker khusus, helm yang layak, maupun alas kaki pelindung. Peralatan yang kami miliki berkualitas rendah dan tidak memenuhi standar keselamatan," jelasnya.

2. Israel cegah masuknya peralatan pelindung

Pengungsian paksa warga di Jalur Gaza. (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Pengungsian paksa warga di Jalur Gaza. (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Sementara itu, petugas pertahanan sipil lainnya, Qusay Sarsour, menderita penyakit ginjal selama 3 bulan terakhir, yang menurut dokter disebabkan oleh paparan gas beracun.

“Sejak perang dimulai, kami bekerja tanpa perlengkapan pelindung, dalam kondisi yang sangat keras. Saya sering merasakan tekanan di dada, seolah-olah saya kehabisan napas," ujar Sarsour

Ayman Abu Rahma, Direktur Kesehatan Preventif di Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan penanganan jenazah yang telah membusuk tanpa tindakan pencegahan dan peralatan yang memadai dapat menimbulkan dampak kesehatan serius, termasuk penyakit berbahaya yang menular melalui darah.

"Dengan prosedur dan peralatan yang tepat, risiko-risiko ini dapat dikurangi. Namun Gaza kekurangan sarung tangan, masker, kacamata pelindung, pakaian tahan cairan, dan disinfektan. Selama 2 tahun, blokade (Israel) telah mencegah masuknya peralatan ini, sehingga menyebabkan kekurangan yang parah," jelasnya.

Berdasarkan ketentuan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat (AS), pengiriman bantuan ke Gaza seharusnya ditingkatkan secara signifikan, termasuk pasokan medis. Namun, para dan pejabat kesehatan di wilayah tersebut menyatakan hal ini belum terjadi akibat pembatasan yang terus dilakukan Israel.

3. Sekitar 10 ribu jenazah diperkirakan masih tertimbun reruntuhan

Situasi di sekitar wilayah Jalur Gaza. (Pixabay.com/badwanart0)
Situasi di sekitar wilayah Jalur Gaza. (Pixabay.com/badwanart0)

Sejak perang Israel di Gaza meletus pada Oktober 2023, lebih dari 71 ribu warga Palestina dipastikan tewas, dengan sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Kementerian kesehatan dan pertahanan sipil Gaza memperkirakan sekitar 10 ribu jenazah masih terkubur di bawah reruntuhan, sementara beberapa ahli meyakini jumlahnya bisa mencapai 14 ribu.

Operasi evakuasi jenazah berlangsung di tengah keterbatasan logistik dan teknis, dengan kesulitan besar akibat struktur bangunan yang rapuh, reruntuhan padat, dan minimnya alat berat.

Menurut data PBB, hingga akhir September 2025, militer Israel telah merusak atau menghancurkan sekitar 83 persen bangunan di Gaza. Wilayah Palestina yang padat penduduk itu kini tertutup sekitar 61,5 juta ton puing, hampir 170 kali lipat berat Empire State Building di New York, AS, dikutip dari France24.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Update Banjir Jakarta: 9 Ruas Jalan di Jakarta Barat Masih Tergenang

24 Jan 2026, 11:25 WIBNews